
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Sikapnya Aneh!🐝
***
Mengapa cowok didepannya ini selalu keren? Mengapa cowok didepannya ini selalu membuatnya terpana? Bumi kesal, ia tak bisa menampik kalau pesona Langit selalu membuat jantungnya berdebar, Sial.
Bumi sempat tersihir, hingga akal sehatnya tersadar. Ingat! Langit punya Mini. tekan Bumi kuat-kuat dan ia tanamkan kembali dalam pikiran.
Bumi masih dengan posisi jongkok, berusaha tak peduli. Memalingkan wajah saat Langit membuka helm. Bumi tak ingin kembali jatuh dalam posisi Langit.
“Naik!” titah Langit sambil menoleh jok belakang motor.
Bumi melongo, apa-apaan pikirnya. Datang tiba-tiba dan meminta Bumi untuk naik.
“Mau sampai kapan lo disini?” Tanya Langit saat Bumi tak menanggapi ucapan pertamanya.
“Bukan urusan, kamu!” balas Bumi dengan sinis. Benar-benar suatu peningkatan buat Bumi. Sekarang ia ingin meminta hadiah pada readers karena keberhasilannya ini wkkkk, canda.
Langit menatap dengan datar, sikap Bumi mendadak aneh.
__ADS_1
“Cepetan naik, gue antar,” titah Langit lagi. Wajahnya menatap tajam Bumi.
“Ga mau, nanti cewek kamu marah,” balas Bumi tak kalah tajam. Ia juga menatap sengit Langit.
Mendadak wajah Langit berubah, sudut bibirnya terangkat namun hanya sedikit bahkan Bumi tak dapat melihat. “Kalo gue ga punya cewek berarti mau dong,”
Duaarrrr,
Perkataan Langit mengejutkan Bumi. Sungguh kata-kata langka yang pernah Bumi dengar dari mulut Langit.
Bumi menatap wajah Langit, ada yang aneh, mata cowok itu seperti basah. Apa Langit menangis? Ah Bumi rasa tidak mungkin. Pasti karena terguyur air hujan.
“Kalo cewek kamu tau, pasti dia marah. Trus Bumi dijambak-jambak,”
“Jangan sampai dia tau dong kalo gitu,” lagi-lagi perkataan Langit mengejutkan Bumi. Ia mundur beberapa langkah, takut jika dihadapannya sekarang hanya jelmaan jin yang menyerupai Langit.
Bumi semakin takut saat Langit turun dari motornya dan perlahan mendekati Bumi yang ketakutan.
“Emang ada setan seganteng gue?”
“Tuhkan benar, ini bukan Langit!” pekik Bumi membuat telingan Langit berdengung. Ia semakin mundur ke belakang.
Dan hap, Langit memeluk erat pinggang Bumi dengan cepat lalu mengambil tangan Bumi yang menggantung.
__ADS_1
Langit meletakkan tangan Bumi dipipinya, “Gue Langit dan gue nyata. Panggil gue Langit, bukan kamu,” ungkap Langit yang tak suka saat Bumi memanggilnya denga sebutan kamu. ia rindu saat Bumi memanggilnya dengan nama `Langit`.
Bumi berkedip kagum beberapa kali. Dilihat sedekat ini, wajah Langit terlihat semakin tampan. Bumi bahkan mengelus pelan pipi Langit tanpa sadar.
“Auuuu,” Langit meringis saat pipinya dicubit Bumi.
“Langit ngapain peluk-peluk Bumi?”
“Ga sengaja,” ketus Langit sambil mendengus. Sedikit kesal karena respon Bumi.
“Cepetan naik, lo mau sampai malam disni? Gue denger sih disini banyak penunggunya,”
“Eh-“ perkataan Langit membuat bulu kuduk Bumi meremang.
Glek, jika ia ikut Langit ia takut kembali baper. Namun ia lebih takut jika bertemu si penunggu.
Langit naik ke atas motornya, memakai helm dan siap memutar kunci. “Gue hitung sampai tiga. Ikut sama gue atau ikut sama penunggu. 1…2…,”
Langit menghitung sangat cepat. Tak member kesempatan buat Bumi berpikir. Ia tak ingin meninggalkan motornya.
“Motor Bumi ga akan hilang kan?” Tanya Bumi saat hendak naik ke atas motor Langit.
“Gampang,” balas Langit dengan santainya.
__ADS_1
Bumi naik ke atas motor dengan susah payah. Dan sekarang ia sudah duduk dibelakang Langit, namun cowok itu tak kunjung menyalakan mesin motor.
“Gue bukan tukang ojek,” ketus Langit sambil menarik kedua tangan Bumi dan melingkar tepat dipinngang Langit.