Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Ulat Bulu


__ADS_3

...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...


...Karena Kamu, Langit...


🐝Ulat Bulu🐝


***


Anggota Artas sedang berjalan beriringan sedang Langit berjalan mendahului. Mereka melangkah ke arah gudang untuk melakukan rapat dadakan.


Terdengar lantunan dangdut dari sebuah ruangan, kelas IPA 3A tempat perempuan aneh kalau kata Langit. Iya, kelas si pengganggu, Lebah kecil, Bumi Lathesia.


“Widih ada konser!” seru Selatan sambil melompat-lompat mengintip dari jendela.


Guntur juga ikut-ikutan ”Pawang Negara?”


“Bukan,” Selatan menggeleng. “Bukan salah lagi,” Guntur dan selatan terbahak bersamaan.


Apalagi yang kau tunggu


jelas terdengar suara Bumi menggema memenuhi ruangan, tak lupa sorak sorai serta tepuk tangan.


Jadikan aku halal bagimu


“Kelas Bumi asik, woy!” ucap Guntur.


“Pindah kelas lo sana,” Bara langsung menyahut.


“Ga bisa gue,” sahut Guntur lagi. “Takut kalian kangen,”

__ADS_1


Kalimat terakhir dari Guntur mendapat cibiran dari anggota Artas.


“Hampir gue muntah paku,” Selatan memegangi perutnya sambil berlagak layaknya orang sakit.


“Lah bagus kan bisa dijual, lumayan dapat cuan. Bisa buat beli cilok mang Mamat, ya kan abang Dya?” sahut Junai. Guntur melotot tak terima.


“Gue maunya cinlok sama si Ala bukan cilok mang Mamat,” sahut Selatan lagi.


“Siapa tuh Ala? Gebetan baru?”


“Bukan gebetan!” ucap Selatan ketus.


“Trus?”


“Alahai sayang,” teriak Guntur sambil cekikikan.


Ayah, ibu beri restu


Entah apa yang sedang mereka peragakan, karena Langit tak bisa melihat situasi di dalam karena daun pintu tertutup dengan rapat.


“Bos!” panggil Guntur.


“Hmmm,”


“Bawa ke penghulu,”


**


Waktu istirahat adalah waktu paling bahagia setelah jam pulang. Siswa dan siswi berkeliaran menuju tempat mengisi perut tak terkecuali Bumi dan Hujan.

__ADS_1


“Bumi ga ngerti, Hujan!” keluh Bumi, pasalnya ia tak memahami cara kerja ponsel terbarunya.


“Bumi mau balikin ke Hujan aja,” lanjut Bumi lagi seraya menyerahkan benda berbetuk pipih ke hadapan Hujan yang langsung dibalas pelototan oleh Hujan.


“Lo jahat, itu sama aja lo ga ngehargain pemberian gue!”


“Enggak gitu, tapi Bumi ga paham cara kerjanya,”


“Ga paham yang bagian mana sih, katanya pinter masa sama benda ginian aja ga bisa,”


Hujan mulai menjelaskan detail-detail dan fungsi dari benda yang katanya sebagai oleh-oleh itu kepada Bumi.


Bumi mengangguk-angguk dan ber-oh hingga mereka tiba dikantin.


Mata Bumi menyipit, memfokuskan lagi pemandangan yang sedang ia lihat.


Langit sedang menyuap satu buah bakso ke dalam mulutnya. Bukan, bukan itu yang membuat ganjil. Tapi perempuan di sebelah Langit. Sedang makan dengan malu-malu sambil tersipu. Bukan kaya si oyen tapi kaya ulat bulu.


Hujan juga sama terkejutnya dengan Bumi, gadis itu reflex memegang lengan Bumi.


“Langit,” lirih Bumi pelan tapi tak sepelan kakinya yang terus melangkah mendekat, tak menghiraukan panggilan Hujan.


“Ulat bulu yang menyamar jadi tikus, ngapain kamu duduk dekat Langit. Tempatnya ini harusnya jadi tempat Bumi bukan kamu. Kasian nanti Langit jadi gatel-gatel kalo dekat kamu!”


Mini hanya diam dan acuh, ia kembali menyantap makanannya.


Napas Bumi naik turun, sekarang ia sedang marah membara hingga sampai ke ubun-ubun.


“Kamu budek?” teriak Bumi lagi.

__ADS_1


“Bum udah, kamu tenang dulu, jangan bikin ribut,”


Bumi tak mendengarkan rintihan Hujan. Yang ada dalam otaknya sekarang hanya Siti Kusmini. Ia ingin menyeret perempuan itu pergi dari hadapan Langit.


__ADS_2