
...L.AN.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Dejavu🐝
***
Bumi bersembunyi dibeberapa buah sepeda motor yang berbaris rapi diparkiran. Ia sengaja pulang dengan langkah tergesa agar lebih dulu dari Langit dan tak menemui cowok itu.
Tapi ternyata malah sebaliknya, ia justru mendapati cowok itu sudah lebih dulu berada diparkiran dan sedang duduk di atas motor.
Bumi hampir jenuh menunggu, ia pikir dengan berdiam diri akan selamat.
“Motornya bagus, ya.Bumi suka,” bisik Bumi dengan suara pelan saat pemilik motor datang.
“Mau gue bonceng?”
Bumi menggeleng keras membuat cowok itu mendengus kesal. Lalu beranjak mengendarai motornya meninggalkan Bumi yang masih dalam posisi jongkok sambil berharap Langit tak menyadari keberadaannya.
“Gue kesana sekarang!”
Bumi mengintip ke arah Langit dan bernapas lega. Punggung cowok itu perlahan menghilang dari hadapan Bumi.
Sepulang sekolah, Bumi tak langsung pulang ke rumah. Ia mendapat pesan jika Aldo tidak masuk sekolah hari ini karena cowok itu sedang sakit.
Bumi juga sudah mengirim pesan pada Bunda jika ia pulang terlambat.
Bumi mengetuk pintu yang tertutup rapat. Baru 3 ketukan, pintu mendadak terbuka.
__ADS_1
“Eh, ada Neng Bumi. Masuk neng,” ajak Bi Nana yang sudah mengenal Bumi. Bumi masuk sambil menenteng kantong plastik berisik bekal camilan.
“Den, Aldo ada di atas, lagi sakit. Non silahkan ke atas duluan, bibi mau membuat minum dulu,” terang Bi Nana seraya menunjukkan letak kamar Aldo.
Bumi mengangguk dan melangkah dengan ragu, apa tak terlalu lancang masuk ke dalam kamar laki-laki?
“Ah, toh juga nanti Bi Nana akan menyusul,” Bumi membuang semua rasa takut dan mulai naik meniti tangga satu persatu.
Bumi sampai di depan pintu kamar Aldo. Sedikit menilik kondisi dalam ruang tersebut. Sangat rapi dan bersih. Di atas tempat tidur, terbaring cowok dengan infus yang menggantung di sisi.
“Kalo mau masuk, ya masuk aja kali, ngapain ngintip?”
Bumi gelagapan, ia ketahuan mengintip.
“Masuk!” titah Aldo lagi dengan pandangan yang tak melihat Bumi. Bagaimana bisa ia tahu kalau Bumi sedang mengintip?
“Buang jauh-jauh pikiran buruk lo. Gue bukan orang yang percaya hal mistis,”
“Terus kenapa kamu bisa tau kalo Bumi ngintip?”
Aldo tak menjawab dengan ucapan, ia justru menunjuk kaca yang berada dalam kamar. Letaknya tepat berhadapan dengan pintu kamar.
Bumi mengerti, pantas saja gumamnya.
“Itu apa?” Bumi menunjuk beberapa buah lukisan abstrak yang disusun rapi. Bumi yang penasaran perlahan mendekat, mengamati satu persatu lukisan yang indah.
“Kamu suka ngelukis?”
“Hmm,”
__ADS_1
“Wow, hebat banget. Bumi mau dong diajarin neglukis,” Bumi terus menatap lukisan dengan mata berbinar membuat Aldo terkekeh.
“Secepatnya, gue akan ajarin lo ngelukis,”
Bumi berbalik sambil berdehem gugup “Ga perlu cepat-cepat juga. Bumi belum ada alatnya, he he he,” Bumi tersenyum kikuk dan kembali duduk di samping Aldo.
“Kapan-kapan kan masih bisa,” pernyataan Bumi tak mendapat jawaban dari Aldo. Cowok itu hanya tersenyum simpul.
Mereka diam sejenak sibuk dengan pikiran masing-masing sampai kedatangan Bi Nana mengalihkan perhatian. Bi Nana masuk dengan membawa nampan berisikan satu gelas jus jeruk dan beberapa toples camilan.
“Kamu sakit apa?” Tanya Bumi sambil membuka kotak bekal yang ia bawa dan menyerhkan pada Aldo yang sudah mengambil posisi duduk sambil menyandarkan kepala pada gagang kasur.
“Buatan lo?” Tanya Aldo mengalihkan topik pembicaraan.
“Iya, Bumi yang buat. Kamu sakit apa?” Tanya Bumi kembali mengulang pertanyaan yang sama.
Ia rasa kemarin-kemarin cowok di depannya ini baik-baik saja.
“Enak, lo pinter masak?” Aldo mengunyah kue kering coklat yang Bumi bawakan.
Bumi kesal, berapa kali ia bertanya selalu saja di alihkan oleh Aldo. Ia diam dan memilih memandang jendela.
“Gue suka sama lo,”
“HAH,” Bumi hampir lari saking terkejutnya.
“Gue suka sama lo, Bumi Lathesia,”
Oh tuhan, Bumi merasa dejavu. Mimpinya menjadi kenyataan. Bukan mimpi dibagian ini yang ia inginkan menjadi nyata.
__ADS_1