Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Nafkah Bumi


__ADS_3

...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...


...Karena Kamu, Langit...


🐝Nafkah Bumi🐝


***


“Jangan pernah loe sentuh kalung gue,”


“Tapi Bumi…”


“Loe bisa ga sih sehari aja ga gangguin gue, ga ngejar-ngejar gue, ga ngiktin gue, dan ga ngusik hidup gue.”


“Kalau Bumi ga ngejar-ngejar Langit, ga ngikutin Langit dan ga ngusik hidup Langit nanti Langit makin jauh sama Bumi. Bumi ga mau itu terjadi.”


“Loe ga malu ngejar-ngejar cowok?”


Bumi menggeleng “Kata Bunda Bumi masa depan itu harus dikejar, Langit itu masa depan Bumi jadi Bumi harus ngejar Langit.”


“Bego!”


Habis sudah kesabaran Langit. Ia mengacak rambut beberapa kali. Bumi, bukan manusia sehingga ia tak mengerti bahasa manusia, mungkin begitu.


Pintu kelas sudah terlihat, setidaknya di dalam kelas Langit bisa menutup wajah dengan tas.

__ADS_1


Di kursi belakang sudah ada Bara, Guntur dan Selatan. Bara sedang asik dengan game di ponselnya sedang Guntur dan Selatan sedang asik menggibah.


“Masih pagi, Bos!” celetuk Guntur saat melihat Langit dan Bumi berjalan beriringan. Banyak para gadis yang memandang tak suka, terutama Priki. Cewek itu berada di kelas yang sama dengan Langit.


“Kampungan!” ejek Chika, kaki tangan Priki sambil menarik ujung rambut Bumi.


Bumi menengok, wajah Priki terlihat puas.


“Iri kok ngajak-ngajak sih?”


“Loe ga ngaca?” Priki mengambil kaca dari saku seragamnya.


“Widih, kaca kok dibawa kemana-mana? Takut make upnya luntur?”


Bumi mengangkat salah satu bibirnya. “Itu mascaranya jadi kaya belek,”


“ppftttt” Bumi mengulum senyum tertahan, wajah Priki merah, bukan seperti tomat tapi mirip kuah seblak.


Malu, Priki berlari ke arah toilet membersihkan belek yang melekat di kedua matanya.


“Makanya sebelum ngasih kaca kamunya juga ngaca!” teriak Bumi yang masih bisa didengar Priki. Sedang Chika dan Rosa pura-pura sibuk merapikan rambut lalu pergi melongos mengikuti Priki.


Lupakan masalah perbelekan, karena di depan ada Langit yang lebih enak dipandang.


Selatan dan Guntur terkekeh Bumi dilawan.

__ADS_1


Berbeda dengan ekspresi Langit, cowok itu justru diam. Sebuah benda berwarna biru melekat disalah satu telinganya.


“Langit!” panggil Bumi manja.


Kursi sebelah Langit sudah ditarik dan Bumi telah duduk dengan manis. Kotak bekal juga telah berada dalam pegangan Bumi. Cewek itu melepaskan earphone ditelinga Langit, membuat cowok itu mendengus.


“Buat Langit,” Bumi tersipu saat kotak tersebut berada dihadapan Langit.


“Apaan tuh?” celetuk Guntur sambil melirik.


“Nafkah dari Bumi,” balas Bumi.


“Pip pip pip pip calon mantu,” Selatan menimpali yang langsung mendapat lemparan buku dari Langit. “Brisik,” ungkapnya.


“Iya brisik,” Bumi ikut menirukan kalimat Langit.


Tringggggggg, suara bel berbunyi menandakan jam pelajaran akan segera dimulai dan dengan paksa bumi harus LDRan untuk sementara waktu.


“Langit, jangan lupa makan bekal dari Bumi ya,” Bumi mengusap tutup bekal sambil melirik memberitahu Langit bahwa ada pesan yang ia tulis.


Langit menyerngit kemudian mengikuti arah pandang Bumi.


“Sampai jumpa calon pacar,” Bumi mengusap puncuk kepala Langit lalu bergegas pergi meninggalkan Langit dengan rasa yang tidak bersalah.


Tangan Langit mengepal di bawah meja sedang Guntur dan Selatan terkekeh sambil memperagakan kembali drama yang mereka lihat barusan.

__ADS_1


Langit mengambil selembar kertas yang tertempel


NAFKAH DARI BUMI MEMANG GA TIAP HARI, TAPI CINTA BUMI SUDAH PASTI TIAP HARI


__ADS_2