Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Jangan Tanya Apapun


__ADS_3

...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...


...Karena Kamu Langit...


🐝Jangan Tanya Apapun🐝


***


“Turun!” perintah Langit setelah motor berhenti. Sebuah pekarangan yang luas menyambut mereka.


Di depan sana nampak pagar yang menjulang tinggi bahkan lebih tinggi dari rumah Bumi. Pagar yang biasa Bumi lihat saat melewati rumah Langit. Ya, mereka sedang berada di rumah Langit. Rumah yang dulu ingin sekali Bumi lihat.


Bumi masuk mengiringi Langit menuju ruang tamu. “lo tunggu disini, gue mau cari sesuatu,” dan lagi, Bumi hanya mengangguk. Mulutnya masih bungkam dan terasa bergetar. Ketakutan yang melanda tak berhenti meski mereka sudah aman.


Bumi mengecek ponsel yang beberapa kali ia rasakan bergetar.


Udah sampai rumah?


Pesan dari Aldo dan masih ada beberapa lagi bahkan cowok itu beberapa kali menelpon.


Bumi hanya melihat pesan tersebut dari depan layar lalu memasukkan kembali ponsel ke dalam saku tas.

__ADS_1


“Jam 9 nanti kita rapat dimarkas, ada sesuatu yang mau gue omongin, “ Langit datang dengan sebuah kotak p3k ditangan sebelah kanan dan satu lagi sedang menagngkat telepon.


Langit menarus ponsel di atas meja setelah mematikan sambungan telepon diseberang sana. Mereka duduk bersampingan, Bumi hanya menunduk. Ia yakin setelah ini pasti akan mendengar kata menyakitkan dari Langit karena sudah membuat rencananya gagal.


“A- ampun, jangan pukul Bumi. Bumi minta maaf, Bumi tadi ga sengaja liat Langit dan Bumi penasaran kenapa Langit bisa ada di sana,” Bumi makin menunduk sambil menangkup kedua tangan saat tangan Langit menyentuh leher belakangnya.


Dahi Langit menyerngit tak mengerti.


“Bumi minta maaf, Bumi janji ga akan ganggu Langit lagi dan ini adalah yang terakhir,” ucap Bumi lagi saat Langit hanya diam namun tangan cowok itu masih berada ditengkuk Bumi.


“Lo barusan ngomong apasih?”


“Siapa yang mau mukul lo?” Tanya Langit membuat Bumi menoleh ke arah tangan Langit yang perlahan menyibakkan rambutnya kesamping.


Pikiran Bumi berkelana dengan tubuh membatu.


Apa jangan-jangan Langit? Hah Bumi tak mampu berkata-kata. Bumi memejamkan mata, tak sanggup jika bersitatap dengan mata Langit. Jarak mereka sekarang semakin sangat dekat bahkan Bumi bisa merasakan hembusan napas Langit ditengkuknya.


“Auuu,” Bumi merasakan sesuatu yang basah dan dingin dibelakang leher. Pikirannya semakin jauh berpantasi. Bumi mencengkram erat seragam sekolah yang sudah kusut.


Sakit, yang juga Bumi rasakan. Dengan memberanikan diri membuka mata perlahan, Bumi menengok sekilas tepat wajah Langit.

__ADS_1


Kenapa wajah Langit? Tunggu, ada yang salah. Ini-


Bumi menggigit bibir, malu dengan pikirannya.


“La-Langit sedang apa?” setelah membersihkan dan membuang jauh-jauh akal yang tak sehat.


“Lo ga ngerasa sakit?” Tanya Langit sambil memperlihatkan kapas dengan bercak darah.


Ah, Bumi ingat.


Bumi juga terkena lemparan batu. Ia tak menghiraukan, karena rasa takut mengalahkan rasa sakitnya.


“Sa-sakit sedikit,” Bumi meringis pelan. Mengalihkan pandangan karena Langit masih membersihkan luka hingga mata Bumi menyorot sebuah foto besar yang tergantung di dinding.


Hanya ada Langit dan seorang lelaki paruh baya. Mungkin ayah Langit. Tapi yang jadi pertanyaan Bumi adalah mengapa tak ada foto orang yang telah melahirkan Langit.


Pandangan Bumi yang terus memperhatikan foto tertangkap Langit. Cowok itu juga mengikuti arah pandang Bumi.


“Langit, Bumi boleh tanya sesuatu?” Bumi menoleh menunggu jawaban. Rasa ingin tahu membludak memenuhi otak Bumi. Bagai sesuatu yang tak dapat ia pecahkan.


“Jangan tanya apapun, karna jika lo tau tentang gue, maka lo akan terluka!”

__ADS_1


__ADS_2