
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Jangan Sentuh! (2)🐝
***
Langit dan Bara sedang mendiskusikan sesuatu, mereka sedang duduk di gazebo yang lumayan lenggang. Hanya ada beberapa siswa yang berkeliaran, karena memang bukan jam istirahat.
“Gimana rasanya?” Tanya Bara mendadak setelah diskusi berakhir dan sekarang beralih menjadi wawancara.
Langit menatap lurus ke arah lapangan. Tak ada hal yang menarik disana, karena pikiran Langit menerawang, mengingat hal-hal manis yang ia dan Bumi lakukan.
“Ck, sesuka itu ternyata lo sama Bumi,”
Bara bisa melihat raut wajah Langit yang berubah berseri saat membahas Bumi. Cewek yang dulunya sangat Langit hindari.
“Dia manis,”
Hanya itu yang mampu terlontar. Langit tak mampu menjabarkan betapa Bumi begitu istimewa untuknya.
“Apa rencana lo selanjutnya?”
“Jaga Bumi,” jawab Langit dengan yakin. Tak ada sorot keraguan dalam kata yang ia ucapkan.
__ADS_1
“Lo harus hati-hati,”
“Hmmm, Bumi segalanya buat gue. Jika ada yang menyakiti Bumi, maka orang itu akan habis ditangan gue”
“Gue tau, hanya satu pesan gue. Jangan gegabah, atau lo akan kehilangan Bumi,”
“Ga akan pernah!”
Satu pesan masuk ke dalam ponsel Langit. Dari Guntur mengatakan bahwa Bumi sedang beradu mulut dengan Priki.
Pesan itu sontak membuat Langit dengan cepat menuju kelas bersama Bara.
Dari luar kelas, Langit bisa mendengar kata-kata yang Priki lontarkan. Tentu saja membuat emosi Langit membuncah.
Dan yang semakin mengejutkan adalah saat Priki ingin menampar Bumi, sedangkan Bumi tak sadar akan pergerakan Priki karena cewek itu sibuk memainkan ponsel.
“Jangan pernah lo sentuh Bumi sedikitpun, atau lo akan tau akibatnya,” geram Langit dengan mata yang nyalang menatap Priki membuat Priki meringsut ketakutan.
Berupaya melepaskan cekalan Langit yang terasa menyakitkan.
“Langit,” panggilan Bumi yang lembut mampu meluluhkan emosi Langit hingga cekalan pada tangan Priki terlepas.
“Lo ga kenapa-kenapakan?” Langit menangkup pipi Bumi dengan kedua tangan.
Perlakuan Langit membuat seisi kelas terpaku diam ditempat. Antara mimpi dan halusinasi, sama-sama tak nyata. Begitu pikir mereka. Memang kaya hal yang mustahil.
__ADS_1
Secara dulu sikap Langit pada Bumi selalu dingin, bahkan dengan terang-terangan Langit mengatai Bumi cewek murahan.
Bumi mengangguk “Bumi baik-baik aja kok,”
Langit menarik napas lega, entah sejak kapan ia menjadi sekhawatir ini pada Bumi.
“Gue peringatkan, jangan ada yang berani ganggu Bumi atau melukai Bumi! Jika itu terjadi, maka kalian akan berhadapan sama gue. Terutama lo!”
Langit menatap bengis Priki yang sudah mundur beberapa Langkah.
Dengan takut, Priki mengangguk.
“Ikut gue!” Langit menggandeng tangan Bumi, ingin membawa cewek itu pergi ke luar kelas.
Namun tangan Langit juga dicekal oleh Guntur, membuat Bumi juga ikut menoleh.
“Lo utang penjelasan sama gue,”
Langit melepas cekalan Guntur tanpa menjawab.
Sebenarnya Guntur tak yakin dengan apa yang ia lihat. kalung Langit yang dianggap benda pusaka dipakai oleh Bumi. Sedikit tak percaya, Guntur ingin memastikan reaksi Langit. Oleh sebab itu ia mengirimi pesan kepada Langit.
Biasanya Langit tak menanggapi, tapi sekarang Langit dengan cepat menghampiri Bumi.
Langit dan Bumi menghilang dibalik pintu, menyisakan segudang pertanyaan bagi mereka yang melihat.
__ADS_1
Bara tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala. Diantara puluhan siswa didalam kelas, hanya Bara yang bersikap biasa saja.
Makan tuh bucin, umpat Bara dalam hati.