Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Kebenaran


__ADS_3

...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...


...Karena Kamu, Langit...


🐝Kebenaran🐝


***


Tangan Bumi dicekal sangat erat oleh Sakti. Namun pandangannya tak tertuju pada Bumi, melainkan pada Langit. ia menatap tajam Langit sambil tersenyum penuh makna.


Bumi sekarang berada pada pertengahan adik kakak yang sedang bertatapan dengan sengit.


Suasana menjadi sangat panas, ditambah mereka sedang berdiri dibawah terik matahari.


Bugh, Langit melepaskan cekalan lengan Sakti dengan menendang tubuh Sakti hingga terpental.


Sebelum Sakti berdiri, Langit sudah menarik tangan Bumi untuk berlari menuju gerbang sekolah. Meski terkejut, Bumi berlari mengikuti sesekali menengok Sakti yang sedang memegangi dadanya.


Sakti mengedipkan sebelah matanya pada Bumi membuat Bumi hampir tersandung.


Dengan cepat Bumi mengalihkan pandangan dan semakin mengeratkan pegangan pada tangan besar Langit.


Mereka sudah lari cukup lama dan tiba diparkiran sekolah.


“Langit tadi—“ perkataan Bumi terhenti,

__ADS_1


“Kenapa keluar kelas? lo mau bolos?” Tanya Langit sambil membenarkan rambut Bumi yang berantakan. Diakhir, Langit menjentik pelan dahi Bumi.


“Eeeee, Pak Ridwan ga masuk!”


“Trus kalo Pak Ridwan ga masuk, lo mau berkeliaran di luar sekolah? Ngapain? Mau cari cowok?”


Cari cowok? Akhir dari ucapan Langit sangat asing ditelinga Bumi. bagaimana bisa ia berpikiran untuk mencari cowok jika hatinya saja sudah tertanam nama Langit.


Bumi memandang sepatu yang sedang ia pakai. Kakinya bergerak ke kiri dan ke kanan.


"Hujan tiba-tiba mau pindah!” adu Bumi kembali dengan mata berkaca-kaca. “Bumi sekarang ga punya teman!”


“Ada gue!”


“Bumi pengen teman cewek!”


Bumi menggeleng, ia ingin teman perempuan yang bisa diajak bercerita. Karena bagaimana pun antara cewek dan cowok itu berbeda.


“Beda, Langit! cowok mana ngerti!”


Bumi memegangi ujung seragam Langit yang memang tak dimasukkan. Kepalanya mendongak, meminta iba pada sang kekasih.


“Hujan suka sama Bara jadi bisa ga sih kalo Bara minta Hujan buat ga pindah?” Bumi mencoba peruntungan.


Langit terdiam, seakan ia mengetahui sesuatu. Matanya menatap manik mata Bumi.

__ADS_1


“Ga bisa!” tegas Langit membuat Bumi mencebik kesal meski sebenarnya juga ia tahu tak ada yang mampu menghalangi Hujan karena ia pindah bersama orang tua.


“Ada yang datang dan ada yang pergi. Lo ga bisa meminta seseorang untuk tetap tinggal disisi lo, kecuali gue!”


Bumi menunduk saat Langit mengusap liontin yang menggantung indah di lehernya.


Lalu mendongak karena Langit hanya diam tak bersuara. Tetapi sorot mata Langit seakan sedang memikirkan sesuatu.


Jika Bumi menjaga kalung itu dengan baik,maka ia juga harus menjaga Bumi dengan baik. Janji Langit yang ia sematkan dalam hati, dan tak mau ia ingkari.


“Langit kenapa?”


Langit mengangkat pergelangan tangan untuk melihat jarum jam yang berputar.


“Yuk makan, gue laper!” ajak Langit saat jam menunjukkan telah tiba waktu istirahat. Dan benar saja, setelahnya bel pun berbunyi.


Mereka duduk di salah satu kursi kantin, memesan menu yang sama dengan posisi bersebelahan. Sebenarnya ada yang mengganjal, sedari tadi ingin Bumi tanyakan.


Tapi hatinya ragu. Apa Langit akan marah jika ia membahas kejadian tadi? Karena dari sikap Langit, cowok itu seolah tak ingin lagi mengungkit kejadian barusan.


“Langit, Bumi boleh Tanya sesuatu?” Tanya Bumi dengan hati-hati.


“Apa yang bikin lo penasaran?”


Banyak! seru Bumi dalam hati tanpa mampu ia utarakan.

__ADS_1


“Sakti itu siapa? Apa benar dia Kakak Langit?”


“Hmmm,”


__ADS_2