Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Dendam Citra


__ADS_3

...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...


...Karena Kamu, Langit...


🐝Dendam Citra🐝


***


Plak, satu tamparan mendarat dipipi Langit.


Langit hanya diam sambil merasakan pipinya yang memanas bahkan terdapat bekas lima jari dipipinya.


Langit ingin melawan, namun teringat kembali kata-kata orang yang telah melahirkannya untuk menghormati wanita yang telah ia rebut suaminya.


Ya, sosok yang menampar Langit sekarang adalah Citra, ibu dari Sakti, orang yang harus Langit hormati sesuai keinginan terakhir Ibunya. Itu sebabnya Langit membenci Ibunya, mengapa ia harus menghormati orang seperti wanita di depannya ini. Langit benci karena ia harus dibelenggu dalam masa lalu.


Langit seolah tak berdaya dan ia selalu diinjak-injak bahkan ia muak ketika harus diam saat wanita di depannya ini dengan mudah dan tanpa rasa bersalah menghina Ibunya yang telah tiada.


Pe-lacur, wanita mu-rahan selalu terselip kata terkutuk itu. Bahkan bukan hanya Citra, Sakti pun juga ikut melontarkan kata menyakitkan itu ditambah dengan anak ha-ram.

__ADS_1


“Kamu itu harus tau diri! Ingat posisi kamu! jangan pernah berharap bisa mengambil alih perusahaan suami saya!”


Citra kembali mengingatkan Langit akan posisinya. Bukan salah Langit, ia bahkan tak menginginkan posisi tertinggi diperusahaan. Tapi Alex, ayah dari Langit dan Sakti itulah yang menginginkan Langit untuk meneruskan perusahaan.


Alex menilai jika Langit lebih berbakat memimpin daripada Sakti. Itu sebabnya Citra dan Alex semakin murka, bahkan Sakti menganggap jika ia selalu dibandingkan dengan Langit.


Langit lebih unggul, Langit lebih hebat, Langit lebih mampu. Sakti benci kata-kata itu.


Sedari kecil Sakti selalu mendengar kata-kata itu dari sang Ayah. Membuat ia merasa kehilangan kepercayaan diri dan sempat depresi.


Sehingga ia terobsesi untuk menghancurkan apapun yang Langit miliki.


“Posisi kamu itu jauh dibawah kami! Kamu itu hanya anak ha-ram yang lahir dari seorang perempuan mu-rahan! Kamu harus ingat itu!”


Rasanya makian pun tak cukup menggambarkan kemarahan yang ia pendam. Ia bisa saja membunuh Langit jika mau, tapi itu terlalu mudah.


Citra ingin anak dari perempuan yang ia benci menderita karena itu akan lebih menyenangkan. Tapi apa yang ia dapat sekarang, Langit justru tumbuh menjadi pemuda yang bisa menghancurkan ia dan Sakti.


“Citra cukup!” Alex berdiri diambang pintu, laki-laki itu baru saja pulang setelah rapat dengan direksi luar negeri.

__ADS_1


“M-mas Alex!” dipastikan Citra tak tahu menahu jika Alex datang karena rautnya yang cemas.


Alex masuk diiringi supir yang menyeret koper “Kamu keterlaluan, Citra!” bentak Alex.


Untuk yang pertama kalinya, Langit melihat ekspresi dari raut Alex. Biasanya laki-laki itu hanya menatap dengan datar, jarang sekali menampilkan ekpsresi.


“Selama ini aku selalu diam saat kamu menghina Langit. Bukan karena aku membela kalian, itu karena aku ingin kalian sadar! Coba lihat Langit, apa pernah ia melawan atau balik membentak kamu meski kamu selalu menghina dan memakinya!”


“Anak ini memang pantas untuk dihina, Mas! Ibunya—“


“Stop, kesalahan dimasa lalu tidak ada kaitannya dengan Langit! itu kesalahan aku dan Arumi! Jadi aku minta kamu untuk berhenti melampiaskan kesalahan kami pada Langit!”


“Kamu melindunginya Mas! Kamu bahkan selalu membandingkan Sakti dengan Langit! apa kamu tidak pernah berpikir jika itu melukai Sakti?”


Dua orang yang cukup berumur itu terus saja saling menyalahkan. Langit muak, ia ,mengambil tas yang tergeletak di lantai dan beranjak menuju kamarnya dilantai atas.


“Lihat! lihat bagaimana kelakuannya, Mas!” Citra menunjuk Langit yang pergi begitu saja.


“Pergi dari sini, Citra! Ini bukan rumahmu!”

__ADS_1


Usir Alex, ia lelah karena baru tiba dari perjalanan jauh. Saat pulang ia harus mendengarkan amarah dan makian dari Citra. Ia dan Citra memang sudah bercerai tak lama saat Arumi memberitahu bahwa Langit adalah anak dari Alex.


“Aku tidak akan tinggal diam, Mas! Aku akan balas semuanya!”


__ADS_2