
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Maaf!🐝
***
Brak!
Pintu terbuka secara kasar, engsel penahan pun terlepas dan jatuh berantakan. Tendangan yang kencang membuat benda penghalang itu terbuka secara paksa.
“Gak keduanya!” Langit berada di ambang pintu dengan wajah yang merah. Napasnya memburu dan jangan lupakan matanya yang menatap Sakti dengan tajam.
Tangan Langit mengepal saat melihat Sakti yang menindih Bumi dan baju yang telah lepas di badan Sakti.
Meski terkejut, Sakti berusaha menormalkan wajahnya. Sakti tak menyangka jika Langit akan datang secepat ini dan menemukan mereka.
Padahal Sakti sudah menyusun rencana agar Langit kesusahan mencari Bumi dan mengulur waktu dengan Citra yang datang ke rumah.
Tentu saja, kedatangan Citra juga salah satu rencana mereka untuk mengalihkan perhatian Langit. namun siapa sangka jika Langit akan bertindak lebih cepat. Dan sekali lagi, Sakti merasa jika Langit lebih unggul darinya.
__ADS_1
Prang, suara pecahan kaca terdengar nyaring dari lantai bawah, dipastikan sedang terjadi keributan.
Memang, karena anggota Artas sedang melawan orang-orang Sakti ditambah dengan beberapa anggota Vargos. Langit memang lebih dulu naik ke atas untuk mengambil kembali kepunyaannya yang Sakti ambil, Bumi-nya.
“Langit!” panggil Bumi dengan suara serak dan tertahan. Suara Bumi sangat lirih dan pelan, namun mampu menggelitik indera pendengaran Langit.
Langit menatap Bumi yang sedang menatapnya dengan sendu.
“Sial!” umpat Langit tak sengaja melihat tanda merah dileher Bumi.
Sakti tersenyum sinis dan turun dari kasur membuat Bumi dengan cepat bangun dan kembali mencengkram bajunya lebih erat. Ia terisak namun sedikit lega karena penyelamatnya telah datang.
“Gimana sama hasil karya gue!” Sakti terlihat bangga, ia menatap Bumi yang telah meringkuk di atas kasur.
“Manusia bi-adab! Lo menjijikan!” dan bugh, tepat sasaran dan membuat Sakti terpental beberapa meter.
Meski sudah berusaha menghindar, tapi Sakti seakan kehilangan kecepatan jika berhadapan dengan Langit.
Tubuh Sakti membentur meja, sudut bibirnya bahkan sudah berdarah. Tak cukup sampai disitu, Langit mengangkat Sakti untuk kembali memukul Sakti. Namun Sakti mampu menangkis dan balik memukul perut Langit.
Meski terasa sakit, Langit tak peduli. Amarahnya sedang diubun-ubun. Ia bangun dan menendang perut Sakti dan tangannya memukul kepala Sakti berkali-kali.
__ADS_1
Sakti sudah setengah sadar, begitu banyak darah yang mengalir. Namun itu tak cukup membuat Langit kasihan.
“Langit udah!” satu pelukan dibelakang Langit membuat Langit menghentikan aktivitasnya.
Tangan Langit menggantung, lebih saat Bumi terisak hingga membuat baju belakang Langit basah.
“Ini belum seberapa dibanding apa yang udah bajingan ini perbuat sama lo!” suara Langit mengencang menahan amarah. Ia kembali teringat tanda yang Sakti buat.
“Gue akan beri pelajaran yang setimpal karena dia udah ganggu punya gue!”
Iya, punya Langit. sekarang Langit ingin memberi garis yang tebal jika miliknya tak boleh diganggu.
Pelukan dibelakang Langit semakin mengerat, Bumi semakin terisak.
“Bumi ga mau! Kalo Sakti sampai kenapa-kenapa, nanti Langit bisa dilaporin ke polisi!”
Jelas Bumi membuat Langit tertegun. Perkataan Bumi benar, ia bahkan tak mampu lagi berpikir jernih saat melihat keadaan Bumi yang sudah acakan.
Langit memandang Sakti yang sudah pingsan karena pukulan keras yang ia berikan, lalu berbalik menatap Bumi. rambut Bumi sudah berantakan, ditambah mata cewek itu yang sembab.
Tangan Langit terulur untuk membenarkan beberapa helai rambut Bumi. lalu melepaskan jaket yang ia pakai untuk menutupi bahu Bumi yang terekspos.
__ADS_1
“Maaf!”