Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Berangkat Ke Pesta


__ADS_3

...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...


...Karena Kamu, Langit...


🐝Berangkat ke Pesta🐝


***


Bumi menghela napas dan meletakkan kembali sebuah kertas dengan warna biru di atas nakas.


Bumi ga punya gaun


Gampang, tinggal beli


Bumi ga punya uang


Alasan Bumi lagi, namun selalu saja perkataannya dibuat bungkam oleh Aldo.


Beberapa paper bag tergeletak di atas kasur. Bumi mengeluarkan isinya, ada dress, tas, alat make up dan juga sepatu. Sangat cantik, tapi Bumi sungguh enggan untuk pergi.


“Apa benar harus pergi?” Tanya Bumi sendiri pada bayangan cermin. Satu jam lagi acara dimulai, namun Bumi juga belum bersiap.


Satu notifikasi kembali masuk diponsel. Bumi yakin, pasti dari Aldo.


Dan memang benar, cowok itu kembali mengiriminya pesan untuk menemani pergi ke acara ultah Selatan.


Bumi kembali menghela napas, hati yang kuat ya, ga boleh nangis kalo liat Langit sama Mini.

__ADS_1


Bumi membenah hati yang berantakan, lalu mengambil gaun dengan warna biru muda. Menatap diri kembali di depan cermin. Gaunnya sangat cantik, tapi apa akan tetap cantik jika ia yang pakai.


Make up tipis Bumi poles di wajah. Ia tak terlalu pandai bersolek, tapi mengapa hasilnya cukup memukau. Aldo saja yang menunggu Bumi duduk di sofa dibuat terpukau dengan penampilan tak bisa Bumi.


“Bumi keliatan aneh ya?”


Aldo berkedip seraya menggeleng pelan “Cantik, lo sangat cantik,”


“Apa kita ga jadi pergi aja ya? Gue takut cowok-cowok disana pangling dan tiba-tiba suka liat lo,” ucap Aldo kemudian.


“Bunda, liat kelakuan anak temen Bunda,”adu Bumi pada Bunda.


Aldo pura-pura panik dan berujar “Bunda jangan bilang sama Mamih ya, aku godain anak Bunda. Nanti aku dijewer lagi sama Mamih,”


“Biar Bumi yang jewer Aldo,”


“Jangan belain dia Bunda!” Bumi terus menjewer telinga Aldo sambil berjalan menuju pintu setelah berpamitan dengan Bunda


Bunda yang melihat hanya menggeleng sambil tersenyum menghapus matanya yang tiba-tiba berkaca-kaca.


Di dalam mobil, Aldo menatap wajah pada kaca spion. Mengamati wajahnya dan menyisir rambut dengan ujung jari. Penampilannya sedikit ubah karena cewek disebelahnya yang duduk anteng tanpa bersalah sambil nyengir.


“Untung ketampanan gue ga luntur,” terang Aldo lalu membetulkan dasi yang sebenarnya sudah rapi.


Bumi merubah ekspresi seperti orang mau muntah, memegang perut lalu mengusap lengannya. Dibuat merinding tubuh Bumi.


“Idih, sok-sokan mau muntah, bilang aja lo terpana liat ketampanan gue yang naik level malan ini,”

__ADS_1


“Bisa jalan sekarang ga, Bumi takut lama-lama makin mual,”


“Jangan mual sekarang! Kita belum akad,”


“Ih ngaco, amit-amit,”


“Gue mau kok tanggung jawab kalo lo bunting,”


“Mohon maaf, perkataan anda kurang ajar, jadi silahkan kembali ke jalan yang benar atau sepatu akan melayang tepat pada wajah yang ada anggap tampan,”


Aldo terkekeh lalu perlahan mengubah posisi mendekat ke arah Bumi.


“Aldo ngapain?” Tanya Bumi dengan gugup sambil menyilangkan tangan ke depan.


“Menurut lo?”


“Bunda, Aldo ma--,”


Klik, sealbet akhirnya terpasang dengan benar. sedari tadi Bumi memasangnya secara terbalik.


Aldo mengulum senyum sambil mengusap puncak kepala Bumi lalu berkata “Pikiran lo mesum juga,” menggeser posisi dan Aldo memasang sealbetnya. Memutar kunci sambil tak hentinya tertawa dalam hati.


“Ngeselin,” Bumi kembali mengusap kepala, membetulkan rambut yang sedikit acak dan dengan cepat menyetel musik untuk menghilangkan rasa canggung.


Beralih menatap jalan dan berusaha mengatur emosi.


Dibalik wajahnya yang fokus menyetir, Aldo bisa melihat wajah Bumi yang merah padam. Tapi mengapa malah terlihat imut? Ah Bumi, mengapa cewek itu bisa membuat Aldo sesuka ini? bahkan tingkahnya yang absourd semakin menambah kesan cantik.

__ADS_1


__ADS_2