
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Lo Bisa!🐝
***
Bara dan Langit sedang duduk diteras markas, sekarang hanya mereka berdua yang tersisa. Anak yang lain sudah pulang lebih dulu.
“Kalo sayang, bilang. Kalo suka, terima. Hidup cuma sekali, jangan sampai lo kehilangan sesuatu yang dulunya sangat mudah lo gapai,”
Bara berujar sambil terus memainkan game diponsel. Langit menoleh sambil mengerutkan dahi, apa hubungannya sama game yang sedang mereka mainkan.
“Ibarat kaya soal fisika, memang bikin pusing tapi juga bikin lo penasaran.lo tinggal milih, mau nyelesain atau lo biarkan tergeletak di atas meja. Tapi saat lo milih nyelesain, bakal ada rasa lega dalam hati lo, banding terbalik saat lo biarin gitu aja,”
“Lo ngawur? Tumben ngoceh panjang lebar ga jelas,”
“Gue liat lo sama Bumi tadi sore, waktu kalian dikejar sama Vargos,” jelas Bara dengan santainya.
“Ck, lo liat tapi ga ada inisiatif buat nolongin, percuma,” balas Langit yang juga tak kalah santainya.
“Gue liat lo lagi ga butuh bantuan, berasa kaya main film action kan lo?”
“Yang ada tu cewek malah nyusahin, pusing gue,”
“Hhhh,” Bara terkekeh “ Tapi lo senyum, be-go,”
__ADS_1
Langit kembali menengok Bara yang masih duduk dengan santainya.
Langit kembali mengingat saat Bumi memeluknya dengan erat. Pelukan cewek itu hangat, dan Langit belum pernah merasakan pelukan sehangat itu. Dan entah mengapa, ada sesuatu dorongan yang membuat senyum terukir dibibir Langit. Dan sialnya, mengapa Bara harus melihat.
Langit menepisnya lalu lanjut memainkan game.
“Lo mau tau sesuatu ga tentang Bumi?” Tanya Bara, sedang Langit hanya diam.
“Gak!”
“Bumi lagi deket sama Aldo, gue sering liat pulang bareng juga,”wah ternyata Bara juga berprofesi sebagai mata-mata.
“Aldo?” Langit merespon, mangsa telah memakan umpan.
“Hmm, anak Artas. Yang kemarin bilang Bumi gemesin,” jelas Bara menekan meski Langit pun sudah tau Aldo yang dimaksud Bara.
“Ah, sial. Kalah gue,” teriak Langit. ia melempar ponsel ke atas meja dengan kasar saat game yang ia mainkan tiba-tiba kalah.
Bara melirik dengan datar sambil berujar “ Kalah bagian yang mana?”
**
“Kamu kok cepet banget sih sembuhnya?” Tanya Bumi saat Aldo yang kemarin terlihat sakit, sekarang sudah bisa beraktivitas seperti biasa, meski wajah cowok itu terlihat sedikit pucat.
“Gue saktikan?” si pede malah membanggakan diri dengan angkuh. Berjalan mendahului Bumi dan memutar tubuhnya hingga berjalan mundur.
“Kamu memang benar-benar keturunan dukunkan? Sekarang kamu ketauan! Cepat ngaku!”
__ADS_1
Ssttt, Aldo menaruh jari telunjuk dibibir Bumi.
“Kan kemarin udah ngaku, gue,” suara Aldo memelan.
“Kapan? Kenapa Bumi ga pernah denger?”
Pletak, suara jentikan didahi Bumi membuat ia mengaduh.
“Lo pikun ya? Masa baru sebentar aja udah lupa?”
Kedua insan itu kembali berjalan namun lebih pelan. Aldo memasukkan kedua tangan ke dalam kantong celana.
“Kamu bohong ya sama Bumi?” Bumi menunjuk Aldo sambil melotot. Ia memang polos, tapi kali ini ia tak akan bisa dibodohi.
“Beneran kemarin gue ngaku,” Aldo menghentikan langkah kembali lalu berbisik tepat ditelinga Bumi “Ngaku kalo gue suma sama lo,”
Aldo lari disepanjang koridor meninggalkan Bumi yang sedang kesal. Lihat saja, Bumi sedang mengeluarkan jurusnya, berusaha mengejar sambil mempersiapkan sebuah pukulan.
“Kena kamu!” Bumi berhasil menarik kerah belakang baju Aldo.
“Ampun, Bum. Gue ngaku, beneran suka sama lo ,”
Pukulan Bumi semakin cepat,sedang Aldo hanya tertawa sambil terus menerima pukulan Bumi meski mulutnya berujar sakit.
Aktivitas keduanya tak lepas dari pandangan Langit dan Bara yang saat itu sedang nongkrong digazebo. Mereka menunggu kedatangan Guntur dan Selatan yang sedang membeli beberapa camilan dan minuman dingin. Siapa sangka, tunggu menunggu malah berujung kekesalan saat Langit melihat Bumi dengan Aldo.
“Lo bisa jaga Bumi,” ucap Bara yang memahami keadaan Langit.
__ADS_1