Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Perpustakaan


__ADS_3

...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...


...Karena Kamu, Langit...


🐝Perpustakaan🐝


***


Sepulang sekolah, Bumi tak langsung ke rumah. Cewek itu malah menuju perpustakaan. Bukan tanpa sebab, Langit memintanya untuk menemui cowok itu sepulang sekolah.


Sebelum ke perpus, Bumi menuju toilet untuk memperbaiki bedak yang memang sudah tak melekat pada wajah.


Bumi memoles bedak dan tak lupa sedikit lipbalm untuk memberi kesan segar. Menyisir rambut dengan jari sebagai sentuhan terakhir.


Masih ada beberapa siswa yang masih berada dalam perpus. Tentu saja orang-orang yang rajin.


Bumi mengamati satu persatu meja, mencari sosok yang ingin ditemui.


Tak sulit, karena selalu keberadaan Langit menjadi sorotan. Bumi melangkah dengan anggun, meski dalam hati ingin cepat segera berada didekat Langit.


Langit sedang duduk di meja ujung sambil memainkan ponsel. Wajahnya sangat datar, Bumi tak bisa menebak Langit sedang marah, sedih atau bahagia karena cowok itu selalu bisa menyimpan dengan ekspresi yang datar.


“La—“


“Duduk!” titah Langit tanpa melihat ke arah Bumi. Padahal Bumi ingin membuat Langit terkejut, tapi cowok itu terlebih dahulu menyadari keadaan Bumi.


Bumi cemberut “Kok Langit bisa tau kalo ada Bumi?”


“Apa yang gak gue tau dari lo,”

__ADS_1


“Langit tau semua tentang Bumi? Bagaimana bisa? Apa selama ini Langit selalu cari tau tentang Bumi? Apa Jangan-jangan Langit….? Bumi tersipu malu dengan jalan pikirnya sendiri. Tak salahkan jika ia berprasangka jika selama ini Langit juga menyukainya.


“Ga usah geer. Gue tau semua tentang siapapun yang sekolah disini, tak terkecuali loe,”


“Masa sih, kok Bumi ga percaya. Langit bohongkan?”


“Gak!”


“Iya, Langit bohong. Kalo bohong nanti telinganya Bumi jewer,”


“Brisik!”


“Tapi Langit suka?”


“Gak!”


“Bilang aja kalo suka, ga usah gengsi. Nanti Bumi diambil orang,” ujar Bumi dengan percaya dirinya.


Langit menoyor jidat Bumi membuat kepala Bumi hampir terjengkal jika Langit tak memegangi kepala belakang Bumi. Bumi masih nyengir, berusaha menggoda.


“Mereka ga akan bisa ngambil lo. Karna lo nya aja ga bisa lepas dari gue,” balas Langit membuat Bumi bungkam. Tak mampu menampik karena yang dikatakan Langit memang benar.


Beberapa siswa laki-laki disekolah memang ada yang berusaha mendekati Bumi, namun tak pernah sekalipun Bumi gubris.


Hanya Aldo yang berhasil membuka celah dihati Bumi, namun hanya sedikit. Mereka semua tertutupi oleh pesona Langit.


“Kenapa diem?” Langit meletakkan ponsel yang ia pegam di atas meja lalu beralih menggoda Bumi. Keadaan sekarang berbalik.


“Langit diam, Bumi lagi marah,” Bumi melipat tangan di depan dada.

__ADS_1


“Marah kok bilang-bilang,”


“Biar dibujuk sama Langit. Cepetan bujuk Bumi biar ga marah sama Langit,” cetus Bumi masih dengan pendiriannya.


Cewek itu memutar badan menjadi membelakangi Langit. Berharap sang cowok membujuk dengan cara romatis seperti yang Bumi lihat dalam drama korea.


Hening, tak ada pergerakan dibelakang Bumi. Langit tak sedikitpun membujuk bahkan berbicara pada Bumi.


Bumi sedikit meilirik, memastikan jika Langit masih duduk dibelakangnya.


What! Bumi ingin sekali berteriak memaki. Karena apa? Karena Langit duduk dengan enteng sambil kembali memainkan ponsel. Bumi tak habis pikir dengan jalan pikiran Langit.


Bumi ingin diperhatikan, Apa salah?


Bumi kembali menyampirkan ransel dan dengan cepat beranjak dari kursi. Ia kesal karena seakan Langit tak menganggapnya ada padahalkan cowok itu yang memintanya kemari.


“Mau kemana?” cekal Langit saat Bumi ingin melangkah.


Bumi berbalik sambil menatap tajam Langit “Pulang!” jawab Bumi dengan cuek. Meskipun dalam hati takut jika sikapnya membuat Langit kembali dingin.


“Gue gak nanya itu,”


Dahi Bumi mengerut, bukankah tadi Langit menanyakan jika ia ingin kemana? Atau Langit sedang mempermainkannya.


“Gunung atau pantai?” Langit menunjukkan foto gunung dan pantai sekaligus. Ternyata cowok itu sedari tadi sedang mencari tempat yang pantas mereka kunjungi.


“Sama Langit?” Tanya Bumi yang dibalas anggukan oleh Langit.


“Pantai, Bumi mau pantai,” jawab Bumi dengan antusias. Melupakan jika tadi ia sedang marah.

__ADS_1


“Oke, weekend kita akan ke pantai,”


__ADS_2