
...L.A.N.G.I.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Impian🐝
***
Seminggu telah berlalu, Langit Bumi sedang mempersiapkan diri untuk ujian.
Mereka sedang belajar bersama digazebo sekolah. Tempat yang rindang dan sangat nyaman untuk belajar sekaligus bersantai.
Beberapa kali Bumi menekuk wajah karena Langit selalu membuatnya tak konsen untuk belajar. Cowok itu selalu saja mengajaknya bicara dan berulang kali menggoda Bumi karena merasa bosan.
Bumi merajuk, ia memberi soal untuk mengetes sejauh mana Langit mengingat pelajaran yang telah dipelajari.
“Gue ga suka belajar, Bumi. liat soal aja bikin gue mual!” Langit mengeluh saat Bumi memberikan satu lembar kertas berisikan soal yang telah ia buat.
Bumi melotot dan memberi petuah dengan tekanan agar Langit mau belajar.
__ADS_1
Meski terpaksa Langit tetap mengambil kertas dan mulai mengamati tanpa ada niat mengerjakan.
“Bumi tunggu 10 menit, Bumi mau ke kelas bentar ambil minum!”
Bumi melenggang meninggalkan Langit yang masih terpaku dengan soal di depannya. Ia tak suka belajar, berkutat dengan soal membuatnya mengantuk.
Andai jika ia Bara, jelas cowok itu pasti akan bahagia dengan wajah yang berbinar sambil mengerjakan soal. Entah Bumi dan Bara ini termasuk sekte mana.
Bumi kembali dengan botol minum ditangan, tak lupa juga coklat yang sudah disusun rapi di dalam toples.
Entah coklat pelet, semar mesem atau apalah itu, yang jelas membuat Langit ketagihan.
“Loh kenapa—ih bagus banget!” dibanding mengomel, Bumi lebih takjub dengan apa yang Langit buat.
Sebuah danau yang pernah mereka kunjungi, danau cermin. Langit menggambarnya persis seperti nyata meski hanya dengan pensil.
Bumi memandang Langit tak percaya “Langit yang gambar?”
Pletak, jentikan pelan di jidat Bumi “Emang ada orang lain lagi disini selain gue?”
__ADS_1
Balas Langit dengan pertanyaan membuat Bumi tersenyum hingga menunjukkan giginya yang rapi.
“Dibanding pelajaran, gue lebih suka ngegambar.” Jelas Langit, matanya menerawang pada lapangan besar di depan mereka.
Karena kelebihannya dalam bidang seni menggambar membuat Ayah Alex lebih ringan jika menyerahkan perusahaannya pada Langit. sebab perusahaan Alex bergerak di bidang interior. Alex menyadari bakat Langit dan yakin jika Langit lebih mengerti dibandingkan dengan Sakti.
Bumi menegakkan tubuhnya “Nanti kalo kuliah, Langit mau ngambil jurusan apa?” Tanya Bumi penasaran.
Netranya menatap Langit yang tengah memutar pensil sambil berpikir. Dahinya mengerut beberapa kali “Entah!” jawab Langit kemudian. Jawaban yang membuat Bumi tak puas.
Bumi ingin menyarankan Langit sesuatu tapi ia urungkan, rasanya terlalu ikut campur jika ia ikut memilih jurusan yang nanti Langit ambil.
“Lo mau ngambil jurusan apa?” Tanya balik Langit sambil merebahkan kepala pada tangan sebagai tumpuan.
“Bumi ga kuliah, he he he” Bumi tertawa untuk menutupi rasa kecewanya. Ia ingin sekali menempuh ke jenjang perkuliahan, tapi rasanya terlalu berat.
Jika pun ia bisa mengambil jalur beasiswa, tapi tetap saja Bumi merasa akan menyusahkan Bunda jika ada tugas praktek.
Jelas Bumi khawatir, ia ingin menjadi seorang dokter. Namun mengingat bagaimana biaya yang harus ditempuh oleh seorang dokter, rasanya akan sulit. Bahkan hanya dengan membayangkan saja membuat Bumi putus asa.
__ADS_1
Jika Bumi kuliah, maka Bunda harus semakin bekerja keras.