
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Bekal Bumbu Cinta🐝
***
Pagi kembali menyongsong, mentari merangkak perlahan. Cahayanya menyilaukan Bumi yang pagi itu sudah siap untuk berangkat.
Bumi memandang kotak bekal yang ia isi dengan camilan ringan. Ingin ia berikan pada Aldo agar impas karena kemarin cowok itu memberinya bekal.
Pagi ini, Bumi berangkat lebih pagi dari sebelumnya, ia tak ingin lagi berpapasan atau tak sengaja bertemu dengan Langit di parkiran, hatinya kembali berdenyut.
Bumi mengecek ponsel sekedar mengecek apakah cowok itu ada mengirimnya pesan meski tak ada notif. Mungkin saja pesan Aldo tak terbaca oleh Bumi.
Bumi menyerngit, tumben sekali tak ada pesan yang cowok itu kirim. Tak ambil pusing, Bumi kembali memasukkan ponsel ke dalam saku tas dan bersiap berangkat ke sekolah sambil bergumam untuk mengirimi pesan kepada Aldo untuk mengambil camilan yang telah ia buat.
Bumi ada sesuatu buat Aldo, diambil ya. Bumi tunggu!
__ADS_1
Tulis Bumi saat ia baru saja mendaratkan tubuh dikursi. Ruangan kelas kosong, ternyata ia datang sangat pagi, bahkan si ketua kelas yang biasanya datang awal pun masih belum menampakkan batang hidungnya.
Bumi mengambil earphone dan memasangnya di kedua daun telinga. Mencari musik yang terasa pas dengan suasana hati lalu menelungkupkan kepala di atas meja. Hening dan sepi, sama persis dengan suasana hatinya saat ini. Tak ada lagi orang yang dapat ia ganggu.
Satu persatu siswa mulai berdatangan, mengisi kursi masing-masing. Ada yang duduk bergerombol sambil menggibah dan ada juga yang asik membaca buku.
“Tumben lo datang lebih awal dari gue,” sapaan Hujan yang merasa asing saat melihat Bumi sudah tiba lebih dulu darinya.
Bumi menegakkan tubuh, tak memberi jawaban .
“Kok diam? Kesambet lo?” Tanya hujan sambil memegang dahi Bumi yang hanya dibalas cengiran.
“Lo beneran kesambet? Kok malah senyum-senyum sih? bikin gue merinding. Nih, liat!” Hujan menujukkan pergelangan tangannya.
“Bumi mau makan Hujan, hi hi hi,” Bumi memeragakan layaknya zombie yang ingin memakan mangsa. Membuat Hujan terlonjak kaget hingga menabrak tembok dibelakang.
“Auu, ish ga lucu,”
“Iya ga lucu, karena yang lucu itu cuma Hujan. Sahabat Bumi yang paling baik sedunia” puji Bumi tak terbantahkan membuat Hujan mencibir.
__ADS_1
“Beruntung kan lo punya sahabat kaya gue,” ucap Hujan dengan membanggakan diri.
“Ahahahaha,” keduanya tertawa bersamaan.
Dulu, siswa dan siswa di kelas sempat heran.
Hujan yang notabennya pendiam dan jarang sekali berinteraksi dengan sekitar bisa tertawa lepas jika bersama dengan Bumi. Namun setelah mengetahui sifat Bumi, wajar saja. Bumi memberi pengaruh menularkan tawa.
Bumi mengeluarkan kotak bekal “Ini buat Hujan. Bumi buat dengan rasa sayang ditambah bumbu cinta diberi paket tak akan sakit hati,” lalu menyerahkan pada Hujan.
“Ga ada yang rasa buat move on gitu?”
“Kalau itu sih Bumi juga mau,”
Bumi termenung sesaat, nasib mereka memang sama. Menyukai seseorang yang tak bisa digapai. Katanya sih, kalo satu circle itu nasibnya rata-rata sama.
“Kok lo bawa bekal 3 sih? Laper apa doyan? Atau itu tips buat anti sakit hati?” Tanya Hujan beruntun.
Bumi menggeleng lalu berujar “Buat seseorang,”
__ADS_1
Hujan menyerngit lalu mengangguk “Ah, yang bawain bekal kemarin ya? Lo udah tau orangnya? Siapa emangnya? “
“Aldo,”