
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Artas Vs Vargos🐝
***
Langit meremat kertas yang memang sudah lusuh. Membayangkan jika kertas tersebut adalah wajah Sakti.
Langit tak berniat masuk dalam permainan Sakti yang ia anggap murahan.
“Persiapkan diri kalian, malam ini kita akan mengakhiri permainan!”
Suara Langit menggema dengan lantang. Wajahnya mengeras menahan amarah. Sakti memang selalu mengganggu, entah sampai kapan cowok itu mengerti bahwa ia juga tak mau berada diposisi seperti ini.
Langit juga ingin hidup damai bersama orang yang ia sayang. Tapi Sakti seakan memberi garis besar kalau Langit tak berhak bahagia.
Sakti ingin Langit juga merasakan bagaimana hidup tapi dalam bayang-bayang seseorang, yaitu bayang-bayang atas masa lalu yang Langit tak tau salahnya dimana.
Anggota Artas mengangguk, pun Guntur yang merasa puas akhirnya keinginannya tercapai.
__ADS_1
Langit mengambil jaket Artas yang ia letakkan dipunggung sofa, lalu memakainya dengan lekat ditubuh.
”Jangan gegabah! Jangan sampai emosi mengendalikan lo! Gue ga ingin kehilangan teman malam ini!” pesan Bara sambil menepuk bahu Langit. Perwatakan Bara memang lebih tenang dibanding Langit.
“Gue juga ga minat mati ditangan Sakti!” Langit berujar dengan seringai, tatapannya mengarah pada pecahan kaca yang berserakan.
“Ingat ada Bumi!”
Perkataan Bara membuat Langit menoleh “Tentu!” balasnya sembari melangkah menuju pintu yang digembok dari luar.
Langit menendang dengan keras, tak perlu dua kali karena gembok sudah terlepas dan terhempas ke lantai.
Sebenarnya bisa saja Langit mengejar Vargos saat itu, tapi fokusnya lebih tertuju pada gumpalan kertas.
Suara deru mesin bersahutan, hari sudah sore dan sebentar lagi malam akan menyapa. Warna jingga pun sudah terlukis dibagian ufuk belahan langit.
“Wow, kita kedatangan tamu yang sangat spesial hari ini!”
Mesin motor Langit baru saja dimatikan, mereka baru saja tiba dipekarangan markas Vargos. Sebuah rumah yang pernah Langit datangi diikuti Bumi.
Sakti rupanya memang sudah mengetahui jika Artas akan datang, sehingga ia sudah duduk bersantai di depan markas sambil melipat tangan di atas dada.
__ADS_1
“Bagaimana kalau kita buat pesta penyambutan?” sahut Dika, cowok gondrong yang selalu berdiri di samping Sakti. Cowok yang membuat Guntur kesal karena pc k-pop.
“Gue ga minat masuk dalam permainan murahan lo! Gue kesini buat mengakhiri permainan konyol yang lo tawarkan!”
Sanggah Langit sambil mengikat slayer hitamnya yang kali ini bukan lagi dikepala, melainkan ditangan kiri. Ia menggigit kain itu dengan gigi untuk membuatnya lebih mengerat.
“Itu bukan tawaran, tapi perintah!”
“Kami disini, ga akan pernah mau diperintah oleh orang menjijikan kaya lo!”
Selatan menyahut, ia kesal saat melihat pengkhianat Artas berdiri bersama anggota Vargos. Junai, orang yang dekat dengan Selatan itu sekarang berubah menjadi seorang pecundang.
“Shit, kalian yang menjijikan. Mau-maunya dipimpin sama seorang anak ha-ram!” Dika menyahut sambil menunjuk ke arah Langit.
“Lo memang sialan!” Guntur menimpali tak terima.
“Lo yang sialan!” kali ini Sakti yang mengumpat sambil berlari ke arah Langit diikuti anggota Vargos yang lain.
Pertempuran pun dimulai, kedua geng sedang beradu kekuatan. Saling memperlihatkan kekuatan masing-masing, saling meninggikan ego.
Sampai mentari tenggelam sepenuhnya, berganti malam tanpa rembulan karena langit mendadak mendung dibalik kegelapan.
__ADS_1
Disamping itu, dibawah langit yang sama, seorang cewek berulang kali mengirimi cowoknya pesan karena mendadak khawatir.