
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Rumah Sakit🐝
***
Selama di perjalanan Bumi terus menggenggam tangan Bunda seakan tak rela jika pegangannya lepas.
Bumi tak lagi memperdulikan tubuhnya yang juga terasa sakit karena hatinya lebih sakit saat melihat kondisi Bunda.
Mengapa Bunda rela mengorbankan nyawanya demi Bumi? jika bisa, Bumi lebih memilih ia yang kecelakaan dibandingkan harus melihat Bunda seperti ini.
Memang benar, kasih sayang orang tua tiada batasnya bahkan kadang mereka memilih untuk sakit daripada harus melihat buah hatinya terluka, begitu jua Bunda.
Bumi memandang wajah Bunda, ia ingin kembali meminta janji Bunda. Janji untuk memakai seragam yang sama saat perpisahan kelulusan Bumi.
“Bunda ga boleh ingkar atau Bumi akan marah!” suara Bumi pelan karena terus tercekat ditenggorokan. Bahkan Bumi sudah cecegukan.
Sesampai di rumah sakit, Bunda segera dilarikan ke ruang icu, dokter menangani dengan cepat.
Bumi mondar-mandir di depan ruangan seraya terus menatap pintu yang masih tertutup dengan rapat.
Bola matanya tak henti-henti menatap. Memastikan jika dokter keluar, maka ia akan segera meminta penjelasan tentang kondisi Bunda.
__ADS_1
Ting!
Bukan suara pintu yang terbuka melainkan suara pesan dari ponsel Bumi.
Bumi hampir tak memperdulikan karena pikirannya terus terpusat pada Bunda bahkan ia juga lupa untuk mengabari Langit.
Namun pesan pengirim membuat fokus Bumi teralihkan.
Jauhi Langit!
Wajah Bumi memerah, siapa orang yang telah mengirimnya pesan dan berani sekali mengatur hidup Bumi.
Mau kamu apa?
KEJADIAN YANG MENIMPA LO DAN BUNDA LO ITU KARENA LANGIT. JAUHI LANGIT ATAU LO AKAN TAU AKIBATNYA!
Ancamnya kembali dengan huruf besar tanda jika ia tak main-main. Bumi gemetar, karena Langit? benarkah?
Bumi teringat kembali akan kata-kata Langit tempo.
Gue ancaman buat lo!
Ancaman seperti inikah yang Langit maksud? Bumi tiba-tiba merasa takut, tubuhnya merosot. Ucapan Langit kala itu memang benar, Bumi tak menyangka jika ancamannya akan membahayakan nyawa.
Glek,
__ADS_1
Bumi menelan saliva dengan berat, jika ancamannya menyangkut Bunda, Bumi harus berpikir kembali. Ia tak ingin kehilangan Bunda, namun jika harus berpisah dengan Langit rasanya Bumi juga tak sanggup. Ia dilema diantara dua pilihan yang sulit.
Bumi memandang ruangan tempat Bunda, sudah lebih 15 menit berlalu tapi rasanya sangat lama buat Bumi. ia tak mampu berpikir jernih disituasi seperti ini hingga kedatangan seseorang membuat Bumi membatu.
“Lo gak kenapa-kenapa?” Tanya Langit.
Iya, Langit mengetahui keberadaan Bumi karena Langit pernah memintanya untuk berbagi lokasi karena tak ingin kejadian seperti kemarin terjadi.
Beruntung saat itu Bumi sempat mengirim lokasinya pada Langit, jika tidak entah apa yang akan terjadi.
Bumi diam, matanya tertuju pada tangan Langit yang sedang menggenggam tangannya dengan erat lalu perlahan naik menatap wajah Langit yang khawatir.
Bumi bimbang, pesan yang ia terima menggoyahkan Bumi untuk menetap di sisi Langit.
Harus berakhir seperti inikah? Bahkan Bumi rasanya belum memulai dengan sebuah hubungan yang resmi karena hubungan mereka tak ada status yang jelas.
Bumi sering menanyakannya namun jawaban Langit selalu sama. Lo milik gue dan gue milik lo!
“Bunda akan baik-baik aja, percaya sama gue!” Langit membawa Bumi ke dalam pelukannya.
Tangan Bumi menggantung, ia ingin membalas pelukan itu dan menumpahkan rasa takutnya. Tapi—
Lama Langit memeluk Bumi tanpa ada balasan, hingga Bumi tiba-tiba melepaskan pelukan mereka dan mendorong tubuh Langit.
Deg!
__ADS_1