
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Mimpi Nyata🐝
***
Sudah satu minggu berlalu, hati yang patah dengan perlahan membaik. Meski tak bisa Bumi pungkiri, ia rindu.
Rindu sosok yang selama ini ia ganggu. Wajah dingin Langit dan suara bass cowok itu begitu membekas di ingatannya.
Bumi menyibukkan diri dengan membantu Bunda menjahit dan mengantar beberapa pesanan baju setelah pulan sekolah.
“Jangan sampai kotor, dan harus sampai dengan utuh. Ingat! Ini klien istimewa Bunda, jangan sampai mengecewakan,“ titah Bunda sambil memasukkan baju ke dalam plastik putih.
Bumi mengangguk sambil terus mengingat alamat yang Bunda tulis pada sebuah kertas.
“Bumi berangkat, Bunda,” Bumi mencium punggung tangan Bunda sambil menenteng plastik dan meletakkannya di jok motor.
“Belok kanan, lalu kanan lagi, persimpangan belok kiri sampai mentok. Rumah pagar biru dengan desain gambar naga,” Bumi kembali mengecek apakah ia telah sampai di tempat tujuan.
__ADS_1
“Benar ada naganya,” setelah dicermati, diteliti dan ditelaah dengan benar. Bumi sampai pada tujuan.
Motor dimatikan dan Bumi menenteng plastik putih sambil menekan bel di ujung pagar tembok.
“Mau cari siapa?” laki-laki paruh baya menyembul saat bel beberapa kali Bumi tekan.
Mengangguk dengan sopan dan mulai melihat rumah mewah saat Bumi dipersilahkan untuk masuk. Sempat heran, orang-orang emang kerjanya apa sampai punya rumah sebesar istana?
“Mau cari siapa?” pertanyaan yang sama dengan orang yang berbeda. Kali ini ibu berdaster yang menyambut Bumi. Jawaban yang sama pun Bumi berikan, ingin mengantarkan pesanan baju.
Bumi duduk di sofa empuk dan tak lama disuguhkan secangkir teh beserta camilan, tak tanggung emang padahal ia niatnya hanya sebentar.
“Tunggu sebentar ya Non, ibunya lagi diluar,” terang Bibi menjelaskan, Bumi mengangguk seraya meminum teh. Tak sungkan, karena ia haus.
Foto yang di ambil setelah Langit tanding basket. Mini yang tersenyum bersandar pada bahu Langit. Meski dengan ekspresi datar, Langit tetap terlihat tampan. Dan tentu saja membuat banyak cewek iri, ditambah dengan caption yang Mini tulis. My Boyfriend.
Hati Bumi semakin tercubit saat melihat beberapa komentar yang mengatakan jika mereka cocok, namun ada juga yang berkomentar tak sejalan. Contohnya komentar dari Priki.
Lama, hingga Bumi tak menyadari jika seseorang sedari tadi menatapnya dengan intens. Mengamati setiap inchi dari wajah Bumi.
“Aaaahhhh….Kamu siapa?” Bumi terjungkal kebelakang karena terkejut jarak mereka yang sangat dekat. Beruntung ujung sofa empuk.
__ADS_1
Bumi mengingat seperti tidak asing, wajah cowok di depannya sangat familiar.
“Hai my little princess,” ujarnya seraya mengangkat satu alis dengan menggoda, tak lupa senyum tipis juga ia berikan.
“Ga nyangka bisa ketemu disini,” tuturnya lagi, semakin membuat Bumi bleng.
Aku dimana? Gumam Bumi dalam hati, tak mengingat. Mengamati sekitar, dan Bumi merasa ia kembali bermimpi. Dan cowok kurang ajar ini kembali masuk dalam mimpinya.
“KAMU GA ADA KERJAAN YA? SEENAKNYA MAIN MASUK MIMPI ORANG!” Bumi mendorong tubuh cowok di depannya dengan keras sekeras teriakan yang ia lontarkan.
“Wow, Princess. Tenaga lo kuat juga, its oke, ga papa, ga penting karena ucapan lo barusan lebih penting,” lengan Bumi ditarik hingga tubuh mereka duduk berhimpitan.
“Lo mimpiin gue?” tanyanya hingga kornea keduanya bertemu.
"Bumi mau bangun,”sungut Bumi dengan kesal.
Pletak, jentikan pelan di jidat Bumi menandakan ia sedang tidak bermimpi.
“Lo ga mimpi, gue nyata,”
“Hah?” bagaimana mungkin orang yang ada dalam mimpi bisa menjadi nyata. Bumi bergidik ngeri.
__ADS_1
“Gue Aldo,”