
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Kegaduhan Markas🐝
***
“Masa tuh cewek nipu gue, gue udah transfer uang 3 jeti buat pc. Tau-taunya dia malah jual tuh pc sama si rambut topi dengan harga yang lebih tinggi. Harga diri gue serasa diinjek-injek!”
Guntur bercerita tentang kekesalannya karena pc yang tak mampu ia raih.
“Guntur kurang usaha kali!” Bumi ikut menimpali. Sekarang mereka sedang berada di markas Artas.
Langit mengajak Bumi untuk bergabung dengan mereka setelah selesai mengantarkan orderan Bunda. Bukan tanpa maksud, Langit mengajak Bumi agar cewek itu bisa membual bersama Guntur karna kegesrekannya rada-rada mirip.
“Gue udah usaha, doa juga udah!”
Guntur menyahut dengan menggebu. Ia kembali menyuap satu sendok mie instan yang ditaburi banyak bawang goreng.
“Doa apa emangnya?” Selatan ikut menimpali. Ia juga memesan satu mangkok mie instan namun berbeda dengan Guntur. Seperti biasa, cowok itu selalu memesan jeje.
__ADS_1
"Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannar"
Bara memandang Guntur dengan wajah datarnya, doa macam apa gumamnya. Seperti doa makan.
“Itu doa makan be-go!”
“Gue taunya cuma doa itu. Daripada ga doa sama sekali, ya mending doa yang gue bisa, ha ha ha!”
Tawa Guntur memenuhi seisi markas. Hanya tawanya seorang, karena yang lain sedang mengumpat tak terima.
Bagaimana mungkin hanya doa makan yang ia bisa, jadi selama ini ia beribadah memakai doa apa?
Bumi mencibir dan kembali menerima suapan buah dari tangan Langit.
“Gue Gunadhya Guntur berjanji ga akan kenal yang namanya cinta dan ga akan ada bucin dalam kamus kehidupan gue, “
Guntur mengepalkan tangannya di depan dada bagai orang yang sedang melantunkan lagu kemerdekaan dengan khusuk.
“Kenapa? Bucin enak tau!” Tanya Bumi sambil tersenyum dan kembali meminta Langit untuk kembali memasukkan potongan buah ke dalam mulutnya.
Guntur mendengus, ia memutar tubuh. Lebih memilih memandang Selatan dibandingkan harus memandang Bumi dengan Langit di depannya.
__ADS_1
“Emang bener, enak!” kali ini Bara yang bersuara.
Uhuk, Guntur tersedak mie yang baru saja ia masukkan ke dalam mulut, membuat Selatan yang berada di depan terkena imbasnya.
Bumi pun juga ikut melongo, kunyahannya terhenti dan memandang Bara yang sedang menatap ponsel. Hampir tak percaya, apa benar yang berbicara tadi adalah Bara atau ada makhluk lain yang memiliki suara mirip seperti Bara.
“Bara lagi sakit ya?” bisik Bumi sangat pelan pada Langit. Bumi memang belum mengetahui jika Bara memiliki kekasih.
Langit acuh sambil mengangkat kedua bahunya, lalu beralih memandang Bara. Disisi itu, ada Guntur dan Selatan yang sedang berdebat karena baju Selatan yang mendadak kotor karena kuah mie.
Hari sudah menjelang senja, mereka memutuskan untuk bubar dan pulang ke rumah masing-masing. Bumi melambai saat motor Langit semakin menjauh dari pekarangan.
Dari kejauhan, Bumi melihat Bunda yang baru saja turun dari ojek online. Bumi menunggu hingga Bunda telah menapakkan kaki di teras.
“Bunda darimana?”
“Bunda abis anterin orderan,”
“Orderan yang mana?”
Bumi menatap tangan Bunda yang bergetar menandakan bahwa Bunda merasa takut.
__ADS_1
“Bun—“
“Yuk masuk, udah sore!” ajak Bunda sambil masuk mendahului Bumi. Dari belakang, Bumi menatap punggung Bunda. Entah mengapa perasaannya menjadi tak tenang.