Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Artas Vs Vargos 2


__ADS_3

...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...


...Karena Kamu, Langit...


🐝Artas Vs Vargos 2🐝


***


Suara gaduh mengalun secara bising malam itu. Teriakan, umpatan juga tak luput dalam pertarungan. Selatan bertarung dengan Junai, Guntur dengan Dika, Bara tanding 1 lawan 2 dengan anggota Vargos, sedang Langit jelas melawan Sakti.


“Ternyata lo tipe yang suka nusuk dari belakang!” geram Selatan sambil menepis tangan Junai yang ingin menghantam wajah manisnya.


Tentu saja tak akan Selatan biarkan, ia lupa akan trik yang Langit ajarkan. Sehingga ia menyerang balik Junai yang juga berhasi ditepis olehnya.


“Dan kalian tipe orang be-go yang naïf!” Junai balas mencaci.


“Sialan!” emosi Selatan memuncak. Tak ingatkah Junai jika anggota Artas sering membantu pengobatan orang tuanya yang sakit. Namun apa balasan cowok itu? Lebih memilih menjadi pengkhianat.


Tak jauh dari Selatan berada, Guntur juga sedang meluapkan emosi.


“Jangan pernah lagi lo dekat-dekat sama Jingga! Dia cewek gue!” Dika membuka suara sambil mencengkram kerah baju Guntur.

__ADS_1


Guntur tak tahu menahu, bahkan ia baru tau jika nama cewek itu Jingga. Guntur bahkan tak peduli siapa nama cewek itu. Yang ia ingin hanya pc k-pop.


“Oh jadi namanya Jingga?” Guntur menghempas kasar tangan Dika lalu menepuk kerah yang baru saja dipegang Dika.


“Jangan lagi lo sebut nama dia, Gue ga sudi!”


“Ck, segitu sukanya lo sama dia? Gue aja ga peduli mau namanya Jingga, Merah, Kuning atau bahkan Hijau. Gue ga peduli! Yang jelas, cewek lo itu PE-NI-PU!” tekan Guntur membuat emosi Dika meluap lalu mengajar Guntur tanpa ampun.


Dika ingin melukai tubuh Guntur yang menurutnya sok kegantengan.


Bara? Cowok itu melawan dengan tenang, menangkis dan menahan serangan lawan dengan sempurna. Bahkan sedikitpun tubuhnya tak ada yang bisa dijangkau oleh lawan.


“Gue udah muak sama lo! Bahkan liat lo aja bikin gue jijik!”


Tangan Langit mengepal menahan amarah, bahkan urat-urat menjalar disepanjang pelipis.


“Mau gue bantu biar lo ga liat lagi?” Langit menyahut, membuat emosi Sakti yang sudah memuncak semakin menggila.


Perkataan Langit selalu membuatnya bungkam.


“Lo emang di didik tanpa tata krama! Wajar, ibu lo aja kaya gitu!”

__ADS_1


“Ck, lo selalu menghubung-hubungkan gue dengan masa lalu. Hati lo itu perlu dibasuh sama kembang 7 rupa biar ga dendaman!”


Langit tersenyum mengejek, puas melihat wajah Sakti yang semakin memerah.


“Mati lo, sialan!” Sakti berupaya menendang perut Langit.


Pergerakan Sakti mampu diperkirakan Langit, sehingga cowok itu dengan cepat menghindar. Meski hampir tersungkur, Sakti berbalik dan berniat melawan Langit dari belakang.


Sakti mengangkat tangan, namun kembali dengan cepat Langit berbalik dan mencekal lengan Sakti dengan kuat hingga Sakti kembali terhempas.


Sakti terus-terusan menghajar sedang Langit hanya menangkis. Itu adalah trik dari Artas. Membiarkan lawan mereka terus menghajar, membiarkan tenaga lawan habis, lalu setelah itu mereka akn balik melawan.


Sakti kewalahan, keringat mengalir deras dari kepala hingga jatuh menetes di atas tanah.


Sakti menggeram, ia belum melukai Langit sedikit pun. Bahkan Langit masih berdiri dengan keren sambil menatap tajam ke arah Sakti. Hanya bajunya saja yang Nampak kusut di beberapa tempat.


Sambil menarik napas, mata Sakti menyapu seluruh anngotanya yang juga kewalahan bahkan sudah banyak yang terluka.


Dibalik minimnya penerangan, Sakti melihat bahwa Langit mengangkat sebelah sudut bibirnya.


Sialan

__ADS_1


__ADS_2