
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Terasa Melelahkan🐝
***
Bumi hampir tak percaya dengan apa yang ia ucapkan pada Langit.
“Aww,” ringis Bumi saat beberapa kali menepuk pipinya sendiri. Antara salah dan benar, Bumi kembali meyakinkan hati bahwa yang ia lakukan sudah tepat.
Menjaga jarak dan membangun benteng agar tak lagi berharap pada Langit. Meski sulit, Bumi yakin dengan perlahan ia pasti bisa.
Mungkinkah? Bahkan sekarang saja pikirannya semakin kacau, bahkan ia membatalkan untuk menenui Aldo dan kembali ke kelas meski beberapa kali cowok itu menelpon dan mengiriminya pesan. Bumi tak ingin menjadi semakin rumit saat suasana hatinya buruk.
Bumi juga sengaja pulang telat untuk menghindari Langit dan Aldo. Setelah satu jam berlalu, Bumi baru menampakkan diri. Sekolah sekarang sunyi, hanya beberapa siswa yang berkeliaran karena ada kegiatan ekskul.
Mata Bumi mengamati setiap motor yang terparkir, beruntung motor Aldo dan Langit tidak ada yang berarti cowok itu telah pulang dari sekolah.
Bumi mengambil motor yang ia parker diujung sekolah, terdapat pohon mangga yang besar.
__ADS_1
Bumi bernapas lega, akhirnya ia bisa pulang.
Dering ponsel kembali berbunyi, sudah dipastikan Aldo yang mengirim pesan.
Bumi memakai helm, dan bersiap menarik tuas. Motornya terasa berat. Sempat terpikir ia diikuti penunggu pohon mangga.
“Bumi mohon, jangan ikuti Bumi. Bumi minta maaf kalo buat Mba kun ke ganggu. Bumi ga sengaja. Bumi ga bakalan parkir motor disitu lagi,”
Bumi mengoceh sambil membawa pelan motornya yang benar-benar terasa berat. Beruntung matahari sedang berlibur sehingga cuaca tak sampai membakar kulit.
“Mba Kunti kenapa masih ngikutin Bumi sih?” Tanya Bumi kembali dengan suara yang lantang. Karena motornya masih saja terasa berat, padahal Bumi sudah berkali-kali meminta maaf.
“Bundaaaaaa!” Bumi memanggil Bunda yang sudah dipastikan tak akan didengar Bunda.
“Mba, itu bannya bocor,” jelas lelaki paruh baya sambil menunjuk ban belakang motor Bumi yang sudah tak ada angin.
“Hah!”
“Ban motor Mba bocor,” jelasnya kembali lalu melenggang pergi meminggalkan Bumi saat kata terimakasih terlontar.
Bumi berhenti lalu memandang nanar ban roda duanya. Ternyata benar, pantas rasanya berat saat Bumi mengendarai.
__ADS_1
Bumi memandang sisi jalanan, tak ada penambal ban. Terpaksa ia harus menyeret motor kesayangannya.
Angin kencang berhembus dari belakang, langit mendadak semakin hitam. Dingin menusuk kulit bersamaan dengan turunnya air hujan. Mengguyur dengan bebas tanpa permisi ke tubuh Bumi.
Dengan cepat, Bumi menyeret motor mencari tempat untuk berteduh.
Bumi mengusap kedua lengan karena dingin. Ia sendiri, berjongkok memandang langit yang tak juga berhenti menumpahkan rahmat.
Dering handphone mengalihkan perhatian Bumi, satu panggilan dari Bunda.
Iya Bunda, Bumi lupa bawa jas hujan. Ini lagi neduh, mungkin sebentar lagi.
Panggilan berakhir, Bumi memandang layar ponsel. Sudah jam 5 lewat.
Mengapa hari ini terasa berat, Bumi kembali mengingat rentetan kejadian. Saat ia tak sengaja bertemu Langit dan kata cewek murahan yang Mini katakan masih saja membekas. Kejadian ban bocor dan sekarang ia diguyur hujan.
Hari semakin larut, Bumi ini termasuk penakut.
Bumi memandang ke belakang tempat ia berteduh. Sebuah warung kosong tak ada orang semakin membuat Bumi ingin pergi.
Bumi berharap penolong datang seperti pangeran berkuda putih dengan baju alumunium.
__ADS_1
Sampai sebuah motor hitam yang Bumi sudah kenal pemiliknya berhenti tepat di depan Bumi.