
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Sebuah Foto🐝
***
Lima hari telah berlalu, hati yang kelam masih saja kelabu. Rasa sakit akan kepergian tetap membekas dan rasanya tetap sama. Sendiri bersama sepi, dalam alunan jingga dipenghujung senja.
Ternyata kamu dan senja itu sama
Iya, sama-sama indah namun hanya bersifat sementara
Harusnya aku sadar, jika pikatmu dapat memabukkan
Membuatku terbuai akan rasa yang semu
Membuatku terhempas saat badai menerjang Memporak porandakan seluruh asa hingga ke batas relung jiwa.
Bumi duduk di kursi depan teras dengan ditemani secangkir teh yang sudah dingin karena terlalu lama dianggurkan. Meski begitu, Bumi tetap menikmati cairan itu sedikit demi sedikit.
__ADS_1
Mengingat kejadian 2 hari lalu, saat pembagian kartu kelulusan.
Bumi mengambilnya sendiri, iya dia bertekad hanya untuk mengambil kartu kelulusan untuk penunjangnya bekerja. Meski hatinya menampik, tapi Bumi tak bisa mengelak jika ia juga ingin melihat Langit meski sebentar.
Namun hasilnya nihil, Bumi tak mendapati Langit meski hanya sedetik. Cowok itu menghilang seperti permintaan Bumi.
Jika ditanya apa Bumi benci Langit? jawabannya iya, ada rasa sakit jika mengingat bagaimana kejadian yang telah menimpa Bunda.
Dan jika ditanya apakah Bumi masih mencintai Langit? jawabannya juga iya, rasa untuk Langit masih ada dan nama Langit masih bersemayam dihati Bumi.
Begitulah rasa antara benci dan cinta yang selalu berjalan beriringan.
Bumi masuk ke dalam rumah setelah hari sudah mulai gelap dan tak lupa untuk mengunci kamar.
Semuanya terasa hambar tanpa hadirnya.
Bumi mengumpulkan segala berkas yang dapat menjadi bahan pertimbangan saat ia melamar pekerjaan. Ia memutuskan untuk menabung terlebih dahulu meski tak banyak, lalu akan mencoba mendaftar melalui jalur beasiswa.
Sesuai keinginannya dan keinginan Bunda untuk menjadi seorang dokter.
Saat sibuk membalik-balik berkas, tiba-tiba sebuah foto terjatuh. Bumi mengambilnya secara perlahan dan ada yang aneh dengan foto tersebut.
__ADS_1
Ada 3 orang wanita cantik yang berpose saling merangkul satu sama lain.
Dari 3 orang tersebut, Bumi mengenali salah satunya, itu adalah Bunda. Lalu disebelahnya saat Bumi meneliti ia terkejut dan menjatuhkan foto tersebut.
Bumi menggeleng, berusaha berpikir dengan jernih dan benarkah dengan apa yang ia lihat.
Dengan tangan yang gemetar, Bumi memungut kembali foto tersebut dan melihatnya kembali dengan wajah yang fokus.
Dan benar, penglihatannya tak salah, dengan cepat Bumi mengambil ponsel dan menghubungi seseorang yang namanya masih tetap sama, Pak Kurir nama kesayangan yang Bumi buat untuk Langit.
“Langit ayo angkat!” dua kali panggilan dari Bumi tak mendapat respon. Bumi berusaha kembali, ia ingin penjelasan dari cowok itu.
Entah sudah berapa puluh kali Bumi mencoba menghubungi Langit, namun hasilnya tetap sama. Tak mendapat respon walaupun tersambung.
Bumi terduduk sembari memegangi kalung yang masih menjuntai indah di leher. Lalu kembali memandang foto seorang wanita yang tersenyum tipis memandang kamera.
Pandangan Bumi terus saja tertuju pada wanita itu dan tentu saja juga pada kalung yang ia pakai. Kalung yang sama persis dengan yang dipakai oleh Bumi.
Bumi ingat jika Langit pernah berkata jika kalung itu adalah pemberian dari Ibunya. Jika dugaan Bumi benar, maka Bunda dan juga Ibu Langit sudah berteman lama.
Yang membuat Bumi penasaran adalah mengapa cowok itu merahasiakannya?
__ADS_1
Bumi membalik foto tersebut dan tertera sebuah coretan seperti sebuah….
Alamat!