Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Kembali Terluka


__ADS_3

...Cinta itu tidak dapat dinanti, ambil dia dengan penuh keberanian atau lepaskan ia dengan keikhlasan...


...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...


...Karena Kamu, Langit...


🐝Kembali Terluka🐝


***


Seperti mawar merah yang indah. Menarik segala perhatian dengan cantiknya. Menarik sukma untuk segera memiliki, sampai aku tak sadar jika ia memiliki duri. Semakin di genggam, semakin sakit dan membuatku terluka. Aku mengelak, dan terus menyimpannya. Hingga, durinya semakin menusuk, memberikan luka yang teramat dalam. Jika begini, apakah melepas adalah jalan terbaik?


Wajah bahagia Langit saat bersama Mini terus terngiang di otak Bumi. Hatinya kembali terluka oleh orang yang sama. Bahkan kali ini jauh lebih sakit.


Bolehkah ia egois? Dan jujur saat ini ia membenci Mini. ia benci saat cewek itu dengan mudahnya menjadi penyebab tawa Langit. Sedang ia harus berusaha, namun tak pernah membuahkan hasil. Menyerah? Apa sudah cukup untuk Bumi berjuang?


Cinta itu tidak dapat dinanti, ambil dia dengan penuh keberanian atau lepaskan ia dengan keikhlasan.


Sorak sorai cewek menggelitik indera pendengaran. Sangat berisik dan saling beradu. Hujan dan Bumi tak peduli, mereka asik membaca sebuah novel roman yang baru saja di pinjam dari perpustakaan.

__ADS_1


“Bumi ga suka sama endingnya, masa si ceweknya balik lagi sama cowok yang udah nyakitin dia,” terang Bumi sambil menutup novel dengan cover warna biru di atas meja.


Hujan menengok “Udah selese bacanya, cepet banget,” pasalnya mereka meminjam novel yang sama. Dan Hujan baru membaca setengahnya.


“Udah, baca dari belakang, soalnya penasaran sama endingnya. Taunya kurang memuaskan,” jelas Bumi yang hanya dapat gelengan dari Hujan. Pantas saja.


“Ke kantin yuk, Bumi lapar,” ajak Bumi sambil menyeret lengan Hujan agar beranjak berdiri dari kursi. Meski tubuhnya kecil, tapi Bumi punya tenaga yang kuat. Hujan saja sampai kewalahan.


“Lo semenjak patah hati jadi doyan makan. Tambah cabi tu pipi,”ejek Hujan sambil mencubit pipi Bumi. “Ga papa, gue lebih seneng lo doyan makan daripada berhenti makan,” kembali Hujan mengejek Bumi.


Sedang yang di ejek hanya cemberut, membetulkan beberapa helai rambut yang jatuh di wajah.


**


“Sayang!” panggil Mini saat Langit sudah selesai tanding basket. Mini melambai sambil tersenyum bangga.


Langit mendekat ke asal suara. Berjalan dengan gagah, bak model yang sedang memeragakan brand mereka.


“Capek?” Tanya Mini yang dibalas anggukan oleh Langit. Satu botol minuman dingin Mini berikan dan tak lupa Mini juga mengelap keringat yang menetes di pelipis Langit dengan sapu tangan. Banyak cewek yang iri melihat kedekatan mereka.

__ADS_1


“Pulang sekolah mau kemana?” Tanya Mini yang masih mengelap keringat Langit. Sengaja berlama-lama, ingin menunjukkan bahwa cowok idaman sekolah adalah miliknya.


“Mau rapat sama anggota Artas,” terang Langit menyerahkan botol minum yang telah tandas setengahnya. Beralih menatap Selatan yang baru saja menghampiri dan memberikan ponsel Langit.


“Aku ikut yah?” pinta Mini dengan memelas setelah Selatan pergi meninggalkan mereka di pinggir lapangan.


“Ga bisa, cowok semua,”


Mini cemberut, berlaku meraju. “Kamu ga sayang sama aku?”


Langit menghela napas “Bukan masalah Sayang, tapi emang ga bisa. Urusan cowok,”


“Tapi nanti ganti jalan-jalan ya?”


“Hmm,”


“Janji,” Mini mengangkat jari kelingking Langit dan mengaitkan dengan jari kelingkingnya “Kamu sudah janji, jadi ga harus ditepati,” ucapnya sambil tersenyum manja.


Tak jauh dari mereka ada Hujan dan Bumi yang melihat interaksi keduanya. Mata Bumi memerah, meski ia berkata melepas dengan ikhlas tapi nyatanya masih saja terasa sakit.

__ADS_1


__ADS_2