Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Mencari Alamat


__ADS_3

...L.A.N.G.I.T.S.T.O.T.Y.B.U.M.I...


...Karena Kamu, Langit...


🐝Mencari Alamat🐝


***


Bumi mengendarai motor menyisir jalan sambil terus memperhatikan petunjuk jalan. Ia ingin memastikan siapa pemilik alamat yang tertera dibalik foto. Entah apapun itu, Bumi yakin itu adalah sesuatu yang penting.


Perlahan namun pasti, Bumi memantapkan hati.


Namun makin ia jalani, justru pemandangan yang tak asing yang ia dapati. Ia seperti pernah melalui jalan tersebut. Hingga tiba disebuah rumah megah.


Dan benar saja,


Glek,


Bumi menelan saliva yang tiba-tiba tercekat ditenggorokan. Tubuh Bumi bergetar mengingat kejadian menyakitkan yang pernah ia alami.


Dengan cepat Bumi mengendarai motor untuk meninggalkan rumah terkutuk itu.

__ADS_1


Ternyata mantra yang ia lantunkan saat itu tak berpengaruh. Justru ia kembali lagi kerumah itu dengan rentang waktu yang tak lama.


Ya, alamat yang tertera di foto itu mengantarkan Bumi pada rumah tempat ia disekap oleh Sakti.


Kepala Bumi mendadak sakit. Rumah siapa itu? Apa hubungan Bunda dengan Ibu Langit? Dan apa yang sebenarnya terjadi dimasa lalu?


Bumi berusaha menghubungkan satu persatu, namun rasanya sulit. Ia seperti merangkai puzzle dengan tingkat tersulit.


Bumi menepi disebuah rumah yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah terkutuk. Ada seorang lelaki paruh baya yang sedang memotong rumput. Dengan langkah pasti, Bumi mulai bertanya.


“Mohon maaf, permisi!” sapa Bumi dengan sopan.


“Apa Bapak tau rumah besar yang terletak di ujung jalan itu punya siapa?” Tanya Bumi tanpa basa-basi.


Laki-laki itu mengangguk “Iya, rumah itu milik keluarga Bramantio, tapi setau saya sekarang sudah jarang ditempati karena sudah pindah,” jelasnya.


Keluarga Bramantio,


Bumi terhenyak karena Bramantio adalah nama terakhir Langit, Langit Shankara Bramantio. Apa rumah itu sebelumnya adalah rumah Langit? atau itu adalah rumah yang pernah Langit dan Ibunya datangi sewaktu kecil?


“Pindah kemana, Pak?” meski sempat terdiam, Bumi terus bertanya.

__ADS_1


Bumi menatap kertas dengan coretan baru, pemberian dari laki-laki yang tadi ia temui. Laki-laki itu menuliskan sebuah alamat baru yang ia ketahui.


Ternyata alamat yang akan Bumi tuju jaraknya tak terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu 30 menit dan Bumi kembali sampai dengan suguhan rumah mewah, bahkan lebih mewah dari rumah sebelumnya.


Pagarnya saja mengkilat seperti dilapisi emas. Bumi ingin terkesan dengan penampilan rumah di depannya namun waktu tak memperbolehkan. Ada sesuatu yang lebih penting.


Bumi menunggu di depan pos satpam karena jika ingin bertemu dengan sang pemilik rumah maka harus ijin terlebih dahulu.


Meski takut, Bumi memberanikan diri. Rasa penasarannya lebih besar dibandingkan dengan rasa takut.


Bumi melangkah perlahan menuju rumah besar dengan gaya eropa di depannya.


Saat di depan pintu, ternyata Bumi telah disambut oleh wanita muda sekitar 30-an yang Bumi duga adalah asisten rumah tangga.


Bumi di arahkan ke ruang tamu dan duduk di sofa empuk.


Mata Bumi tertuju pada sebuah foto besar seorang wanita bersama seorang cowok. Bumi menggenggam erat rok selutut yang ia pakai.


Secangkir jus jeruk telah tersedia di depan Bumi beserta beberapa camilan ringan. Bumi tak menyentuhnya karena takut jika terdapat obat tidur atau obat semacamnya yang bisa membahayakan. Maklum, karena Bumi kebanyakan nonton drakor.


Tak lama seorang wanita muncul dengan tampilan elegan. Benar, dia adalah salah satu wanita yang Bunda rangkul saat difoto.

__ADS_1


__ADS_2