
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
Karena Kamu, Langit
🐝Jalan🐝
***
Drtt, drtt
Getaran ponsel mengganggu tidur Bumi. Dengan cepat, Bumi mengambil ponsel di atas nakas lalu melihat notifikasi dari seseorang.
Langit
Langit
Langit
Harap Bumi sambil membuka pesan.
Hati, meski sudah patah berkali-kali, tapi mengapa masih saja berharap.
Jalan yuk!
Ternyata dari Hujan, cewek itu mengajak untuk melepas sesak meski sejenak. Sempat kecewa karena bukan dari Langit, tapi pesan dari Hujan juga mampu membuat moodnya naik.
Bumi beranjak dari kasur dan bersiap untuk pergi. Kali ini ia memakai poundation lebih banyak dari biasanya, sekedar untuk menutupi mata yang terlihat sembab.
Tak lama, suara motor Hujan menderu di pekarangan. Bumi bergegas berpamitan pada Bunda setelah mendapat wejangan jangan pulang terlalu larut. Meski begitu, terpancar raut bahagia di wajah Bunda. Beruntung, putrinya tak terlarut dalam kesedihan yang lama.
“Kami berangkat, Bunda!” seru keduanya bersamaan setelah helm terpasang dan tuas motor siap ditancap Hujan.
__ADS_1
Bunda menggeleng seraya melambai tangan. Memandang punggung putrinya yang semakin menjauh.
“GUE KIRA LO BAKAL BUNUH DIRI!” teriak Hujan saat mereka masih di atas motor.
“HAH?” teriak Bumi tak kalah lantangnya.
“LO GA BAKAL BUNUH DIRI KAN, HANYA KARNA PATAH HATI?” ulang Hujan kembali, tetap dengan suara yang keras.
“KITA MAKAN SEBLAK AJA YA HUJAN, BUMI LAGI GA PENGEN MAKAN SATE HATI,” sahut Bumi.
“BARU TAU GUE, KALO BUNDA BISA MENGGEPLAK KEPALA,”Hujan sedikit tak percaya, pasalnya ia selalu melihat sikap Bunda yang lemah lembut meski perempuan itu lumayan cerewet.
“KITA COBA AJA, KATANYA ADA WARUNG SEBLAK BARU DI UJUNG GANG. BARU BUKA DAN RASANYA ENAK,”
“BUNDA MENGGEPLAK PAKE TANG?” Tanya Hujan lagi.
“IYA, TAPI GA MAHAL KOK”
Hujan menghela napas, “SYUKURLAH, UNTUNG GA KENA,”
Percakapan aneh terus berlanjut. Katanya kalo lagi di atas motor jangan ajak bicara, suka salah paham atau yang di ajak bicara hanya balas hah huh hah huh.
Motor berhenti saat teriakan stop dari Bumi memekak telinga Hujan meski kepalanya masih melekat dengan helm.
“Apasih Bum, teriakan lo hampir bikin telinga gue lepas pada tempatnya,”
Hujan mengusap dada, teriakan sampai menggetarkan daksa. Cibir Hujan dalam hati.
“Hujan lebay,” sahut Bumi tak merasa bersalah.
“Katanya mau makan seblak, ini tempatnya sudah sampai,” jelas Bumi sambil menunjuk warung seblak di seberang jalan yang ramai pembeli meski baru beberapa hari yang lalu buka.
__ADS_1
“Kapan emang gue bilang begitu?”
“Hujan belum tua udah pelupa, tadi baru aja di atas motor,” terang Bumi sambil melepaskan helm dan menggantungnya di kaca spion.
Hujan diam dan mulai memahami situasi, menghela napas beruntung pembicaraan di atas motor tak jadi nyata. Dengan sedikit tergesa, Hujan melepas helm dan mengambil kunci motor yang masih tersangkut di tempatnya.
***
Setelah makan seblak, dua sahabat berlanjut dengan jalan-jalan memutari kota Jakarta. Membiarkan hati dan pikiran berkelana. Ternyata mencintai seseorang bisa sesakit dan sampai sepatah ini.
Apakah kodrat perempuan memang menunggu? Tapi sampai kapan? Apakah perempuan tidak boleh jika berinisiatif memulai? Lantas salahkah, jika rasa yang muncul tanpa dikehendaki? Hati, tak bisa memilih akan berlabuh pada siapa.
Cukup puas memandang rembulan yang temeram, serta kerlap-kerlip lampu Jakarta.
Tak seperti biasa, jalanan menuju rumah Bumi malam ini sangat padat karena ada kebakaran beberapa ruko. Bumi menganjurkan untuk mengambil jalan lain.
Tak terlalu padat, karena mereka memasuki kawasan elite. Beberapa rumah berjajar dengan pagar menjulang tinggi.
“Lo sering lewat sini?” Tanya Hujan sambil menjalankan motor dengan pelan.
“Baru 3 kali sama ini,” jelas Bumi sambil kembali memakan sempol ayam yang mereka beli dipinggir jalan. Tak lupa juga memberi satu suapan ke mulut Hujan.
Hujan mengangguk, “Sempolnya enak,”
Bumi juga mengangguk membenarkan, hingga pandangannya jatuh pada dua insan yang sedang bercengkrama di halaman rumah yang pagarnya terbuka.
Degh,
“Hujan, stop,”Bumi menepuk pelan pundak Hujan dan motor pun berhenti.
“Apalgi sih,Bum?” Tanya Hujan yang kembali dibuat terkejut oleh Bumi. Ia kembali mengelus dada.
__ADS_1
“Itu…” tunjuk Bumi mmbuat Hujan menoleh, mencari sesuatu yang ingin Bumi tunjukkan.
“Langit sama Mini,”