
...Langit disana suka berubah...
...Tapi Bumi harap, Langit Bumi tak akan berubah...
...Tetap jadi Langit punya Bumi...
...Langit dengan segala perhatiannya yang tak terduga...
...Langit yang keren saat menatap Bumi...
...Langit yang kisahnya selalu Bumi ceritakan...
...Iya kamu, Langit Shankara Bramantio...
...~Bumi Lathesia...
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Pulang🐝
***
Bumi mengamati potongan daging yang lumayan besar, beserta pisau dan juga garpu.
Menggunakan sumpit saat makan bakso saja kadang Bumi kepayahan, apalagi harus makan steak menggunakan pisau.
Bumi mencoba memotong daging perlahan, seperti dalam drama terlihat sangat mudah.
__ADS_1
Tinggal tekan pakai garfu lalu potong mengggunakan pisau, sesimple itu. Tapi mengapa rasanya sulit untuk Bumi praktekkan.
Bumi meilirik Langit yang duduk disamping. Cowok itu memotong daging dan duduk dengan tenang. Bahkan hampir semua daging telah dipotong kecil-kecil.
Tiba-tiba
Oh Bundaaaa!
Teriak Bumi dalam hati, saat Langit mengambil piring Bumi dan menukar dengan piringnya, persis seperti yang Bumi mau.
Bumi tinggal memakannya menggunakan garfu.
Mereka sekarang sedang diperjalanan pulang karena hari semakin sore. Bumi merasa puas, hari seperti ini yang ia tunggu-tunggu.
Bumi memandang keluar jendela mobil, membuka sedikit lalu memperhatikan langit di atas sana. Awan silih berganti tertiup angin.
Tapi Bumi harap, Langit Bumi tak akan berubah
Tetap jadi Langit punya Bumi
Langit dengan segala perhatiannya yang tak terduga
Langit yang keren saat menatap Bumi
Langit yang kisahnya selalu Bumi ceritakan
Iya kamu, Langit Shankara Bramantio
Mobil telah berhenti di halaman rumah Bumi namun dengan deru mesin yang masih menyala. Melepas sealtbelt, Langit dan Bumi turun beriringan.
__ADS_1
Langit turun hanya sekedar untuk berpamitan pada Bunda dan menyerahkan makanan take away yang sengaja mereka pesan untuk Bunda. Lalu mengemudikan mobil menjauh dari rumah Bumi, membelah jalanan ibukota.
Tak cepat juga tak lambat, Langit mengendarai mobil dengan santai. Sudut bibirnya menaik, saat teringat wajah Bumi yang semakin hari semakin menggemaskan.
Langit mengamati dirinya dicermin, diri yang sedang tersenyum tipis. Langit sadar, jarang sekali ia tertawa seperti ini.
Dulu, Langit terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Takut, jika ia tak bisa melindungi orang yang ia sayang. Namun sekarang, Langit menepis rasa takut itu dan mulai percaya jika ia mampu.
Hingga….
Chiiiiiiiittt, suara ban yang bergesekan dengan aspal memekik gendang pendengaran. Langit menginjak rem dengan spontan saat sebuah kendaraan menyalip dan berhenti tepat di depan mobil Langit.
Beruntung ia sedang melalui jalan yang tak ramai, sehingga tak sempat menyelakai orang.
“Sial!” umpat Langit dengan kesal, moodnya mendadak berubah menjadi buruk.
Dengan wajah yang memerah, Langit keluar mobil dan menghempas pintu mobil dengan kasar. Dan berjalan menghampiri pengendara motor yang Langit sudah kenal siapa pemiliknya.
Pengendara yang dipastikan laki-laki itu melepas helm dan menyeringai ke arah Langit. Seringai yang tak membuat Langit takut.
Turun dari motor sambil menggerakkan leher ke kiri dan ke kana sebagai gerakan pemanasan, sedang Langit hanya berdiri tegak dengan dua tangan yang masuk dalam saku celana.
“Mau lo apa?” Tanya Langit tanpa basa-basi. Ia sungguh muak melihat wajah di depannya. Sakti, orang yang sedang berhadapan dengan Langit.
“Ck, mau gue apa?” Sakti mendengus lalu kembali berujar “Masih nanya mau gue apa? Jelas gue mau lo enyah dari dunia ini!” ujar Sakti dengan menggebu.
“Silahkan habisi gue kalo lo mampu!”
“Belagu, lo itu Cuma anak haram. Ga usah banyak gaya! Mending lo ikut sama Ibu lo yang pela-cur itu, biar sama-sama ke neraka!”
__ADS_1