
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Pergi Dari sini!🐝
***
Telinga Bumi berdengung, mendadak tengkuknya seperti dihantam benda tumpul.
“Dokter bilang apa? Bumi ga dengar!” pinta Bumi kembali menatap dokter dan Langit bergantian. Tangan Langit mendekap tubuh Bumi.
“Ibu anda telah meninggal dunia dikarenakan banyaknya pembuluh darah yang pecah dan mengakibatkan pendarahan—“
Tiiiiiiitttttt,
Penjelasan dari dokter tak lagi jelas di indera pendengaran Bumi, tubuhnya terjatuh lemas ke dalam pelukan Langit yang semakin mengerat.
Pikiran Bumi kosong, dadanya sangat sesak bahkan ia kesulitan bernapas.
“Bunda!” Bumi berjalan sekuat tenaga menerobos masuk ke dalam ruangan. Disana, tubuh Bunda terbujur kaku. Wanita cantik itu menutup mata dengan bibir yang melengkung.
“Bundaaaaaa!”
__ADS_1
“Bundaaaaaaa!”isak Bumi tak lagi tertahankan.
Bumi memeluk tubuh Bunda dan menggoyangkannya, berharap Bunda akan membuka matanya.
“Bunda jangan tinggalin Bumiiiiiii!”
Bumi menelungkupkan wajah dipergelangan tangan Bunda dengan tangis yang meluap. Bahu Bumi bergetar.
“Bunda kenapa jahat sama Bumi? kenapa tinggalin Bumi sendiri? Bumi takut Bunda!”
Bumi memeluk erat tubuh Bunda, ia tak rela jika wanita itu pergi meninggalkannya seorang diri di dunia.
Bumi teringat percakapannya dengan Bunda kala itu. Dimana sang Bunda memintanya untuk tetap melanjutkan pendidikan dan menggapai cita-cita menjadi seorang dokter tapi Bumi menolak dengan keras karena kasihan dengan Bunda.
“Bunda mau Bumi jadi dokterkan? Bumi mau, Bumi mau kuliah dan jadi dokter tapi Bunda harus bangun, hiks hiks”
“Jangan tinggalin Bumi!”
Permintaan Bumi tak lagi mampu Bunda penuhi. Sekeras apapun Bumi merengek dan meminta Bunda untuk membuka mata, wanita itu tak akan kembali. Bunda sudah berpulang ke tempat yang abadi.
Meski tak sanggup, tapi itulah konsekuensi yang harus diterima. Kenyataan yang harus Bumi hadapi meski tak sanggup ia lewati.
“Lo ga sendiri, ada gue!” usapan dipunggung Bumi membuat Bumi tersentak beberapa saat. Ia baru ingat jika bersama dengan Langit.
__ADS_1
Bumi menegakkan tubuh meski dengan sedikit gemetar, ia menepis tangan Langit yang masih bergerak dibahunya. Menatap lekat wajah Langit dengan sorot mata sendu.
“Tinggalin Bumi sendiri!” pinta Bumi. setelah berujar, Bumi menunduk tak sanggup melihat wajah Langit.
“Gue ga mau!” balas Langit dengan tegas.
Bumi menarik napas dan memberanikan kembali menatap Langit dengan mendongak.
“Pergi dari sini!”
Deg,
Perkataan yang tadi saja sudah membuat Langit sakit, sekarang perkataan Bumi lagi-lagi membuatnya sesak, bagai ribuan belati yang menusuk Langit.
Sorot mata yang biasanya menatap Langit penuh cinta sekarang berganti dengan kekecewaan dan mungkin….berubah dengan benci. Apa sekarang perasaan Bumi sudah berubah menjadi benci?
Langit masih tak beranjak dari tempatnya dan terus menelisik wajah Bumi yang sudah memerah.
“Jangan pernah temui Bumi lagi!” kembali perkataan Bumi membuat Langit sesak bukan main.
Bumi menunjuk pintu keluar, seakan kembali mengingatkan Langit untuk pergi dari hadapan Bumi.
Langit ingin menolak tapi rasanya enggan jika dihadapan Bunda yang sudah tak bernyawa.
__ADS_1
Tak ingin terjadi hal yang tak diinginkan Langit menurut. Ia berjalan ke arah pintu tanpa sepatah kata pun. Tapi Bumi bisa melihat dari tatapan Langit yang juga terlihat kecewa akan sikap Bumi.
Pintu tertutup rapat, Bumi menatap nanar kepergian Langit dan kembali menumpahkan tangisnya. Sekarang Bumi benar-benar sendiri menghadapi kejamnya dunia.