
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Ancaman🐝
***
“Lo tau sesuatu, Bar?” Tanya Selatan yang sedari tadi hanya diam memperhatikan, namun isi kepalanya penuh dengan pertanyaan.
Sama juga dengan Guntur.
Mereka menatap Bara, meminta cowok itu memberikan jawaban yang memuaskan.
Bara hanya diam sambil membuka buku kimia, yang dilihat saja sudah membuat Selatan dan Guntur mual.
Bagaimana tidak? Buku yang penuh dengan coretan rumus. Guntur rasanya ingin memusnahkan benda yang Bara anggap pusaka.
“Bos sama Bumi pacaran?” Guntur tetap pada pendiriannya. Berusaha semaksimal mungkin untuk mengorek informasi dari Bara.
“Sejak kapan? Bukannya dulu Bos ga suka sama Bumi.” Selatan juga ikut memancing di air jernih.
“Apa Bos selama ini cuma gengsi?”
Kehebatan Bara dalam berkonsentrasi memang patut diacungi jempol. Bisik-bisik dari dua curut itu tak membuat focus Bara pada buku pecah. Ia terus menjawab beberapa soal yang lumayan sulit.
“Lo ga mau kasih kita informasi gitu, Bar?” Selatan bertanya sambil menutup buku Bara dengan satu tangan. Cuma ini cara yang bisa ia lakukan agar Bara mau menanggapi.
“Gue ga berhak buat itu,”
__ADS_1
“Ck, ga asik lo!” akhirnya Guntur dan Selatan menyerah. Tak mampu mendebat seorang Bara Amilio Aqiel.
Mereka memustuskan untuk menunggu Langit kembali, yang entah kapan.
Selatan kembali membalas beberapa komentar cewek-cewek di postingannya beberapa jam yang lalu.
Sedang Guntur juga kembali menscrool shoope untuk melihat harga album.
**
Langit menarik pelan tangan Bumi hingga sampai pada belakang sekolah, tempat biasa anak Artas ngumpul selain markas.
“Lo benar ga kenapa-napa?” Tanya Langit kembali memastikan.
Bumi mengangguk, melihat wajah Langit sekhawatir ini membuat hatinya berbunga-bunga.
“Jangan buat sesuatu yang bisa buat lo celaka, karna gue ga segan buat bikin perhitungan sama orang yang sudah buat lo terluka!”
Pertanyaan teraneh Bumi, bukankah sudah jelas jika Langit khawatir.
“Hmm, jangan buat gue khawatir lagi!”
“Kenapa?”
“Gue ga suka,”
“Jadi menurut Langit, Bumi ngerepotin Langit gitu?”
Langit tertegun, apa ada kata-katanya yang menyebut Bumi merepotkan atau yang menyinggung cewek itu. Langit memilah-milah, tak ada yang salah dari yang ia ucapkan.
__ADS_1
“Gue ga ada bilang lo merepotkan. Gue hanya bilang, jangan buat gue khawatir,”
“Sama aja, Bumi ga boleh buat Langit khawatir. Itu sama aja kalo Langit bilang Bumi merepotkan,”
“Gaa—“
Bumi memaling tubuh membelakangi Langit sambil mengulum senyum. Ternyata semenyenangkan ini merajuk. Bumi paham maksud Langit, ia hanya ingin sedikit bermain bujuk rayu.
Sedang Langit mengeram Frustasi saat ia berualang kali memanggil Bumi, namun panggilannya tak diiraukan.
“Maksud gue ga gitu, gue cuma ga ingin lo kenapa-kenapa. Kalo lo kenapa-kenapa gue khawatir, dan gue ga akan maafin diri gue sendiri kalo lo sampe kenapa-kenapa. Gue takut lo terluka Bumi Lathesia,”
Suasana berubah serius, “Kenapa Langit selalu bilang gitu. Seakan Bumi akan terluka,”
Tak sekali atau dua kali Langit mengatakan hal yang sama. Terluka, terluka dan terluka.
Seharusnya Langit tau, jika bersama Langit adalah keinginan Bumi dari dulu. Tak perlu membicarakan terluka, karena itu adalah konsekuensi yang harus Bumi terima.
“Lo ingat kata-kata gue, gue itu ancaman buat lo?”
Bumi mengangguk, karena kata-kata Langit waktu itu masih tersimpan dalam memorinya.
“Langit ancaman buat Bumi?”
“Dulu, sekarang gue yang akan lindungi lo dari ancaman itu,”
“Ancaman semacam apa yang Langit maksud, Bumi ga ngerti,”
“Nanti lo akan tau, cukup percaya sama gue,”
__ADS_1
Bumi mengangguk dengan yakin “Bumi akan percaya sama Langit, Bumi janji”