
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Percaya Sama Gue!🐝
***
Bumi menendang kerikil dengan ujung sepatu. Cuaca lumayan terik, Bumi bernaung di pohon depan sekolah. Ia sedang menunggu Langit untuk pulang bersama.
Yang Tanya kenapa Bumi nunggu depan sekolah, kenapa ga nunggu diparkiran aja? Jawabannya karena sehabis bel sekolah, ia dan Hujan langsung melenggang untuk makan cilok dengan tingkat kepedasan tertinggi.
Entah kenapa kali itu Hujan memesan lebih pedas dari biasanya.
Bumi sudah mengirimkan pada Langit bahwa ia akan menunggu di depan gerbang sekolah.
Cowok itu awalnya tak setuju dan meminta Bumi untuk kembali ke dalam dan menunggu di parkiran saja.
Bumi menolak dan beralasan ia terlalu capek jika harus masuk lagi, karena jarak antara parkiran dengan gerbang sekolah lumayan jauh.
Bumi mengamati seseorang pengendara yang sedang menepi tak jauh dari posisi Bumi.
Bumi merasa jika cowok itu sedang mengawasi Bumi dibalik kaca hitam helmnya dan sedikit membuat Bumi takut.
__ADS_1
Bumi menyebrangi jalan dan duduk di kursi pembeli cilok Bang Mamat. Bumi pikir hanya pirasatnya saja, tetapi memang benar. pandangan cowok itu juga berpindah. Bahkan ia tak segan mengubah posisi dengan duduk menyamping.
Glek, Bumi meneguk saliva dengan tercekat.
Langit dimana? Udah diparkiran? Cepetan, Bumi takut!
Pesan yang Bumi kirimkan, ia ingin berlari masuk ke dalam sekolah lagi. Tapi tak mungkin karena ia harus melewati cowok misterius itu.
Tak berselang lama, satu panggilan dari Pak Kurir masuk, dengan cepat Bumi menggeser tombol hijau dan meletakkan benda pipih itu ditelinga.
Kenapa? Lo baik-baik aja? Lo lagi sama siapa? Gue bentar lagi kesana!“
Langit cepetan! Bumi takut, ada orang yang selalu perhatiin Bumi
Lo tenang, ada gue yang bakal jagain lo, sekarang lo pergi ke tempat yang banyak orang disana. Dan pura-pura kalo lo ga tau kalo dia ngintai lo, lo paham?
Hmm, gue kesana sekarang
Bumi menutup telpon dan berusaha bersikap tenang seperti perkataan Langit meski jantungnya berdebar karena takut.
Bumi mengetuk meja sembari menghituk detik demi detik yang terasa sangat lambat.
Hingga sosok Langit keluar dari gerbang, Bumi berdiri dan melambai pada Langit.
__ADS_1
Sreettt, rem motor Langit yang bergesekan secara kasar mengejutkan beberapa pembeli yang sedang bersantai menunggu pesanan.
Pandangan Langit menyapu setiap inci yang mampu ia jangkau. Hingga padangannya jatuh pada sosok diseberang sana yang Langit pastikan juga sedang menatapnya dengan seringai.
Sial, umpat Langit. Sakti memang pengecut! Berani-beraninya ia mengancam lewat Bumi dan membuat Bumi takut.
Inilah yang selama ini Langit takutkan. Juga menjadi sebab, Langit selalu menghindari Bumi dan selalu menolak cewek itu.
Langit terlalu takut jika mereka akan menyakiti Bumi. lebih baik, ia menjaga Bumi dengan caranya meski dengan cara yang salah, yaitu dengan cara menyakiti.
Itulah pemikiran Langit dulu sebelum Aldo masuk ke dalam kehidupan mereka dan mengubah sudut pikir Langit.
Diseberang sana, Sakti menghidupkan motornya dan mengacungkan jari tengah pada Langit. Lalu cowok itu berlalu meninggalkan Langit.
”Langit, dia siapa? kenapa ngikutin Bumi? Bumi takut!”
Langit memasangkan helm ke kepala Bumi lalu menarik pelan lengan Bumi.
“Ayo naik, gue antar!” Langit tak menjawab justru kata perintah yang ia ucapkan.
“Langit jawab Bumi! dia siapa?”
“Bukan siapa-siapa! Sekarang lo turuti perkataan gue, pulang dan jangan kemana-mana!”sorot mata Langit mengatakan jika ia sedang tak ingin dibantah.
__ADS_1
“Tapi—“
“Percaya sama gue!”