
...Pemilik mimpi,...
...Ku ceritakan sedikit rahasia hati...
...Dengan hembusan angin sebagai saksi...
...Juga cahaya rembulan yang ikut menerangi...
...Ku jabarkan betapa besar rasa yang memenuhi relung hati...
...Cintaku ku tak akan reda meski rembulan telah berganti...
...Meski tangan tak lagi menghangati...
...Jiwa pun tak mampu mengendali...
...Jangan Tanya pada hati...
...Karena hati telah terpatri pada sosok sang pemilik mimpi...
...~Bumi Lathesia...
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Pemilik Mimpi🐝
***
__ADS_1
Bumi duduk berpangku tangan di atas meja belajar. Beberapa jam yang lalu, mereka telah sampai di rumah.
Bersama Langit rasanya waktu sangat cepat berlalu. Bumi ingin besok segera tiba. Menemui cowok itu disekolah, menatap lamat-lamat wajah Langit yang tak membuatnya bosan.
Sang pemilik mimpi, sekarang Bumi dapat menggapai mimpi yang dulu ia anggap hanya sekedar angan.
Bumi tak berharap apapun lagi saat ini, karena bersama Langit saja sudah dirasa cukup. Bumi, Langit dan Bunda. Bumi merasa menjadi seseorang yang sangat beruntung.
Perhatian Bumi teralihkan saat ponsel bordering dan nama Pak Kurir pun muncul. Tentu saja itu dari Langit. Karena Bumi telah mengganti nama keren Langit menjadi Pak Kurir.
Bumi beranjak dari kursi dan merebahkan diri dengan nyaman di atas ranjang sambil memeluk bantal. Bersiap mendengarkan suara bass dari sang kekasih.
Gue kangen
Ucap Langit diseberang sana yang juga sama, sedang rebahan di atas kasur. Bedanya, cowok itu sedang memperhatikan beberapa foto yang sudah lusuh, mungkin karena telah terlalu lama dicetak.
Jangan tanyakan bagaimana perasaan Bumi saat ini. tentu saja sedang turun naik rollcoster. Mulai sekarang, Bumi harus bisa mengontrol diri. Ia tak ingin mati muda karena jantungan.
Dimana? Kapan? Sekarang? (Langit)
Dalam mimpi (Bumi)
Jangan jadiin gue mimpi lo (Langit)
Kenapa? (Bumi)
Mimpi, bunga tidur, ilustrasi. Sesuatu yang bersifat mustahil dalam dunia nyata. Gue bukan mimpi lo yang semu. Juga bukan tujuan lo, karena lo bisa aja beralih dipersimpangan. Tapi jadiin gue pegangan lo, gue akan menggenggam erat tangan lo semampu gue dan lo harus ingat, jangan pernah lepasin genggaman itu (Langit)
Bumi tergagu, benarkah ini adalah Langit yang ia kenal? Langit yang selalu dingin, yang berbicara selalu saja menyakitinya.
__ADS_1
Hati Bumi menghangat, Langit yang sekarang adalah Langit yang beda. Langit yang begitu peduli padanya. Langit yang merentangkan tangannya dengan lebar untuk menyambut Bumi.
Bumi mengangguk meski tak mampu Langit lihat.
Bumi ga akan lepasin genggaman Langit (Bumi)
Diseberang sana, Langit sedang menatap sendu pada sebuah foto wanita cantik yang sangat ia rindukan. Wanita yang sudah menorehkan segala luka dan pergi begitu saja. Meninggalkan segala bentuk rasa sakit serta hinaan yang harus diterima Langit benci tapi juga rindu. Ia muak diposisi ini.
Udah makan?
Tanya Langit saat beberapa selang keduanya terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Langit menyimpan foto ke dalam laci dan menumpuknya bersama buku-buku.
Belum
Coba keluar sebentar
Ngapain?
Mau liat ayam melahirkan ga?
Emang ada?
Ada, depan rumah lo. Makanya buruan keluar!
Bumi menuruti, ingin melihat sesuatu yang tak biasa. Jika yang diomongin Langit benar, maka Bumi berniat untuk mengabadikan dengan kamera ponsel biar viral.
Tak ada ayam melahirkan, yang ada hanya pak kurir yang sedang membawa pesanan atas nama Bumi. Makanan komplit dengan satu kertas tertempel diatas kotak.
Buat lebah kecil, makan yang banyak, biar cepat besar.
__ADS_1
Aaaaaaa, Bumi meleyot