Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Jangan Sentuh!


__ADS_3

...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...


...Karena Kamu, Langit...


🐝Jangan Sentuh!🐝


***


Pagiku cerahku


Matahari bersinar


Ku gendong tas hitamku, dipundak


Bumi bernyanyi riang sembari keluar kamar mencari sosok Bunda. Ia sudah sarapan dan bersiap berangkat sekolah.


Seperti biasa, mencium punggung tangan Bunda dan sedikit petuah yang selalu saja dengan kata yang sama. Kali ini Bumi mendengarkan dengan riang.


Bumi telah tiba disekolah, tak ada motor Langit karena cowok itu telah memberitahu karena akan datang terlambat karena ada yang dibicarakan dengan Bara.


Bumi bertanya tentang apa? bukannya menjawab Langit justru berkata jika itu urusan laki-laki.


Tak apa, asal jangan pembicaraan urusan perempuan, jika sampai itu terjadi maka siap-siap perang dunia terjadi.


Sesampai di dalam kelas, Bumi telah disambut dengan kehadiran Hujan dan tak lupa oleh-oleh. Kali ini bukan hal diluar nalar karena Bumi memperingatkan Hujan jika oleh-oleh yang tak masuk akal, maka ia tak akan menerimanya lagi.

__ADS_1


Oke, itu tak penting sekarang. Bumi ingin bercerita sesuatu yang sangat ia banggakan.


“Hujan, liat! Cantik ga?” Tanya Bumi sambil memperlihatkan kalung Langit yang sudah melingkar indah di leher Bumi.


“Cantik, gue suka. Lo beli dimana?” Hujan memperhatikan setiap kilauan yang terpancar. Meski dengan ukiran tak biasa, bandul itu malah memberi kesan unik.


“Bumi ga beli, tapi dikasih sama seseorang. Tau ga Bumi dikasih sama siapa?”


Hujan menggeleng pelan,


“Sama Langit,” jawab Bumi dengan bangga sambil mengelus bandul. Sorot matanya memancarkan kebahagiaan.


Hujan mengurungkan niat untuk menceritakan sesuatu yang ia lihat kemarin. Tak mau mengacaukan suasana hati Bumi yang sedang kasmaran. Untuk sementara waktu, Hujan akan menyimpannya sendiri.


**


Jika biasanya saat jam kosong mereka akan konser bersama, kali ini Bumi ingin absen dari konser dan melenggang menuju kelas Langit.


Bumi mengintip, ternyata kelas Langit juga sedang tak ada guru. Bumi bersorak ria sambil masuk tanpa permisi. Di kursi ujung, Bumi menengok ternyata Langit dan Bara sedang tak ada dalam kelas.


Ternyata mereka sedang ke toilet, kata Guntur. Meski dengan raut tak percaya, Bumi mengiyakan saja karena ia ingin memberi perhitungan pada Priki and the geng.


“Permisi, cewek Langit mau lewat,” Bumi sengaja lewat dibarisan kursi Priki yang sedang menggibah. Sontak seisi kelas menengok karena perkataan Bumi yang lumayan keras.


Priki menoleh lalu tersenyum remeh memandang Bumi yang katanya sih sok kecantikan.

__ADS_1


“Gue kasihan sama lo, mungkin karena terlalu banyak berkhayal sekarang otak pintar lo geser,”


“Bukannya dari dulu emang udah melenceng ya? Upsss,”


“Tapi kayaknya sekarang makin parah deh,”


“Ha ha ha ha,”


Priki berdiri dan memeriksa suhu tubuh Bumi, barangkali saja panas.


“Priki mau ngapain?” Tanya Bumi saat punggung tangan Priki melekat di dahinya.


“Lo sakit? Tapi kok ga panas? Apa lo salah minum obat? Atau lo tadi jatuh trus lo geger otak?” Tanya Priki sambil meledek.


Bumi kesal, apa Priki menganggap dirinya sedang berhalusinasi?


“Ingat, lo itu cuma cewek miskin, lagian juga Langit pacaran sama Mini. Ngapain lo ngaku-ngaku?” ucap Priki yang sekarang beralih membela Mini karena perusahaan Ayah Priki ternyata dibawah kendali Ayah Mini. pun, ia juga dengan terpaksa harus merelakan Langit.


“Ngaku-ngaku? Siapa yang ngaku-ngaku? Langit memang punya Bumi,”


“Lo emang cewek ga tau diri,”


“Ga tau diri? Mau Bumi kasih bukti? Tapi janji jangan jantungan, kasian dosa kamu masih banyak,” tutur Bumi seraya ingin merogoh ponsel dan ingin mencari sesuatu dalam galeri ponselnya. Foto ia dan Langit sewaktu dipantai.


“Auuuu,”

__ADS_1


Rintihan Priki membuat Bumi mendongak. Tangan Priki yang tergantung udara dicekal sesorang.


“Jangn pernah lo sentuh Bumi sedikitpun, atau lo akan tau akibatnya!”


__ADS_2