
...Iya karena kamu, Langit.Indah dan bersinar. Semua pasti menatapmu dengan kagum. Memujimu dengan takjub. Aku ingin kesana, pada tempat dimana kamu berada. Ingin memiliki sayap agar bisa terbang ke angkasa. Hingga aku sadar kamu terlalu jauh dan tinggi di atas sana. Membuat angan yang ku tata rapi pupus tak bersisa, hanya menyisakan lara diujung asa....
...L.A.N.G.I.T.S.T.R.O.Y.B.U.M.I...
Karena Kamu, Langit
🐝Sebegitu Bencikah?🐝
***
Bumi mengeratkan pegangan pada tali tas yang berada dipangkuan. Mobil telah terparkir rapi dan mereka bersiap untuk turun.
Aldo mengamati sekitar, sudah banyak mobil mewah terparkir. Apa mereka telat?
Dengan tergesa, Aldo membuka pintu mobil sambil mengulurkan tangan. Pun dengan ragu, Bumi menyambut uluran tangan. Mereka berjalan beriringan.
“Ga usah takut! Lo sangat cantik malam ini,”
Bumi tersenyum mencibir, sudah cukup terbiasa dengan gombalan yang Aldo berikan.
Bumi melangkah dengan ragu, jantungnya berpacu dengan cepat. Berulang kali menghirup dan menghembuskan napas perlahan.
__ADS_1
Sudah beberapa hari ini ia menghindari Langit, berharap hatinya sudah baik-baik saja melihat kemesraan Langit bersama Mini.
Mereka baru masuk ke dalam rumah, cukup sepi karena ternyata tempat acara berada di outdor. Setelah masuk, mereka di arahkan oleh pelayan untuk menuju halaman belakang.
Pendar dan kerlap-kerlip lampu lumayan menyakiti mata Bumi, ia tak terbiasa untuk datang ke pesta karena Bunda selalu melarang.
Samar-samar, pandangan Bumi menyapu keseluruh tempat yang bisa dijangkau. Entah mengapa ia mencari sosok yang ia rindukan tetapi juga ia hindari.
Tak cukup lama untuk mencari Langit, keberadaan cowok itu selalu saja mampu ia kenali dengan mudah, seolah semua titik hanya tertuju pada Langit. Cowok itu bersinar,memancarkan pesona yang tak mampu Bumi pungkiri. Bumi merasa ada sesuatu yang menariknya untuk kembali pada titik itu. Pada titik dimana ia tak mampu melihat cowok manapun selain Langit.
Iya karena kamu, Langit.Indah dan bersinar. Semua pasti menatapmu dengan kagum. Memujimu dengan takjub. Aku ingin kesana, pada tempat dimana kamu berada. Ingin memiliki sayap agar bisa terbang ke angkasa. Hingga aku sadar kamu terlalu jauh dan tinggi di atas sana. Membuat angan yang ku tata rapi pupus tak bersisa, hanya menyisakan lara diujung asa.
Bumi terus saja menatap Langit hingga,
Bumi gelagapan saat mata mereka bertemu, di ujung sana ternyata Langit juga sedang menatapnya. Dengan cepat Bumi memutus kontak mata yang mulai menyesakkan dada. Karena apa? Mini, perempuan itu terlihat mengoceh sambil tertawa renyah disamping Langit.
“Ayo!” ajak Aldo untuk mendekat ke arah Selatan dan tentu saja juga mendekat ke arah Langit.
Bumi lagi-lagi tersentak kaget saat Aldo menarik pergelangan lengan Bumi dan melingkarkan di lengannya.
Sejenak Aldo dan Bumi bersitatap, Aldo tersenyum tipis sambil mengangguk.
__ADS_1
Perlahan melangkah mendekat, tangan Bumi meremat pelan lengan Aldo. Ia takut, mata Langit menatap tajam ke arah mereka. Bumi tak sanggup hingga membuatnya menunduk.
Tatapan Langit seakan membius, kembali meminta agar kembali pada titik cowok itu.
Glek, dengan susah payah Bumi menelan saliva. Tak henti berdebar, Jantung Bumi serasa ingin keluar dari tempatnya.
“Happy Birthday, Sel. Kado dari gue sama Bumi,” Aldo menyerahkan paper bag berisi kado yang telah mereka beli tadi siang.
Wajah Bumi mendongak, mengucapkan selamat ulang tahun pada Selatan. Lalu menilik sebentar ke arah lain.
Aahhhh, Bumi ingin menjerit saat Langit juga menatapnya. Lalu pandangan cowok itu beralih pada tangan Bumi yang melingkar dilengan Aldo. Tatapan Langit menghunus, seakan tak suka jika tangan itu saling bersentuhan.
Bumi merasa tak nyaman, lalu perlahan merenggangkan pegangan.
Tap, Aldo menggapai tangan Bumi lalu kembali mengeratkan. Bumi mendongak menatap wajah Aldo, mereka saling bertatapan. Tapi bukan Bumi dengan Aldo yang sedang bersitatap. Melainkan Laangit dengan Aldo. Kedua cowok itu saling menatap tajam satu sama lain.
Mendadak suasana memanas, Bumi tak mengerti situasi yang sedang ia alami. Tapi mengapa sekujur tubuhnya membeku.
Mata Bumi bergantian menatap Aldo dan Langit yang masih belum memutus kontak. Bahkan panggilan Mini tak dihiraukan Langit.
“Ahahaha, mau gue ambilin minum?” tawar Guntur yang juga tak nyaman. Sedang Selatan pura-pura tak meliat dan asik dengan fansnya. Bara? Cowok itu hanya tersenyum sinis.
__ADS_1
Glek, Bumi semakin mengecil. Apa sebegitu bencikah Langit sehingga cowok itu tak ingin melihatnya? Pikiran Bumi semakin berkenala.