Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Bekal Buat Menantu


__ADS_3

...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...


...Karena Kamu, Langit...


🐝Bekal Buat Menantu🐝


***


Senyum tipis menyambut pagi Bumi. Ia bercermin memandang wajah sambil menghela napas lalu menghembuskan pelan. Berharap ada rasa yang perlahan mengikis dari hati.


Bumi memandang ponsel yang kesekian kali bergetar. Beberapa notifikasi ia dapat sejak tadi.


Sudah ia tebak, pasti dari Aldo. Setelah berbincang dengan Tante Luna, yang ternyata teman sekaligus klien Bunda, yang merupakan Mamih dari Aldo, Bumi mengenal sedikit lebih dalam tentang keluarga tersebut dan merasa nyaman disekitar mereka.


Pagi My little Pincess


Isi dari pesan Aldo yang dikirim beberapa kali dengan teks yang sama. Jelas dari hasil copy paste.


Pagi


Balas Bumi lalu memasukkan ponsel tersebut ke dalam saku tas. Berjalan menuju pintu sambil menyampirkan tas ke punggung.


“Bumi berangkat, Bunda!” Bumi menghidupkan motor setelah sarapan dan tak lupa mencium punggung tangan Bunda.


“Hati-hati, jangan ngebut—“

__ADS_1


“Lihat kiri-kanan, kalo ada lampu merah jangan lupa berhenti. Bumi, paham Bunda,” Bumi menirukan perkataan dari Bunda sebelum berangkat yang selalu sama, hingga Bumi hapal.


Bumi bergegas meletakkan helm dan sedikit berlari menuju kelas saat melihat Langit yang datang berboncengan dengan Mini.


Cewek itu melingkarkan tangan dipinggang Langit. Hati Bumi sesak, bagai luka disiram air garam. Tetap sakit meski Bumi harus terbiasa.


“Lo kenapa? Dikejar setan?” Tanya Hujan yang sudah duduk dikursi dengan sebuah novel di tangan. Bumi datang dengan napas menderu dan mata yang memerah.


Dengan napas yang ngos-ngosan Bumi menjawab “Lebih parah dari setan!” serunya sambil mengusap air yang jatuh menetes di pipi.


Hujan tak mau bertanya lebih, ia tiba-tiba memahami situasi.


Bumi menyimpan tas di bawah meja, saat tangannya mengulur tas untuk masuk ke dalam tiba-tiba ada yang terasa ganjal.


Bumi menarik kembali tas dan mengambil sesuatu dari kolong meja sambil menatap Hujan.


Hujan menggedikkan bahu “Bukan,” ujarnya.


“Lalu punya siapa? Kenapa bisa ada di bawah meja Bumi,”


“Fans lo kali yang naruh bekal buat lo, biar lo ga kelaparan. Pura-pura kuat juga perlu energi,”


“Hujan!”


Hujan membentuk jarinya menjadi v “Bercanda, hidup jangan dibawa serius. Kita bikin happy sekali-kali. Itukan yang selalu lo bilang sama gue,”

__ADS_1


Bumi mengangguk,


“Kalo lo mau nangis, nangis aja. Nih pundak gue kuat kok buat lo jadiin sandaran,” Hujan menepuk bahu agar Bumi mau menumpahkan sesak dalam dada.


“Ingat, Kita memang harus kuat, tapi nangis juga bukan hal yang salah. Langit juga ga selalu cerah, terkadang juga ada awan gelap. Biarkan hujan turun dengan deras dan semoga setelahnya ada pelangi, ”


“Masih sakit, Hujan!” Bumi memeluk tubuh Hujan, membiarkan air mata membasahi bahu Hujan.


“Pelan-pelan aja, gue yakin lo pasti bisa,” tutur Hujan sambil mengusap pelan punggung Bumi yang bergetar seiring dengan isakan kecil yang tertahan.


Hujan mengode penghuni kelas untuk tak memperdulikan mereka dan kembali beraktivitas.


“Jangan ditahan, nanti dada lo sakit,”


“Hiks, Hiks, Hiks,” isakan Bumi terdengar lebih nyaring dari sebelumnya. Lumayan lama hingga getaran ponsel yang berulang kali menyita perhatian Bumi dan Hujan.


Tubuh Bumi menegak dan mulai mencari asal getaran di dalam tas.


Beberapa pesan dari Aldo muncul di depan layar yang baru dinyalakan.


Lihat ke bawah meja lo!


Ada bekal masakan dari Mamih, katanya buat My Little Princess yang cantik


Jangan lupa dimakan, terus tempat bekalnya ga perlu dibalikin

__ADS_1


Mamih ikhlas katanya kalo untuk menantunya.


Pikiran Bumi kembali teringat pada perkataan Bunda saat ia bercerita persoalan mimpi. Kata Bunda soal mimpi, sudah diatur sama yang diatas. Bisa menjadi kabar gembira, teguran atau peringatan. Tapi juga bisa ada seseorang yang terikat batin dengan kita sebagai tanda orang tersebut memiliki peran penting bagi kita dimasa sekarang ataupun masa depan.


__ADS_2