
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Lo Milik Gue!🐝
***
Pantai pasir yang halus serta air pantai yang jernih. Bumi melangkah merasakan butiran pasir pada kaki. Di depan Langit telah duduk di bawah pohon yang rindang. Membuka tikar kecil yang Bumi bawa.
Bertamasya dengan sederhana menurut Langit lebih menyenangkan daripada ditempat mewah.
Bumi ikut membantu Langit mengeluarkan beberapa makanan dalam tas meski dengan raut tak bersahabat.
“Muka lo kenapa ditekuk?” Tanya Langit dengan rasa tak bersalahnya. Bukankah ia tau bahwa Bumi sedang merasa jengkel.
Bumi balas menatap Langit lalu berujar “Kenapa? Emang ga boleh? Ada larangan?” Tanya balik Bumi dengan sedikit menggebu.
Ayolah Langit, peka sediikit. Bumi juga ingin dibujuk rayu.
“Ga ada larangan sih, Cuma—“
Langit menggantung ucapan, sementara Bumi menunggu Langit meneruskan kalimatnya.
“Wajah lo tambah jelek. Ga enak buat dipandang,”
Bumi baru tau ternyata Langit semenjengkelkan ini. ia ingin menjambak rambut Langit sekarang, andai jika ia punya nyali.
__ADS_1
“Ya udah, ga usah liat Bumi. Bumi juga ga minta Langit buat liat Bumi kan!” sarkas Bumi sambil meletakkan dua buah botol ke atas tikar.
“Cuma ada lo di depan gue, ya jelaslah gue Cuma liat lo. Kalo gue disana, baru gue liat cewek lain.”
Langit menunjuk pada segerombolan cewek yang sedang asik bermain ditepi pantai. Bumi juga mengamati, mereka sangat cantik. Ah sekarang Bumi dibakar api cemburu.
“Kalo gitu, sana! Pergi dari sini! Deketin cewek-cewek itu,” Bumi memutar tubuh membelakangi Langit.
Tanpa Bumi sadari, Langit sedang tersenyum. Membuat Bumi kesal sekarang adalah hobi barunya.
“Yakin?” Tanya Langit menggoda sambil membisik ditelinga Bumi.
Bumi menepis “Lain kali ga usah ajak Bumi buat pergi. Ajak cewek yang cantik aja. Bumi juga ga pernah minta Langit buat ajak Bumi pergi,”
Bumi terisak, sedari tadi ia sudah menahan saat Langit beberapa kali membuatnya kesal. Buat apa mengajaknya pergi jika yang dipuji justru cewek lain? Bahkan dibandingkan.
Bumi menepis saat Langit beberapa kali mencona membalik tubuhnya.
“Maaf, gue gak bermaksud buat lo nangis,”
“Bumi mau pulang,” perkataan Bumi mengejutkan Langit.
“Gue ga ijinin lo pulang,”
“Bumi bisa pulang sendiri,” si keras kepala tetap dengan pendiriannya. Bumi ingin beranjak namun tangannya dicekal Langit.
Tubuh Bumi di putar oleh Langit. Satu kalung tiba-tiba melingkar di leher Bumi. Kalung Langit yang dulu tak boleh Bumi sentuh.
__ADS_1
“La-Langit ini apa?”
Tak menjawab, Langit justru menghapus jejak air mata di pipi Bumi.
“Jangan nangis lagi, gue ga akan bisa kalo liat lo nangis.”
Deg, debaran jantung Bumi kembali naik. Ia sambil memegang bandul lalu kembali menatap Langit.
“Kalung ini sangat berharga buat gue,”
“Aa, kalo berharga kenapa dikasih sama Bumi? Bumi kembalikan sama Langit aja, Bumi takut kalo kalungnya sampe hilang,” Bumi ingin melepaskan kalung.
“Karna lo berharga buat gue,” pergerakan Bumi terhenti. Mata Bumi melotot dengan mulut yang sedikit menganga. Apa sekarang pendengaran Bumi bermasalah?
“Ke-kenapa Bumi berharga buat Langit. Kita ga ada hubungan dan Bumi bukan siapa-siapa Langit,”
“Lo mau punya hubungan sama gue? Jadiin gue siapa-siapa lo,”
Deg deg deg. Napas Bumi sekarang tak karuan. Sedikit sesak, ditambah jantungnya yang hari ini di ajak naik rollcoster.
“Ha, maksud Langit apa?” Bumi meremas ujung baju, memastikan kembali maksud Langit.
“Mulai sekarang lo milik gue!”
“Ta-tapi—“
“Ga ada tapi-tapian, sekarang makan!”
__ADS_1
Makan? Bagaimana bisa Langit bicara sesantai itu. Sekarang bahkan Bumi merasa kenyang.