Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Jangan Ambil!


__ADS_3

...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...


...Karena Kamu, Langit...


🐝Jangan Ambil!🐝


***


Bumi membuka kelopak mata yang sedari tadi tertutup. Sekujur tubuhnya terasa sakit dan mungkin saja memar.


Bumi mengedarkan pandangan pada sekelilingnya, banyak orang yang menontonnya dan ada juga yang menawarkan minum sembari bertanya bagaimana keadaannya.


Bumi mengangguk lemah dan berkata jika baik-baik saja. Bohong memang, ia sedang tidak baik-baik saja karena dorongan yang cukup keras dari Bunda.


Ya, wanita itu yang mendorong tubuh Bumi hingga menepi di trotoar dan membiarkan tubuhnya yang menjadi sasaran tak bertanggung jawab dari pengendara.


Bunda!


Bumi baru teringat, bagaimana keadaan orang yang melahirkannya itu?


Dengan sekuat tenaga Bumi menegakkan tubuh dan mencari sosok Bunda.


“Bunda!” lirih Bumi dengan pelan. Suaranya kecil karena tenaga yang terkuras. Bumi merasakan jika sikunya lembab dan tercium bau anyir.


Bumi menengok, ternyata bajunya sobek karena tergesek kasarnya aspal. Ia tak memperdulikan bahkan beberapa orang menahan lengan Bumi untuk tetap istirahat.


Bumi menolak, air matanya mulai menganak saat melihat di depan sana lebih banyak orang yang berkerumun.

__ADS_1


“Bunda!” Bumi melangkahkan kaki dan tak menghiraukan sekitar, terus berjalan dengan langkah yang terseok.


Beberapa orang wanita tanpa diminta membantu Bumi dengan memegang lengan dan berjalan perlahan mendekat.


“Korban semakin kehilangan darah, telpon ambulance secepatnya!” teriak seseorang dengan wajah panik.


Air mata Bumi tak mampu lagi dibendung. Pikirannya kalut, berharap apa yang ia duga adalah sebuah kesalahan.


Bumi menyibak satu persatu orang yang tengah berdiri di tengah kerumunan. Jantung Bumi berdetak dengan kencang seiring dengan gerakan tangannya yang mulai gemetar.


Dan deg!


Jantung Bumi semakin tak karuan saat melihat tubuh Bunda telah berlumuran darah pun baju Bunda yang sudah berubah menjadi merah.


Tubuh Bumi bergetar, lututnya terasa lemas.


“Bunda!” Bumi mendekat sekuat tenaga. Ia memeluk tubuh Bunda dan meletakkan dipangkuan. Tak peduli dengan darah yang ikut melekat dibajunya.


“Sa-yang!” ucap Bunda terbata. Mata Bunda memberat bahkan ia berkali-kali memejamkan mata.


“Maafin Bunda ya?”


Bumi menggeleng dan terus terisak sambil terus meneriakkan tolong.


“Sebentar lagi ambulance akan datang, adek yang tenang ya?” sosok ibu renta berusaha menenangkan Bumi.


Tenang! Tak mungkin bisa jika Bunda saja sudah hampir tak sadarkan diri.

__ADS_1


“Ma-af jika Bunda belum bisa jadi orang tua yang baik buat Bumi. Bunda hanya bikin hidup Bumi susah, Bun—“ napas Bunda menipis karena berusaha untuk bicara.


“Bun-da belum mampu buat Bumi ba-hagia. Bahkan saat-saat te-rak-hir pun Bunda malah bikin ka-mu na-ngis,” tutur Bunda. Tangannya perlahan terangkat untuk menggapai pipi Bumi.


Bumi menggeleng, ia dengan sigap meraih tangan Bunda dan meletakkan sendiri dipipinya.


“Bunda kenapa ngomong gitu?” Bumi tak mampu berkata lagi. Suaranya seakan hilang tertelan ditenggorokan. Sangat sesak melihat orang yang ia sayangi seperti ini.


“Bumi maafin Bundakan?”


“Nggak! Bumi ga akan maafin Bunda kalo Bunda ngomong kaya gitu lagi!”


Bunda tak menanggapi, wanita itu justru tersenyum sambil memejam mata membuat Bumi semakin gelisah.


“Bunda!”


“Ja-ga diri Bumi baik-baik, maafin Bun-da!”


“Bunda!”


”Bunda!”


Teriak Bumi berkali-kali namun wanita yang ia panggil itu tak lagi merespon karena mata yang sudah tertutup dengan rapat.


Menyisakan Bumi yang semakin terisak.


Jangan kau ambil sesuatu yang berharga dihidup Bumi, Tuhan. Bumi ga akan sanggup!

__ADS_1


__ADS_2