Langit Story Bumi

Langit Story Bumi
Godaan Lebah Kecil


__ADS_3

...Pelangi, bisakah kau hadir sekarang?...


...Agar bisa menjadi jembatan bagi Langit untuk turun ke Bumi...


...Menjemput bidadari agar tak terlalu lama menunggu...


...Memberikan warna yang indah agar langit menjadi semakin cantik...


...Agar bidadari tak pergi meski langit berubah kelabu....


...L.A.NG.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...


...Karena Kamu, Langit...


🐝Godaan Lebah Kecil🐝


***


Pagi menyongsong, mentari pun sudah mulai merangkak naik ke peraduan. Seperti hari kemarin, hari ini pun Bumi juga menunggu Langit.


Tadi malam, hanya ucapan selamat tidur yang Langit kirimkan lalu setelah itu hanya centang satu yang tergambar pada pesan yang Bumi kirimkan.


Rasa khawatir menderu Bumi, bahkan tadi malam ia terus-terusan mengecek ponsel.


Cukup lama Bumi menunggu, akhirnya Langit datang. Namun kali ini cowok itu mengendarai mobil.


Bumi menyerngit, biasanya Langit hanya menggunakan mobil saat mereka akan jalan, itu pun jika hari sedang terik.


“Langit sakit? Dari tadi kok diam aja?” Tanya Bumi saat keadaan dalam mobil begitu hening. Wajah Langit terlihat lelah, bahkan matanya juga sayu.


Bumi memberanikan diri mengecek suhu tubuh Langit, yang ternyata hangat.

__ADS_1


“Badan Langit hangat! Langit sakit? udah minum obat? Atau mau Bumi beliin?” Bumi panik, ia memutar tubuh ke samping untuk melihat wajah Langit lebih jelas.


“Gue baik-baik aja! Bentar lagi juga baikan,”


“Tapi nanti pas disekolah, kita harus ke uks! Langit harus minum obat dan Langit harus mau! Atau perlu nanti Bumi yang seret Langit buat ke uks!”


Langit mengangkat sudut bibirnya,


“Kok senyum sih? Ga ada yang lucu!” Bumi mencebik, ia sudah memberi ancaman dan tak memerima penolakan ataupun tawaran karna Bumi bukan pasar tanah abang.


“Gue seneng!”


Mata Langit fokus menatap jalanan, tapi seakan pikirannya melayang jauh.


“Senang karna apa? Apa senang karna diperhatiin sama Bumi?” Tanya Bumi dengan percaya dirinya sekaligus menggoda Langit sambil mencolek dagu Langit.


Langit terkekeh “Semakin berani ya sekarang?”


Sekarang ia duduk dengan melipat kaki di kursi. Menyandarkan kepala pada dashbor mobil. Matanya memicing menatap Langit dengan tatapan merayu.


“Iya, gue senang karna diperhatiin sama lo!”


Napas Bumi mendadak berhenti sesaat. Niat menggoda Langit malah ia yang tergoda.


“Wajah lo yang cemas membuat gue gemas!” tangan Langit menggapai puncak kepala Bumi dan mengacak pelan rambut Bumi.


“Iiih, jangan rusak rambut Bumi, nanti imutnya hilang!” Bumi membetulkan rambutnya yang sedikit kusut karena ulah Langit sambil menggerutu.


Bumi mengambil ponsel dari dalam tas, mengeluarkannya lalu mencari aplikasi kamera. Mengamati setiap sudut rambut yang baru saja di acak Langit. Beruntung masih bisa dirapikan.


Benerin rambut aja bisa selucu itu

__ADS_1


Langit bergumam dalam hati. Semakin lama di dekat Bumi membuatnya semakin jatuh pada keimutan cewek disampingnya.


Sekarang mereka sama-sama jatuh. Bumi jatuh pada pesona Langit, sedang Langit jatuh pada keimutan Bumi.


Pelangi, bisakah kau hadir sekarang?


Agar bisa menjadi jembatan bagi Langit untuk turun ke Bumi


Menjemput bidadari agar tak terlalu lama menunggu


Memberikan warna yang indah agar langit menjadi semakin cantik


Agar bidadari tak pergi meski langit berubah kelabu.


“Langit!” panggil Bumi membuyarkan pikiran Langit.


Langit menoleh lalu kembali mengemudi dengan perlahan.


“Coba liat banner yang disana!”


Bumi menujuk pada banner salah satu toko. Langit menepi sejenak untuk mengamati banner yang ditunjuk Bumi.


“Kalo “S” nya dihilangin jadi apa?” Bumi tersenyum saat melihat ekspresi Langit yang serius.


“Sale view” gumam Langit pelan lalu kembali berujar “Ale view,”


“Ale view too!” balas Bumi dengan cepat sambil nyengir ke arah Langit.


Langit juga ikut tergelak, rupaya Bumi sedang dalam mode marayu.


“Lebah kecil sedang menggoda Pak Kurir!”

__ADS_1


__ADS_2