
...L.A.N.G.I.T.S.T.O.R.Y.B.U.M.I...
...Karena Kamu, Langit...
🐝Tamu di Pagi Hari🐝
***
“Ga lucu Bunda. Bunda, bercandakan?” Tanya Bumi gelagapan. Mata yang tadinya ngantuk mendadak segar seketika.
“Beneran, Bunda ga bercanda. Liat aja ke ruang tamu,” jelas Bunda melenggang meninggalkan Bumi yang masih shock.
“Langit cowok yang Bumi sukakan?” pertanyaan Bunda menghentikan lamunan Bumi. Disisi pintu, Bunda tersenyum menggoda.
Bumi mengintip, memastikan jika Bunda tak salah orang. Dengan pandangan yang terbatas karena terhalang tembok, Bumi melihat Langit sedang duduk disofa sambil memainkan ponsel.
Ah tidak! Memang benar-benar Langit. Sedang apa Langit ke rumahnya. Apa cowok itu mau mengambil hodie?
Bumi bergegas ke arah dapur untuk memastikan bahwa hodie Langit telah kering. Sedikit mengacak pakaian bersih yang diletakkan dalam keranjang seusai dicuci dengan menggunakan mesin cuci.
Ya, meskipun butut, setidaknya mesin cuci itu cukup membantu terutama saat ini. Bumi bernapas lega saat hodie Langit ternyata telah kering dan wangi.
Bumi bergegas masuk kembali ke dalam kamar sebelum Langit melihat wajahnya yang berantakan. Sangat tak adil jika Langit melihat wajahnya yang tak berbentuk sedangkan Bumi selalu melihat wajah Langit yang keren.
Mandi dan sedikit memoles bedak pada pipi, Bumi keluar kamar dengan rasa bertanya-tanya. Tak ada Langit di ruang tamu. Bumi sempat berpikir cowok itu telah pergi karena lama menunggu.
__ADS_1
Tapi Bumi salah, Langit duduk di meja makan sambil berbincang dengan Bunda.
Bahkan didepan Langit sudah terhidang nasi beserta lauk dan sayur yang telah dimakan.
Apa Langit numpang makan dirumahnya?
“Kamu lama banget sih, Sayang. Kasian temannya nunggu lama. Sini, cepetan makan!” titah Bumi saat Bumi mendudukkan tubuh dikursi.
Terlihat Langit sangat lahap memakan masakan Bunda. Bumi tak mengerti situasi yang ia alami. Apa Langit sedang kerasukan jin? Tiba-tiba saja seolah bersikap ingin dekat dengannya.
Bunda meletakkan piring yang sudah diisi dengan nasi dan juga lauk.
“Kalian makan yang banyak ya, Bunda mau lanjut menjahit baju pesenan temen Bunda,”
“Terimakasih, Bunda,” ucap Langit diluar dugaan. Bunda, sejak kapan Langit juga ikut memanggil Bunda.
Maksudnya apa gitu?
Tapi yang ditatap seperti merasa tak ada yang aneh. Mengangkat alis sebentar lalu lanjut menyuapkan satu sendok nasi ke dalam mulut dengan santainya.
Bunda mengangguk lalu beranjak ke ruangan yang memang khusus untuk menjahit.
Bunda juga aneh!
“Langit sedang apa disini?” Tanya Bumi dengan nada penuh selidik.
__ADS_1
“Makan,” Langit sedikit memiringkan wajahnya sambil mengarahkan pandangan pada piring didepan. Benar sih, tidak salah. Yang dilihat pun Langit memang sedang makan. Tapi bukan itu yang Bumi maksud.
“Bumi juga tau, maksud Bumi-“
“Gue udah selesai,” tutur Langit sambil meminum segelas air putih. Sungguh seperti tamu yang tak tau diri.
“Habisin makanan lo, 15 menit gue tunggu untuk siap-siap,” Langit beranjak dari meja makan dan menuju ke tempat cuci piring.
“Ke-kemana?”
“15 menit!”
15 menit untuk siap-siap. Yang benar saja! Bahkan perempuan bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk siap-siap.
Belum lagi harus memilih baju yang penuh dilemari namun selalu berkata tak punya baju jika diajak jalan.
Bumi menghabiskan makan dengan cepat. Bahkan waktunya hanya 13 menit sekarang.
Sial sekali!
Bersiap mau kemana memangnya? Bumi mengamati isi lemarinya. Tak ada yang cocok! Ia kesal, bahkan Langit hanya memakai kaos oblong tapi tetap terlihat keren.
Dengan tergesa, Bumi keluar kamar. Langit sedang duduk disofa dengan santainya. Ketika melihat Bumi, cowok itu memasukkan ponsel ke dalam saku dan beranjak berdiri.
“Kita mau kemana?”
__ADS_1
“Jangan banyak tanya!”
What! Seenaknya sekali cowok didepannya ini.