
Keheningan di pagi hari dalam gelapnya awan yang masih belum menerangkan sinarnya mentari, bunyi suara siulan burung yang sedang saling bersahutan membunyikan suara merdunya, kini terasa membuat damai dan tenang dalam hati. Di mana kini aku sedang menunggu seseorang yaitu wanita yang selama ini selalu kudambakan.
Diri ini selalu bertanya-tanya akibat telah membayangkan nyali yang begitu ciut, saat-saat bila sedang berhadapan dengannya.
"Ah ... lama betul belum datang-datang," gerutuku dalam hati.
Sudah hampir setengah jam menunggunya, tapi tak nampak sekali dia akan segera muncul.
"Tin ... tin ... tin," Suara bunyi klakson mobil telah berbunyi, tanda orang yang kutunggu sudah datang.
"Lama ya nunggunya? Maaf lama, ya. Soalnya biasalah tadi, mama sama papa agak sedikit ceramah," Penjelasan wanita yang kutunggu, di mana sekarang ia sudah keluar dari mobilnya.
"Gak pa-pa, ayo cepat kita berangkat ke sekolah sekarang sebab bisa telat kita nanti," ucapku dengan menyuruhnya segera menaiki sepeda buntutku.
Beginilah hari-hariku menunggu majikanku sendiri yaitu nona Amel pratiwi, yang selalu sering menunggunya di pinggir jalan, untuk bersama-sama bareng berangkat ke sekolah.
Entah mengapa dia itu punya segala kemewahan termasuk sebuah mobil yang sudah lengkap dengan sopirnya, tapi dia selalu saja ngotot ingin bersamaku berangkat ke sekolah, padahal naik sepeda 'kan panas. Tapi kesetiaanku pada majikan atas semua keinginannya tetap harus terjaga dan terpenuhi, demi kelancaran pekerjaan ibuku yang bekerja dirumahnya.
Namaku Alex Prasojo seorang pemuda yang masih kelas 2 SMA, yang memiliki wajah ganteng dan cool tapi hanyalah anak dari seorang pembantu, yang kebetulan sedang bekerja di rumah nona Amel.
Walaupun dia adalah majikanku dan kami seatap dan sebumbung dalam satu rumah, aku sebagai anak pembantu tetap harus menghormatinya sebagai majikan di tempat ibuku bekerja. Tapi lain halnya ketika kami di sekolah, canda tawa seperti teman biasa tetap kami jalani sehingga melupakan semuanya bahwa kami sebenarnya adalah pembantu dan majikan.
"Non Amel," Panggilku.
"Heeeh ... ada apa?" jawab singkat majikanku, yang tengah asyik kubonceng di belakang sepeda.
"Non, kenapa sich berangkat sekolah gak naik mobil saja? 'Kan enak gak kena angin apalagi kepanasan, dan yang terpenting apa non Amel gak capek dan malu naik sepeda bersamaku?" tanyaku.
"Ya ampun Alex, sudah berapa kali kujelaskan. Pokoknya gak ada alasannya kenapa aku mau dibonceng sama kamu, yang terpenting kamu selalu harus berangkat sekolah sama aku, ngak boleh ada yang lain. Masalah malu, buat apa malu! Yang terpenting aku 'kan ngak ngerepotin orang lain. Lagian sudah bosen naik mobil terus, naik sepeda 'kan asyik sebab mata bisa melihat pemandang disepanjang perjalanan yaitu betapa indahnya panorama jalan. Lagian udara pagi itu segar dan menyehatkan," penjelasan panjang lebarnya.
"Tapi Non, kalau tuan besar dan nyonya tahu gimana? Bisa-bisa aku dan ibu bisa di usir dari rumah non dan kehilangan pekerjaan," tanyaku lagi pada non Amel, dimana nafas sudah mulai ngos-ngosan mengayuh sepeda.
"Tenang saja, kalau nanti ketahuan akulah yang akan tanggung jawab."
"Hufff, ok dech kalau Non mau tanggung jawab," jawabku dengan nafas yang sudah tersengal-sengal berat.
Akibat tiupan angin yang terlalu begitu kuatnya, sehingga angin terasa menghempas tubuh saat sepeda yang sedang kukayuh semakin lama rasanya semakin berat dan susah untuk mengayuh.
Sebagai orang bawahan selalu saja harus sering kalah omongan sama majikan. Rasa takut akan kehilangan pekerjaan membuat perasaan ini khawatir was-was, tapi di lain sisi tak ada pilihan lain saat keinginan non Amel harus tetap dipenuhi. Jika diri ini menolak majikan maka dia akan marah dan tidak mau berbicara apalagi bertegur sapa denganku, seperti hal-hal yang telah terjadi sebelum-sebelumnya.
Aku tidak menginginkan dia mendiamkanku sebab bagiku itu sangat menyakitkan, karena dalam diam rasa menyukainya mulai muncul. Tapi sayangnya nyali begitu kecil untuk mengungkapkan semuanya. Batasan antara orang kaya dan miskin menjadi alasan utama dan aku sudah sadar siapalah diri ini, jadi perasaan cinta padanya tetap terpendam dan akan menjadi rahasia yang terpatri dalam hati.
Diam inilah caraku bisa mencintainya, hanya sebatas dapat memandangi wajahnya yang mententramkan hati sudah cukup bagiku untuk merasakan kebahagiaan.
Tin ... tin, suara bel motor menghampiri kami yang tengah sekuat tenaga diriku sekarang mengayuh sepeda.
"Amel, ikut aku saja. Lihat! Alex pasti sudah kecapean, terlihat dari peluhnya yang sekarang sudah mulai mengalir deras sebab telah membonceng kamu," sapaan Iwan kepada kami, dimana dia kini sedang menaiki motor ninjanya yang berwarna hijau.
"Ah ... gak mau Iwan, lagian aku sudah bosen karena keseringan naik motor sama kamu. Lagian takutnya nanti cewek-cewek pada ngamuk lagi seperti yang kemarin-kemarin, sebab kamu telah memboncengku. Naik sepeda sama Alex saja enak, iya 'kan Alex?" ucap non Amel yang secara tiba-tiba tangannya mulai erat melingkar dipinggangku.
Rasa dag ... dig ... dug dalam hati membuat tubuhku mulai gugup tak karuan, tapi di sisi lain kini hati sedang bersorak ria akibat merasakan rasa gembira dan senang.
Gugup yang melanda memunculkan desiran halus yang begitu aneh terasa sekali sedang menusuk sampai dada, yang tak bisa lagi kuterjemahkan dan tergambarkan, ada rasa apa sebenarnya dalam hati yang sedikit ngilu mulai berdetak kencang tak karuan ini.
"Alex?" panggil nona Amel, yang mungkin sudah merasakan kini aku tengah melamun.
"Eh ... iya, non. He ... he, maaf," jawabku cegegesan terkejut dengan panggilan nona Amel.
"Iya Iwan, terserah non Amel saja mau bareng sama siapa yang terpenting dia nyaman saja," jawabku yang ikut menolak atas permintaan Iwan.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu, aku akan pergi duluan. Kalian hati-hati di jalan," Peringatan Iwan kepada kami.
"Siiip, ok!" ucapku dengan mengacungkan jempol.
Wesss ... brumm ... brum suara motor Iwan yang sudah jauh dari pandangan kami.
Aku dan Iwan adalah teman baik sejak kami sama-sama masih di sekolah dasar(SD), namun bedanya ia anak orang kaya sedangkan aku hanyalah anak orang yang tak punya yaitu sebagai anak dari pembantu.
Setelah berkutat dalam jalanan, yang mulai di padati oleh orang-orang yang sedang berangkat kerja, akhirnya kami sampai juga di sekolahan.
Semua teman dan guru tak memandang statusku yang miskin, tapi mereka semua justru baik padaku sebab selain pintar, ternyata mereka suka atas kesederhanaanku yang baik hati dan suka menolong, hingga membuatku menjadi siswa yang terpopuler di sekolahan.
Entah mengapa setiap ada cewek yang berusaha mendekatiku, Amel selalu saja menunjukkan wajahnya yang kesal dan marah, seperti orang tak suka apa yang tengah kulakukan dengan para cewek itu.
"Eh ... Alex, lihat Amel itu! orangnya selain periang dia cantik juga lho, banyak cowok-cowok di sekolahan kita yang menginginkannya. Memang kamu ngak tertarik sama dia?" tanya temanku Niko.
Aku dan Niko sekarang sedang melihat Amel tertawa riang bersama teman-teman ceweknya, dimana semua siswa-siswi sekarang sedang berjalan menuju lapangan olahraga.
"Entah," jawabku santai.
"Kok entah, nanti di embat sama orang lain baru tahu rasa. Aku ini tahu kamu Alex, kamu ada hati sama Amel tapi tak berani mengungkapkannya," imbuh perkataan Niko padaku.
"Entahlah Niko, aku memang ada perasaan sama non Amel. Tapi lihatlah statusku yang bagaikan bumi dan langit. Kalaupun dia juga mencintaiku pasti itu adalah sebuah keajaiban, tapi bagiku itu pasti mustahil akan terjadi karena orang tua non Amel sudah memberiku peringatan agar menjauh," ujarku penuh penjelasan.
"Tetaplah semangat Alex. Cinta itu kadang tak memandang apapun termasuk status. Yang terpenting kalian saling mencintai pasti jalan akan terbentang luas terbuka lebar untuk bisa menyatukan cinta kalian. Pasti aku akan selalu mendukungmu, jadi tetaplah semangat dan jangan terlalu berkecil hati, ok!" ucap Niko mendukung.
"Terima kasih Niko, atas semua dukunganmu. Kamu memang teman terbaikku, tapi ngomong-ngomong aku juga belum tahu tentang perasaan nona Amel terhadapku. Apakah dia juga sama sepertiku yang sedang diam-diam mencintainya?" ujarku dengan perasaan penuh tanda tanya terhadap majikan.
"Gak usah banyak dipikirkan. Aku tahu kalau Amel juga suka sama kamu. Lihat! Contohnya sekarang ini, dari sembari tadi dia selalu menoleh belakang mungkin sedang mencuri-curi padang untuk menatapmu," ujar Niko memberitahu.
Niko sedang melihat ke arah Amel, yang dirasanya sudah sangat aneh sebab tak henti-hentinya menoleh ke belakang hanya tertuju melihat kearahku seorang, yang padahal kami semua tengah berjalan beramai-ramai bersama.
"Idiiih, dibilangin tak percaya. Lihat dan perhatikan sendiri sana!" jawab Niko ketus.
Aku langsung merangkul pundak Niko, sambil berpura-pura polos tidak melihat Amel yang ternyata memang telah memperhatikanku. Semua kenyataannya betul adanya, mulut Amel sedang berbicara sama temannya tapi netra selalu mencuri-curi menatapku yang jauh berjalan berada tepat di belakangnya.
Olahraga hari ini pria bermain Basket, sedangkan para wanita bermain Voli. Suara mengelegar sorak penuh ceria dilakukan oleh para siswi perempuan, yang sedang riuh ramai berusaha menyemangati timku supaya dapat memenangkan permainan.
"Ayo ... semangat ... Alex .... semangat," para perempuan teman sekelas berusaha bersorak menyemangatiku.
"Oper Alex ... cepat ... sini ... oper," ucap Iwan.
Kedua tangan di naikkan ke atas siap menerima operan bola, dimana Iwan sudah menjadi satu tim untuk bermain denganku.
"Lempar ... sini ... Iwan, bhuugh," suara bola telah berhasil dimasukkan Niko dalam keranjang yang telah dapat operan dari Iwan.
"Yess ... huhuhu," sorak gembira timku, telah berhasil menambahkan poin dalam permainan bola basket.
Permainan begitu sengit antara tim kami dan lawan, tak terelakkan membuatku sering jatuh akibat mengimbangi lawan yang ternyata juga kuat dan lihai dalam bermain basket.
"Aduuh ... akgh," Suara seorang perempuan kesakitan kerena jatuh.
"Non Amel?" pekikku terkejut yang melihatnya kini sudah terduduk akibat jatuh memegangi lutut.
"Amel?" Suara Iwan yang sudah secepat kilat berlari mencoba mendahuluiku yang mencoba datang menolong.
Aku bertujuan segera ingin menolong majikan, tapi langkah begitu lambat sehingga kalah cepat dari Iwan.
"Kamu gak pa-pa?" tanya Iwan yang langsung ingin menolong non Amel.
__ADS_1
"Saya gak pa-pa Iwan, iiish ... ssss," Suara desis non Amel kesakitan, akibat lututnya terluka dan sekarang terlihat sudah mulai mengeluarkan darah.
"Mari aku bantu," tawar Iwan yang segera ingin menolong.
"Gak usah Wan, terima kasih atas kebaikanmu. Aku ada bodyguard di sini yang sudah selalu siap siaga dan setia membantu, jadi maaf ya!" tolak halus non Amel.
Seketika wajah Iwan menyeringai langsung menatap kearahku seperti orang yang sedang tak suka.
"Alex cepat sini, bantuin!" suara manja non Amel berusaha memanggilku.
Kini posisi diri ini tengah berdiri tepat di samping Iwan dan majikan.
"Kok bengong, ALEX!" pekik majikan dengan tangan sudah disodorkan supaya aku segera membantunya berdiri.
"Tapi non," ucapku berusaha menolak, karena tak enak hati sama Iwan yang tadi sudah berusaha duluan untuk menolong.
"Alex, ayo cepat! Sakit nich ... cepetan dong Alex," Suara nada manja penuh kesal non Amel karena aku tak secepatnya merespon perintahnya.
"Iya ... iya non, sini aku bantu," tawarku dengan mencoba membantunya berdiri.
"Apaan sich, aku gak mau dipapah maunya sekarang digendong," Suara nada perintah atas permintaannya yang manja dan aneh.
"Cieeeh ... cieehhh," suara teman-teman sekelas berusaha menyoraki perintah non Amel barusan.
"Heeeh ... ya ampun non. Ngak malu apa?" gumanku dalam hati malu.
"Ayo Alex, cepetan!" Nada kesalnya menyuruh.
Akibat ulah kemanjaan majikan sendiri, rasa malupun sudah ketepis jauh-jauh. Kalau bukan demi cinta dan perintah majikan pasti kutolak mentah-mentah permintaannya.
"Ayo Alex, sakitnya sudah gak tertahan, nih!" Dengan tak sabarnya non Amel masih memerintahku.
Dengan keterpaksaan dan rasa malu yang kini menyelimuti, kugendong segera non Amel di belakang punggungku untuk membawanya ke ruang UKS, supaya secepat mungkin mendapatkan perawatan dan mengobati lukanya.
Tak butuh lama kamipun akhirnya datang ke ruang pengobatan, dengan diri ini sudah banjir berpeluh keringat akibat kelelahan mengendong.
"Eithhh ... mau kemana?" cegah ucapan non Amel.
"Mau panggil guru UKS. Memang non Amel sakitnya gak mau diobati?" tanyaku.
"Kamu aja yang mengobatinya," perintah majikan.
"Tapi non, 'kan ... ada guru yang lebih tahu cara ngobatinya," tolak ucapanku atas permintaannya.
"Kamu sekarang mulai sering membantah permintaanku, ya ... sudah pergi sana! aku gak butuh orang seperti kamu yang gak ihklas menolong," ucapnya ketus dengan bibir mulai monyong dengan wajah sudah memalingkan muka tak mau menatap ke arahku.
"Huffff, ya ampun non," desahku kesal atas sikap non Amel yang mulai marah.
"Ya sudah sini, biar aku yang mengobatinya," ucapku dengan langsung duduk di bawahnya, membuka sedikit celana olahraga untuk dinaikkan keatas, supaya terlihat luka agar membantu mengoleskan obat.
Mulut berusaha meniup-niup luka agar majikan tidak terasa perih saat obat sudah teroleskan. Anehnya sekarang, walaupun luka sudah berhasil kuobati majikan masih saja tetap memalingkan muka tak mau melihat wajahku. Tapi mataku tak lepas terus menatap ke arahnya, dimana terlihat ada senyuman kecil tersembunyi yang terlukis di bibir manisnya, kemungkinan majikan berusaha menyembunyikan senyuman itu biar aku tak mengetahuinya, sebab kemarahan mungkin masih menyelimuti dirinya
"Udah beres non, ngobati lukanya. Jadi jangan marah lagi, ya!" ucapku yang sudah berdiri mengulurkan tangan mencoba membantunya berdiri tegak.
"Siapa juga yang marah sama kamu? Sekarang yang ada aku cuma kesal dan benci sama kamu," ucap non Amel yang langsung nyelonong melenggang pergi untuk segera menghilang dari pandanganku.
"Ya ampun di mana sebenarnya kesalahanku? Ditolong salah, gak ditolong bertambah salah," gumanku dalam hati.
Tak tahu kesalahan apalagi atas tindakanku sekarang. Tangan mengaruk-garuk rambut atas kepala akibat binggung. selalu membuatku bahagia atas nama cinta.
__ADS_1