Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Kepasrahan hati saat dia bersanding


__ADS_3

Manusia hanyalah bisa menjalani takdir saling bertemu dan berpisah, jika sudah sedemikian rupa Allah yang mengaturnya. Kesulitan hidup yang kemarin, telah membawa diri ini ke takdir yang tak terduga bersama ibu dan Amel.


Bisnis-bisnis peninggalan Papa Amel yang tak bisa dijalankannya, kini menjadi tanggung jawabku. Walau sebenarnya pada awal-awal waktu ada penolakan, tapi Amel berusaha menyakinkan dengan memberi kepercayaan bahwa aku bisa mengelola semua bisnis peninggalan, sebab kata Amel tak diragukan lagi atas kepintaranku walau tak ada izasah.


Semua yang terjadi hari ini adalah ketentuan dari yang maha pembuat takdir. Diri ini hanya bisa pasrah atas segala kehidupan yang digariskan padaku. Amel adalah wanita satu-satunya, yang takkan pernah terhapus dihatiku. Namun keadaan yang serba tak memungkinkan, kini telah kurelakan dan mengihklaskan dia untuk melangsungkan pernikahan bersama orang lain. Dalam hati begitu sedih, tapi nak berkata apa lagi, saat semua sudah menjadi suratan yang diberikan oleh Allah yang maha kuasa.


"Akhirnya kamu akan menikah juga, Amel. Sungguh bahagia yang terjadi pada kau kini, ternyata terasa sekali menusuk jantungku. Walau engkau bahagia diatas penderitaanku, namun diri ini akan senang jika kamu bisa bersanding bersama orang lain," rancau hati yang sudah menitikkan airmata.


Kini rumah Amel telah dipenuhi keluarga Iwan dan semua para kerabat Amel dari luar kota, berserta teman-teman kami dulu ketika sekolah, yaitu untuk menyaksikan acara yang sakral sekali seumur hidup. Ingatan akan cinta kami masih segar dalam pikiran. Entah mengapa, acara pernikahan ini dari sembari tadi membuat dadaku terus saja berdenyut nyeri.


"Aaah, kenapa jantungku sakit sekali? Apakah diri ini akan terasa mengila saat cinta yang sempat ada, kini akan nampak hilang didepan mataku sendiri?" guman hati sibuk memegang dada yang bergetar sakit.


Detik-detik saat Amel digiring ibu untuk memasuki kamar rias pengantin, tatapannya menyiratkan sebuah harapan, yang seolah-olah ingin meminta tolong padaku. Wajahnya terlihat sendu sekali, tak ada senyuman sedikitpun yang terukir di wajahnya.


"Apakah Amel masih berharap dengan cintaku? Aah, mana mungkin? Tapi tatapannya itu nampak sekali ada permintaan sebuah harapan," Hatiku yang terus saja berbicara.


Tapi nasi sudah menjadi bubur, semua kejadian diantara kami tidak bisa diputar lagi, semua harus terelakan untuk menghadapinya dengan kesabaran.


Acara ijab qobul pernikahan telah digelar. Pelaminan dengan nuansa bunga mawar merah putih, sungguh menakjubkan disetiap mata memandangnya, menambah kesan betapa megah dan istimewanya untuk acara sepasang anak manusia yang akan terikat dalam ikatan janji suci yang halal.


Iwan kini begitu tampannya dengan memakai kemeja putih berbalutkan jas hitam, dengan rambut hitamnya tersisir secara klimis, menambah betapa gagahnya dia menjadi calon pengantin pria.


Para keluarga dan tamu begitu sumringah tersenyum bahagia, tapi lain sekali dengan Amel sebagai pengantin wanita. Wajahnya sembari tadi terus saja nampak ada semburat kemurungan, terlihat sekali ketika aku masuk ke kamar rias saat memberikan baju pengantin yang akan dipakainya nanti.


"Mbak ini bajunya! Aku taruh disini!" ujarku sambil melirik melihat Amel dan ternyata dia juga berbalik sedang melirikku.


"Mbak, kenapa menangis? Nanti bisa luntur riasannya!" ucap si mbak perias pada Amel.


Aku hanya bisa tertegun menatap, rasanya tak tega melihat hari bahagia beruraikan airmata.


"Ya Allah, apa yang harus kulakukan? Apakah aku telah salah menjerumuskan Amel dari penderitaan cinta. Dia terlihat sedih sekali dihari bahagianya ini. Aah, apakah diri ini telah salah menyerahkannya pada orang lain? Maafkan aku Amel, aku tidak ingin membuatmu menderita bersamaku lagi, cukup kemarin-kemarin saja kita bersama menghadapi masalah yang menimpa kita, dan kini kamu berhak untuk bahagia walau bersama orang lain," tuturku dalam hati, dibalik pintu rias pengantin, dengan lelehan airmata yang mulai terjun dari sudut pelupuk mata.


Aku hanya bisa menarik nafas panjang, mencoba biasa-biasa saja dalam tindakanku. Mungkin semua tendengar lucu, ketika orang yang kucintai telah kurestui bersama orang lain. Lalu aku bisa apa? Kenyataan takdir yang ternyata sudah tak berpihak padaku.

__ADS_1


Dan entah, sudah berapa moment cinta kami sudah terabaikan, saat masih bersama kala itu.


Hampir satu jam lebih kami menunggu acara ijab qobul. Semua orang mulai berbisik-bisik, karena tak sabarnya menunggu acara akan berlangsung. Namun Amel tak kunjung-kunjung keluar jua dari kamar riasnya.


"Iwan, coba kamu lihat Amel sebentar" ucap mamanya.


"Ayo kita lihat, Iwan. Lama betul Amel dandannya," ibu menimpali mengajak Iwan.


"Iya, bu. Ayo!" Setujunya Iwan menjawab.


Akhirnya Iwan dan ibu, segera menemui Amel yang sedang berias di lantai 2. Entah mengapa perasaanku tak enak, saat ibu dan Iwan tak muncul-muncul juga untuk membawa Amel turun.


Wajahku masih saja kututup masker, rasanya malu pada orang-orang yang belum mengetahui keadaanku.


Perasaanku begitu senang bertemu teman lama waktu sekolah SMA. Mereka terlihat begitu sukses semua, tak sepertiku yang pintar tapi tidak bisa menyamai mereka, akibat sebuah tragedi yang membuat diri ini tetap miskin sampai sekarang.


"Ha ... ha ... ha," gelak tawaku ngobrol bersama teman, menceritakan hal-hal lucu waktu sekolah yang sama-sama masih bersama dulu.


"Gimana kabarmu sekarang, Alex?" tanya temanku.


"Wahh, Alex kami salut kepadamu. Kalian itu dulu adalah pasangan termesra dan terheboh disekolah, tapi kini cintamu telah berakhir pada teman sendiri. Memang kau tidak sakit hati?" imbuh tanya teman lain.


"Alhamdulillah tidak. Mungkin semua sudah takdir yang sudah digariskan Allah untukku," Kepasrahanku berucap.


Obrolan kami terus berlanjut dengan serunya, karena mengenang masa-masa indah waktu remaja disekolah.


"Hei, lihat ... lihat? Bukankah itu pengantin perempuan? Apa yang sedang dia lakukan?" ucap salah satu tamu.


Praank, gelas minuman telah terlepas dari genggaman tanganku, ketika melihat Amel berdiri diatas pembatas penghalang lantai dua. Dapat kulihat tangan Amel kini sudah begitu gemetaran memegangi tembok. Aku yang melihat kejadian itu langsung berlari menaiki tangga, dimana dia sudah berdiri ingin melompat.


"Hentikan Amel ... hentikan? Apa yang kamu lakukan?" teriakku marah dengan nada suara sungau, akibat masih bertutupkan masker.


Aku yang khawatir dan tak tahan melihat dia akan celaka, kini mencoba memajukan langkah mendekati posisinya.

__ADS_1


"Tidak ... tidak Alex ... tidak, kamu jangan mendekat ke sini! Atau aku akan segera melompat dari sini," tolaknya berucap.


"Kamu jangan gila, sini Amel ... sini, raih tanganku, Ok!" pintaku dalam ketakutan.


"Tidak Alex ... tidak, maafkan aku," Bergetar suaranya menangis.


Rasa khawatir sudah tak tergambarkan lagi dalam diriku, melihat Amel akan benar-benar nekat bunuh diri. Langkah sedikit demi sedikit mulai maju mendekati, untuk segera membujuknya agar mau turun.


"Ayolah Amel, kamu harus turun," pintaku.


"Tidak bisa. Maafkan aku, Alex. Cintaku padamu tak bisa tergantikan oleh orang lain. Dihati ini hanya ada cintamu, aku sungguh tak ingin orang lain mengantikan posisimu," Tangisnya pecah yang mulai sesegukan.


"Iya, aku tahu itu. Sekarang kamu turun dulu, oke!" ucapku yang masih berusaha membujuknya.


"Aku tidak akan turun. Kamu selalu bohong bahwa tak mencintaiku lagi, yang pada kenyataanya ada namaku dihatimu. Kau sungguh tega menyerahkan hati ini untuk orang lain. Sekarang akan kubuktikan bahwa cinta ini hanya untukmu, sebab dengan aku mati pasti kau akan percaya bahwa diri ini sangat mencintaimu!" kekuhnya perkataan Amel.


"Aku tahu Amel!" bentakku melengkingkan suara, akibat Amel tak mau mendengarkan ucapan.


"Kenapa kamu tidak paham-paham. Apakah kamu sudah buta melihat wajahku, yang tak pantas untukmu ini, hah?" teriakku dengan gemerutuknya gigi.


Tak kupedulikan lagi para tamu yang berbisik-bisik mengunjing, yaitu saat tangan sudah melepaskan masker, sehingga memperlihatkan wajah yang sudah mengerikan seperti monster hantu.


"Aku tak peduli atas wajahmu yang seperti monster itu, yang kuinginkan sekarang adalah hatimu. Rasa yang singgah kemarin ternyata sudah engkau lupakan, kenapa ... kenapa Alex? Apakah pintu hatimu sudah tertutup untukku? Diri ini begitu setia menunggu cintamu, bahkan ketika engkau telah dikebumikan kemarin, namamu selalu saja terukir dalam hatiku. Apakah sudah tak berartinya diriku ini untukmu? Sehingga kamu tak menginginkan lagi cinta kita?" Sendu tangisnya dalam mengungkapkan rasa.


"Iya aku paham, sekarang turunlah!" bujukku berulang kali, dengan kaki terus saja semakin dekat ditempat dia akan melompat.


"Betul Amel, turunlah sekarang. Kita bisa bicarakan ini semua dengan baik-baik," bujuk ibu dan calon mertua Amel, yang sudah terlihat ada guratan kecemasan.


"Maafkan aku buk, tante. Aku tidak bisa memenuhi keinginan kalian untuk menikah dengan Iwan, sebab hatiku bukan untuknya melainkan untuk orang lain," ngototnya Amel yang masih berkeinginan bunuh diri.


Amel terus saja merancau berucap, dengan deraian airmata yang tak terbendung lagi terus meleleh membasahi pipi yang abru setengah ber make-up.


"Maafkan aku, Alex. Maaf ... maafkanlah diriku," ucapnya yang sudah ancang-ancang ingin melompat.

__ADS_1


"Tiiiiiidaaaak," teriak semua orang kompak, saat Amel benar-benar sudah melompat.


__ADS_2