Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Penyelidikan rumah


__ADS_3

Kini aku dan Amel telah berdamai, tak saling terus-terusan bertengkar tanpa alasan yang nyata. Kami sekarang sudah saling bersatu, untuk mencoba mengungkap dalang dibalik tragedi-tragedi yang menimpa kami berdua beberapa tahun kemarin.


"Kita harus mengungkap semua kejadian penculikan itu, Amel!" ucapku meyakinkan.


"Benar, Alex. Aku jadi penasaran sekali atas kejadian semua itu. Kenapa juga mereka menculikku dan mama, sedangkan mereka tak begitu mengenal kami," jawabku setuju merasa curiga.


"Semoga saja kita dapat segera menemukan petunjuk dan membongkar teka-teki ini," imbuh cakapku pada Amel.


"Benar Alex, semoga saja!" jawabku meyakinkan.


Semua informasi dari kantor kepolisian, kutelusuri secara detail, untuk mencari jejak siapa dalang pelaku utamanya. Secara hati-hati kulihat, namun tak ada satupun petunjuk yang jadi bukti. Pikiran hanya tertebak pada keluarga tiri Amel, sebab hanya merekalah yang sudah berani mengrogoti paksa atas harta Amel setelah ditinggalkan orangtua atas namanya.


Motor butut punya Niko sudah terpakai kami, dengan melesat laju untuk segera mendatangi kediaman rumah asli milik Amel sekaligus tempat kerjaku dulu. Kami mencoba bertamu disana, yang semoga saja kami mendapatkan petunjuk.


Ting ... tong ... ting ... tong, bel rumah telah kubunyikan.


Ceklek, pintu telah kubuka perlahan, sebab berkali-kali menekan bel rumah, namun tak ada yang membukanya segera.


Amel hanya mengikuti langkahku dari belakang. Wajahpun tak lepas clingak-clinguk menatap seksama untuk mencoba mencari penghuninya.


"Semoga saja ada barang bukti lanjutan untuk mengungkap semuanya," guman hati sambil menatap seksama.


"Main masuk saja kalian ini, dasar tak sopan," keluh seseorang.


"Wah ... wah, sepertinya kita kedatangan tamu penting nih, pa!" ucap seorang perempuan yang tak kukenal, yang kelihatannya adalah mami tiri Amel.


"Iya, mi. Ckckk, main nyelonong saja kalian. Wah ... wah, makin cantik saja anakku ini, setelah lama kita tak jumpa" ujar seorang pria yang ingin menyentuh wajah Amel.


Dengan sigapnya kucekal tangan pria itu, dengan cara cepat pulak segera membanting kasar tangan beliau.

__ADS_1


"Jangan coba-coba menyentuhnya, atau akan kuberikan pelajaran pada kamu," ucapku kasar tak suka.


"Wow, berani juga ternyata kamu. Emm, ngomong-ngomong semakin kaya saja kamu, Amel. Sudah membawa pengawal segala kesini," ujar papi Amel berbasa-basi.


"Tentu saja. Sebab ingin melindungiku dari kejahatan orang seperti kalian ini. Aku tak akan muluk-muluk banyak bicara disini, aku kembali cuma ingin melihat keadaan rumah apakah masih baik-baik saja atau sudah rusak. Oh ya, diriku cuma ingin memberi peringatan pada kalian tentang pembalasan. Bahwa rumah ini pasti akan jatuh balik lagi ketanganku segera," ancam Amel pada keluarga tirinya.


"Wah, mana bisa. Kami ini 'kan pemilik aslinya," Tak takutnya mami tirinya menjawab.


"Pokoknya aku tetap akan membongkar semuanya," kekuh ucap Amel.


"Ciiih, dasar. Silahkan."


Mulut hanya diam membisu, dengan wajah bertutupkan masker. Diriku kini mencoba mengawasi gerak-gerik keluarga tiri Amel, apabila ada hal yang mencurigakan sebagai pendukung bukti.


Mata tak lepas melihat ke sekeliling keadaan rumah, yang sudah banyak perubahan sebelum kutinggalkan, mungkin keluarga baru Amel yang telah merenovasinya, terlihat dari bau cat seperti baru diganti. Semoga saja diri ini bisa menemukan sesuatu yang ingin kutelusuri, dibalik dalang orang-orang yang sudah membuat wajahku terlihat mengerikan seperti monster hantu.


"Silahkan, terserah apa yang akan kalian lakukan pada kami. Cuma aku mengigatkan saja pada kalian, bahwa kamu takkan menang melawan kami, paham!" ucap papanya balik mengancam.


"Hahahah, lihat mi! Mereka anak ingusan yang baru dewasa kemarin sore saja, sudah berani mengancam kita segala. Ha ... ha ... ha," gelak tawa puas papi Amel.


"Iya, ha ... ha. Memang kami takut? Justru kami akan buat kamu sengsara lagi jika berani mencelakai kami, seperti penyiksaanku pada kamu dihari-hari kemarin," Istrinya menimpali ikut tertawa.


"Aku tak takut," Keberanian Amel menjawab.


Aku tak suka melihat kesombongan dan keangkuhan mereka. Saat sudah selesai mentertawakan kami, dengan wajahnya yang geram marah, beliau mencoba melayangkan tangannya akan menampar Amel dan untung saja aku sudah sigap atas tindakannya, hingga kucengkram tangan yang sempat ingin terayun, lalu kubuang paksa tangannya.


"Jangan macam-macam kamu," gertakku marah.


Langsung saja kudorong kuat beliau, untuk segera menjauhi Amel. Dia sedikit akan tersungkur ke lantai, tapi dengan cepat pula sang istri menolongnya, sehingga tak jadi jatuh. Terlihat sekali wajahnya merah padam, seperti tak menyukai apa yang barusan kulakukan.

__ADS_1


"Jangan berani kasar pada Amel, sebab mulai sekarang aku akan melindunginya. Oh ya, ingat ini! Bahwa aku akan mencari tahu dalang-dalang atas penculikan itu, dan siapa yang sudah membuat mukaku telah hancur!" Ancamku terhadapnya.


"Banyak omong kamu ini. Sebenarnya siapa kamu itu?" tanyanya heran.


"Kamu, tanya siapa aku? Jika kalian 'lah dibalik dalang itu semua, pasti akan tahu siapa diriku sebenarnya ini," balikku bertanya.


"Benarkah? Sayangnya aku tak mengerti apa yang sedang menjadi tuduhanmu," ucapnya tak paham.


"Aku adalah orang yang hampir terbunuh, akibat orang-orang yang menculik Amel dan mamanya kemarin. Semua orang telah menganggapku sudah mati, tapi pada kenyataannya aki sekarang masih bisa hidup menapakki tanah," terang kata-kataku.


Wajah kedua orangtua tiri Amel yang tadi sempat merah akibat marah, kini berubah dratis memerah seperti orang yang sedang ketakutan.


"Kenapa kalian diam sekerang, setekah aku menjelaskan? Ingatlah, aku akan mencari sampai tuntas yaitu sampai ke akar-akarnya, atas dalang dibalik semuanya. Tunggu saja pembalasanku yang penuh dendam dan amarah ini," ujarku dalam emosi yang mulai mengebu-gebu saat teringat kejadian penculikan.


Wajah istrinya begitu tegang terasa ada sebuah ketakutan, tapi papi Amel terlihat santai tapi sedikit cemas, itulah yang bisa kutebak dari ekspresi wajah mereka sekarang.


"Apakah mereka benar-benar pelakunya? Kenapa harus ada ekspresi ketakutan, jika tak melakukan kesalahan," hatiku sedang berbicara.


"Kami tidak mengerti atas arah pembicaraan kalian? Penculikan? Memang siapa yan diculik? Jangan asal tuduh sembarangan kalau tidak ada bukti. Kata-kata kamu itu bisa jadi bomerang kalian atas tuduhan pencemaran nama baik," ujar papi tiri yang masih tak mengerti dan paham.


"Baiklah, kami sekarang percaya jika kalia bukan pelakunya, tapi awas saja jika terbukti, sebab aku tak akan segan-segan menghabisi kalian," ancamku kejam.


Kali ini aku mencoba mempercayai mereka sebab bukti dan saksi kuatpun tak ada yang bisa jadi bahan pertunjukku sekarang. Tapi diri ini sangatlah yakin sekali, bahwa mereka semua adalah dalang atas semuanya, sebab kecurigaan atas surat kepimilikan rumah tanpa ada pemberitahuan dulu pada Amel.


"Ayo Amel kita pergi saja dari sini, karena percuma saja kita berada disini. Kita tak akan mendapatkan informasi penting, maka dari itu kita harus mencari sendiri bukti-bukti itu ditempat lain," ucapku menyinggung dengan tatapan melotot ke arah ayah kandung Amel.


"Iya, pergi sana. Hust ... husss, ganggu orang saja," usir mereka secara kasar.


"Tak payah mengusir begitu. Tanpa kalian suruhpun kami akan segera pergi sendiri," jawab Amel kasar.

__ADS_1


Kamipun melenggang pergi dan tak ingin berlama-lama dirumah Amel, karena merasa begitu muak ketika melihat keluarga tiri seperti mereka itu. Setelah gertakan telah kuberikan pada mereka, kami berduapun segera kembali kerumah kos untuk segera menenangkan amarah, yang sudah membucah tak karuan, akibat emosi sudah terasa sampai di ubun-ubun.


__ADS_2