Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Bertanya-tanya akan dirinya. SEASON 2


__ADS_3

Sungguh diluar dugaan jika ini semua benar-benar nyata, kalau tamu itu mirip sekali sama suami. Tapi kenapa kalau dia memang mas Alex tidak mengenaliku sama sekali? Apa mungkin dia memang bukan dia, yang kebetulan hanya mirip saja wajahnya itu.


Kesedihan kian bertambah saat orang yang ingin kupeluk, tapi dia sekarang tinggal ditempat kerjaku namun bersama orang lain.


Berulang kali tangan terulur ingin sekali membelai wajahnya itu, namun kekuatan seakan hilang tak mampu untuk sekedar bergerak.


"Kenapa seseorang hadir mirip sekali dengan mas Alex. Ujian apa lagi ini, apa mungkin aku harus bersabar lagi menghadapi ini?."


"Oh Tuhan. Dekatlah dia kalau memang suamiku, tapi kalau orang lain jauhkanlah sebab aku tidak ingin merusak hubungan seseorang. Dia begitu mirip sekali dengan suamiku, apakah ini semua adalah jawaban doa kami? Tapi kenapa dia tidak mengenali sama sekali, bahkan untuk menatap wajahku saja dia tidak ingin?" guman hati sedih dan selalu bertanya-tanya


Walau perasaan sedang galau dan dilanda kepilauan, tapi pekerjaan sebagai pembantu tetap wajib dijalankan. Berat rasanya jika nanti akan ketemu terus dengan pria itu, tapi pada kenyataannya tidak bisa dihindari sebab kami berdua sudah seatap sebumbung tinggal walau beda status dan derajat.


Senyumnya tidak jauh beda dengan Alex. Dari poster tubuh dan lain sebagainya tidak ada yang tidak sama persis, maka dari itu bingung sekali terhadap dia itu yang sama persis.


"Bik, bolehkan aku minta buatkan teh untuk dibawa ke kamar?" suruh suara pria itu.


Tangan yang sedang mengepel harus terhenti, sebab dikagetkan oleh suara pria itu saat sedang melamun.


"Oh, tentu saja Tuan. Boleh sekali."


"Tunggu saja, saya akan segera bawa tehnya ketempat, Tuan!" jawabku dalam kegugupan


tidak berani memandang wajahnya.

__ADS_1


"Ok 'lah. Kalau begitu terima kasih."


"Iya, Tuan. Sama-sama."


Aroma tubuh yang selama ini kukenal, kini kembali menguar hadir dari tubuhnya, ketika sedang melewatiku yang masih terpaku berdiri.


Tidak ingin kena marah oleh pacar pria itu, maka secepatnya menuju dapur untuk membuatkan apa yang dia minta. Nampan telah terisi secangkir teh dan beberapa camilan.


Tok ... tok, tangan telah mengetuk pintu kamarnya.


"Masuk saja!" jawab suara pria itu lantang.


"Baik, Tuan. Maaf jika saya menganggu harus masuk.


"Baik, Tuan."


Ceklek, pintu sudah kubuka perlahan-lahan.


Deg, begitu kagetnya diriku saat netra melihat pemandangan yang tidak disangka-sangka didepan sekarang. Nona Alena sekarang bergelayut manja memeluk pria itu.


Langkah segera menaruh apa yang diminta dimeja. Kepala telah tertunduk tidak ingin lancang melihat mereka, takutnya nanti akan kena semprot oleh nona Alena.


"Saya permisi keluar dulu, Tuan, Nona."

__ADS_1


"Iya, Bik. Terima kasih." Lemah lembut jawaban pria itu.


Suara itu begitu tak asing, lembut dan penuh wibawa adalah ciri khas dari Alex. Sudah lama aku mengenal Alex, pasti tidak salah tebakkanku kalau pria itu beneran orang yang selama ini kucari.


"Ya Allah, jangan Engkau buat lemah perasaan ini, hanya gara-gara ada seorang pria yang mirip sekali dengan suami. Kenapa ... kenapa dia begitu mirip, sehingga hatiku begitu goyah ingin segera memeluknya saja," rancau hati yang tidak terima.


Tetesan embun tidak terbendung lagi untuk keluar. Akibat tidak kuat berdiri, kini aku terduduk jongkok didapur, sambil membenamkan kepala diantara kedua paha. Tangisan begitu pecah, saat tidak kuat melihat adegan yang menurutku sangat membuat terpukul dada ini.


Tidak berdaya saat semua masih teka-teki siapa dia sebenarnya. Tiada ulah lagi yang bisa aku keluhkan, karena tidak ada hak diantara mereka berdua.


"Kamu kenapa, Amel?" tanya suara Bik Arni mengagetkan.


"Eeh, Bik. Amel tidak apa-apa, kok!" Tangan langsung mengusap airmata dipipi, yang tadi kian deras mengalir.


"Kamu bohong, Amel. Tidak mungkin kamu baik-baik saja tapi mata bengkak begitu. Ketara sekali kalau kamu habis menangis," tebak Bik Arni yang tidak percaya.


"Iya, Bik. Maaf!" jawabku sudah tertunduk tidak berani berbohong.


"Ya sudah, kamu tenangin diri dulu. Kalau kamu sudah baikkan nanti boleh cerita sama bibi."


"Iya, Bik. Terima kasih."


Tubuh beliau langsung kupeluk erat, karena butuh sandaran dikala rasa sedih dan kecewa hati telah datang. Airmata kutumpahkan segalanya dibaju beliau. Tangan lebar beliau hanya bisa menepuk-nepuk pelan bahu agar aku lebih tenang.

__ADS_1


__ADS_2