Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Dia Yang Pingsan. Season 2


__ADS_3

Aku tahu kalau ada kesalahan besar, sehingga Alena kini sedikit ngambek. Tapi bukankah dia tidak melihat kejadian dikamar bersama pembantu. Rasa penasaran yang begitu kuat terhadap jati diri bik Amel, membuatku terpaksa melakukan itu. Yang mana beda sekali hati ini berdebar kuat bersama bik Amel, dibandingkan dengan Alena yang sudah lama menemani.


Apa yang harus dilakukan agar bisa mengotrol diri, agar tidak melakukan hal berlebihan pembantu. Sikap yang terjadi selama ini benar-benar tidak terkontol, rasanya ada seseorang yang sudah menyetir akan perlakuanku padanya. Tangan dan seluruh anggota badan rasanya bergerak sendiri tanpa bisa kutahan.


Alena yang sedang mimisan kutinggalkan begitu saja berdiri didepan pintu. Dia seperti kebingungan dan tidak percaya, kalau hidungnya sudah mengeluarkan cairan kental berwarna merah. Dengan secepat kilat langsung berlari ke dalam kamar Alena, untuk mengambil lembaran tisu yang bertengger cantik diatas nakas.


Bhuugh, suara tubuh seseorang seperti jatuh. Kepala langsung menoleh ke arah pintu, dan betapa terkejutnya ketika melihat Alena.


"Astagfirullah! Lena," teriakku kaget.


Tisu yang sempat tercabut beberapa lembaran, langsung kubuang kesembarang arah. Telapak kaki berusaha berlari secepat kilat.


"Alena ... Alena. Bangun ... bangun!" Sikap yang panik, sudah mengambil kepala Alena agar bisa nyaman berada dipangkuan.


Beberapa kali kutepuk pipinya, namun sang pemilik tawa manis bak artis terkenal itu, sekarang enggan membuka mata.


"Ayolah, Alena. Buka matamu sekarang. Jangan buat aku ketakutan begini."


"Bik ... bik?" teriakku mengeraskan suara.


"Bik ... bik!" Ulang memanggil. Entah siapa yang datang nanti, yang terpenting bisa segera membantu.


"Iya, Tuan. Sebentar!" Akhirnya ada balasan dari orang yang berada dibawah lantai.


"Bik. Cepetan kesini. Tolong bantuin!" Lengkingan suara yang tak sabar.


"Astagfirullah. Ada apa dengan Nona Alena?" Bik Arni yang kaget juga.


"Nanti akan saya ceritakan. Sekarang tolong panggilkan ambulan, agar bisa membawa Alena segera ke rumah sakit," suruh kepanikan.

__ADS_1


"Oh, iya Tuan. Baik-baik." Bik Arni langsung melesat pergi lagi ke bawah.


Aku berusaha mengangkat tubuh Alena untuk menuruni anak tangga. Walau berat, keadaan yang gawat darurat harus segera menolong, agar tidak terjadi kejadian yang fatal.


"Astagfirullah! Ada apa ini, Tuan?" Bik Amel menyapa saat sudah selesai menuruni anak tangga.


"Bantu siapkan baju atau beberapa surat-surat dan identitas Alena, untuk keperluan pengurusan dirumah sakit nanti."


"Ba-bbb-baik, Tuan."


Arah langkah kami sudah berlawanan, Bik Amel melangkah ke atas, sedang diriku mencoba berlarian membaringkan tubuh Alena disofa.


"Beberapa menit lagi ambulan akan datang!" Kegugupan Bik Arni memberitahu.


"Bagus, Bik. Ambilkan beberapa tisu untuk mengelap hidung Alena."


"Baik, Tuan."


"Iii-iini, Tuan!" BiK Arni sudah menyodorkan sekotak tisu.


"Terima kasih, Bik."


"Iya, Tuan."


Entah berapa lembar yang terambil, pokoknya ketebalan tisu yang bertumpuk harus bekerja baik untuk segera mengelap. Kepanikan mulai datang, saat darah tak henti-hentinya terus keluar.


"Astagfirullah, Lena. Bangunlah!" Wajah sudah dilanda kepucatan, sebab ketakutan yang akut.


"Alhamdulillah, Tuan. Akhirnya ambulan sudah datang."

__ADS_1


"Iya, Bik."


Bunyi ambulan sangat kecil, namun kami bisa tahu kalau itu akan datang ke sini segera. Tidak ingin menunda waktu, tubuh Alena kembali kuangkat. Ambulan yang datang, agar bisa segera menyambut baik tubuh Alena.


Bik Arni hanya bisa mengikuti larianku dari belakang yang panik, dengan tangan terus mengendong berat wanita yang jadi kekasih sekarang. Dengan sigap pembantu segera membuka pintu, agar kami berdua bisa mudah segera keluar.


Ternyata waktu tidak sia-sia. Tidak menunggu lama, ambulan akhirnya datang dan mereka sigap mengeluarkan tandu pembaringan, agar mudah mengangkat tubuh Alena masuk kedalam mobil.


"Ini, Tuan!" Bik Amel sudah menyodorkan peralatan didalam tas.


"Bagus, Bik. Terima kasih."


"Iya, Tuan."


"Sekarang temani aku kerumah sakit."


"Tapi, Tuan!"


"Tidak ada tapi-tapian. Aku membutuhkan kamu untuk menjaga Alena sebentar nanti. Saat aku sedang repot mengurus segalanya hal dirumah sakit."


"Iya, Amel. Ikut saja. Ini keadaan gawat darurat."


"Ya sudah, Bik. Kalau begitu kami pamit dulu," Setuju pembantu yang segera berpamitan.


"Iya, kalian hati-hati."


"Iya, Bik. Kami pamit pergi. Assalamualaikum."


"Iya, waalaikumsalam."

__ADS_1


Setelah proses mencium tangan pungung, kami berdua segera masuk ke dalam mobil ambulan. Tidak bisa digambarkan lagi, betapa panik dan cemaskan diriku saat melihat Alena begitu pucat, lemah, tanpa sedikitpun ingin membuka matanya.


__ADS_2