Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Memaafkannya


__ADS_3

Saat sempat menolak lamaran Iwan, kini dia berusaha mulai berbaikan denganku lagi. Setelah sempat berjauhan, yang menimbulkan ada jarak saling berdiaman diantara kami. Iwan mengatakan jangan menganggap serius lamaran kemarin, anggap saja lelucon sebagai hiburan, tapi bagiku sungguh itu semua tidak benar, segalanya sudah kuanggap sebagai keseriusan atas diri Iwan yang sesungguhnya.


Tok ... tok, pintu rumah kos telah diketuk.


"Assalammualaikum," Salam suara seorang pria.


"Walaikumsalam," jawabku dari dalam rumah.


"Iwan? Kamu?" ucapku kaget saat melihat Iwan tengah berdiri mematung didepan pintu rumah yang terbuka.


"Bolehlah aku masuk?" tanyanya.


"Oh, silahkan masuk. Mari silahkan duduk," ujarku ramah.


"Makasih," imbuh ucap Iwan.


"Maafkan atas kelancangaku datang kesini, Amel. Aku benar-benar menyesal ada yang penting ingin kubicarakan padamu," ujar Iwan lesu.


"Katakanlah, ngak pa-pa, kok!" jawabku santai.


"Maafkan atas ulah diri ini kemarin, Amel. Aku tidak ingin kamu menjauh, apalagi tak berbicara sama sekali padaku. Sungguh semua itu telah menyiksa banthinku. Keinginanku hanyalah pertemanan kita tetap terus terjaga, jangan ada rasa saling berdiaman begini" ucap penyesalan Iwan.


"Aku seharusnya yang harus meminta maaf kepadamu, yang sudah tak mengertikan akan rasa cintamu yang telah tulus untuk diri ini. Maafkan aku, Iwan!" ujarku yang kini ikut ada rasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Amel. Aku paham sekali sekarang, bahwa dihatimu selalu saja masih terukir nama Alex dan itu tidak akan mudah melupakannya agar bisa tergantikan oleh orang lain," pengertian ucapan Iwan.


"Iya, ngak pa-pa. Lagian aku sudah melupakan kejadian yang kemarin," jelasku yang tak marah lagi.


"Jadi, kita tetap berteman 'kan?" imbuh tanyanya.


"Tentu saja."


"Terima kasih, Amel."


*******


Lama kelamaan kedekatan kami semakin lama semakin akrab dan itu membuatku terasa nyaman sekali berada disisi Iwan sekarang. Ketulusan hati atas kebaikannya, membuat hatiku sedikit demi sedikit terbuka untuk menerimanya, sehingga kesedihan tentang Alexpun kini mulai terlupakan dengan sendirinya.

__ADS_1


"Iwan?" panggilku penuh harapan.


"Iya, Amel? Ada apa? Kamu baik-baik saja 'kan?" Jawabnya sambil mengunyah makanan, karena kami sedang makan siang di restoran.


"Bagaimana tawaran kamu yang kemarin?" tanyaku malu-malu.


"Maksud kamu, tawaran yang mana?" Iwan bertanya dengan rasa binggungnya.


"Tawaran yang lamaran kemarin, maksudnya!" jawabku cepat sebab malu.


"Ooh, itu. Memang ada apa dengan itu?" tanyanya polos.


"Aah, Iwan kamu ini. Apa memang kamu ngak peka dan ngak nyambung-nyambung dari tadi atas ucapanku?" Kekesalanku marah dengan cara memonyongkan bibir.


"Aku beneran ngak ngerti. Memang ada apaan sih dengan lamaran kemarin? Kamu kemarin sudah menolaknya tidak mungkin aku memaksanya lagi. Diriku ini bukanlah orang yang kejam terhadap teman sendiri," ucapnya sudah selesai makan dengan meneguk pelan air minum.


"Emmm, Apakah lamaran itu masih berlaku?" tanyaku malu dalam keraguan.


"Uhuk ... uhuk," Kekagetannya sudah tersedak.


"Heem. Maksud kamu apa tadi?" tanya Iwan dengan mimik wajah sedang berpikir keras saat aku bertanya.


"Apa? Benarkah itu?" teriak ucap Iwan dengan bersemangat, hingga membuat pelanggan yang lain di restoran ini menatap secara aneh kearah kami.


"Hust ... huuus, pelankan suara kamu. Sekarang duduk ... duduklah," suruhku sebab sudah begitu malu, saat semua orang sedang memperhatikan ke arah kami.


"Upss ... uupsss, maaf." Mulut Iwan langsung dibekap pakai tangannya sendiri.


"Benarkah yang barusan kamu katakan, itu? Aku tidak sedang bermimpi 'kan?" Imbuh tanyanya lagi yang masih tak percaya.


"Iya, Iwan. Aku sangat serius dan kamu sekarang tidak sedang bermimpi," ujarku meyakinkannya.


"Alhamdulillah, akhirnya!" jawab Iwan tersenyum lebar.


Saking gembiranya Iwan bangkit berdiri dari tempat duduknya dan langsung berjalan memelukku erat. Malu rasanya saat orang-orang memperhatikan kami lagi, tapi buat Iwan sekarang dia tak malu, karena rasa kebahagiaan sedang menimpanya, akibat setujunya diri ini dijadikan calon istrinya.


*******

__ADS_1


Setelah kejadian di kafe, atas setujunya aku menjadi calon istrinya, Iwan kini bersama kedua orangtuanya menyambangi rumah kosku untuk menemui ibu, dengan maksud tujuan untuk meminta izin melamarku.


"Kami sekeluarga datang kesini ada tujuan yang ingin kami sampaikan, yaitu ingin melamar, Amel? Gimana, bu?" ujar ayah Iwan.


"Semua tergantung sama anaknya sendiri, apakah Amel mau menerima atas tujuan pinangan Iwan ini. Saya sebagai ibu sambungnya hanya bisa memberikan doa dan restu saja," ucap beliau dengan mengenggam erat tanganku.


"Bagaimana, Amel?" imbuh ibu bertanya.


Tatapan beliau begitu berharap penuh keseriusan, yaitu menunggu jawaban yang akan kuberikan.


"Aku bersedia, bu. Untuk dijadikan istri Iwan," jawabku lirih dengan tersipu malu-malu.


"Alhamdulillah," kompak semua orang berucap dengan sumringahnya tersenyum, atas sebuah rasa kegembiraan.


Setelah kedatangan kedua orang tua Iwan kerumahku yang sudah meminta izin, akhirnya kami diboyong kembali ke Jakarta, dimana tempat yang menjadi kelahiranku dulu. Keluarga Iwan menjemput kami untuk datang ke Jakarta, tentunya semua biaya ditanggung atas keluarga Iwan. Tujuan disuruh datang ke Jakarta, katanya hanya karena ingin meresmikan acara pertunangan kami dengan sedikit pesta. Maka kini pihak Iwan telah mengundang para kerabat-kerabat, katanya sih biar ada saksi bahwa cinta kami telah resmi dalam pertunangan.


Tidak ada kata yang mampu terucap, saat Iwan sudah menyematkan sebuah cincin indah dijari manisku. Hanya air mata yang tumpahlah mengiringi rasa kebahagiaan ini. Suara riuh tepuk tangan para undangan dan kerabat Iwan yang bersemangat, membuatku lebih deras meneteskan airmata. Rasa Gembira dihati tak bisa tergambarkan lagi, aku tak tahu dengan rasa akan airmata yang terus mengalir ini? Apakah sebuah airmata kebahagiaan atau kekecewaan yang telah melepaskan cinta Alex, yang sudah sempat terkunci dalam hati ini atau bahagia akan menikah.


Setelah pertunangan, entah mengapa hatiku begitu gundah merasa tak tenang. Aku sekarang sedang melamun, dengan jari-jari sibuk memelintir-lintir kalung pemberian Alex ketika ulang tahunku yang ke tujuh belas dulu. Tanpa diduga airmata sudah luruh begitu derasnya jatuh membasahi pipi.


"Apakah aku siap melepaskanmu, Alex? Apakah aku akan bahagia bersama orang lain? Apakah kamu akan merestui hubungan kami? Maafkan aku Alex, cintaku padamu sudah terlalu dalam tersimpan dihati. Walau ragaku bersama orang lain, tapi kasih cintaku padamu takkan bisa kulupakan begitu saja," hati ini berbicara sendiri sedang bertanya-tanya.


Merajut bahagia bersama dengan orang baru.


Menjadi bagian terindah bagiku saat ini.


Yaitu untuk menjalani hari-hari yang sempat kelam, atas mengenang kekasih yang sudah lama tiada.


"Ahh, apakah aku ini telah bodoh akibat mencoba mencari jati diri cinta hanya demi untuk menjelajahi sebuah rasa kegembiraan, diatas kejamnya cinta yang baru terjalin dari orang lain? Semua sudah terlakukan dan terjadi sekarang, hingga nak hendak berkata apa? Nak balik untuk kebelakangpun tak akan pernah bisa, sebab semua sudah terekam dalam ingatan semua orang dan aku tak mau membuat malu keluargaku dan Iwan," Penyesalanku yang kini mulai terasa sakit bagai telah tertoreh noda.


Jodoh sudah digariskan oleh takdir yang diatur oleh Allah.


Bagaimanapun kita akan menolaknya, takkan bisa merubah semua segala tentang takdir.


Mungkin inilah takdir jodohku bersama Iwan.


Entah mengapa seakan-akan hati ini begitu sakit sekali, mau berontak tapi tak bisa.

__ADS_1


"Seandainya kamu masih ada disini bersamaku, mungkin takkan ada orang lain yang dapat mengartikan cintamu atas diriku. Ya Allah, apakah aku telah salah, jika berontak atas jodoh yang kau berikan untukku sekarang ini? Ya Allah, kuatkanlah aku untuk menjalani semua ini. Hapuskanlah semua ingatanku tentang Alex dan hapuskan rasa cintaku padanya. Sungguh diri ini telah begitu sakit teriris bagai luka yang tersiram air garam, sungguh rasa ini telah begitu pedih tak tertahan lagi rasanya. Apakah aku telah berdosa mengharapkan orang yang kucintai telah tiada kembali hidup, untuk merajut asmara kami lagi. Ya Allah, aku begitu merindukankannya, ingin bercanda dengannya, ingin berbicara berbagi ceritanya, dan ingin sekali dipeluknya. Aaah, apakah aku salah berangan-angan memikirkankanya lagi, maafkan aku Alex," guman hati yang merancau sebab rindu pada kekasih.


"Berikanlah tepat terindah untuknya ya Allah ya Robb, berikanlah syurgamu padanya, doaku selalu menyertaimu, Alex. Terima kasih kau sudah pernah singgah dihatiku, salamat tinggal cintaku yang abadi dihatiku." Doa dalam hati untuk Alexku yang sudah meninggal, diiringi dengan isak tangis yang tersedu-sedu.


__ADS_2