Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Perasaan hati yang tidak enak. Seosan 2


__ADS_3

Takdir telah bersatu, hingga kebahagiaan terus terjadi pada kami. Sampai akhir nafasku akan tetap mencintai suami, yang dulu terus terkejar dengan penuh perjuangan.


Alunan doa terus terpanjatkan agar kami sekeluarga tetap bahagia, tidak ada lagi kesedihan dan ketegangan seperti hari kemarin. Perasaan terus ada, sampai akhir menutup usia diantara kami, semoga.


"Gimana dengan pekerjaan kamu, sayang Apakah semuanya lancar-lancar saja?" tanyaku saat sedang santai duduk dikasur.


"Alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar. Semua ini berkat dukungan dan doa-doa yang engkau berikan." Alex sudah meraih tanganku lalu mencium penuh mesra.


"Alhamdulillah, kalau begitu. Semua ada hikmah dan akan datang bahagia diwaktu kesusahan kemarin. Allah itu maha adil, siapa yang akan menerima kesengsaraan pasti akan menerima kebahagiaan suatu saat nanti, walau entah kapan itu terjadi baik didunia maupun diakherat nanti," ceramahku pada Alex.


"Iya, sayang. Benar apa yang kamu katakan."


"Oh ya, aku tahu kamu sangat mencintaiku, jadi kumohon tetaplah begini sampai maut memisahkan kita, ok!" Entah apa yang kukatakan sekarang, yang jelas ada sesuatu perasaan yang sedang meragukan rasa cintanya itu.


"Jangan takut, sayang. Cinta suamimu ini akan terus abadi hanya untukmu saja. Sampai kapanpun akan tetap menjagamu dalam hatiku," jawabnya mesra sambil mengelus-elus pelan pipi dengam ibu jari tangannya


"Hmm, kok tumben-tumbennya kamu membicarakan tentang hati yang ada diantara kita?" tanya Alex yang sudah mulai curiga.


Huuf, hembusan nafas kasar telah hadir. Mau menjawab tapi tidak tahu jawabannya. Kalau tidak menjawab, pasti alex akan terus bertanya-tanya atas ucapan tak terarah tadi.


"Aku juga tidak tahu, sayang. Yang jelas ada perasaan yang aneh pada diriku saat ini, atas sumpah janji kita untuk terus saling mencintai." Keraguan menjawab takut jika salah berbicara.


"Heh, sudah ... sudah, lupakan saja perkataan dan pertanyaanku tadi. Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Sekarang buang perasaan yang meragukan itu, lagian tidak baik jika terbawa dalam rumah tangga kita, sebab nanti yang ada akan ada rasa curiga yang timbul." Apa yang dikatakan suami terdengar benar.


"Iya, deh. Cuma tadi aku merasakan sesuatu saja."


"Mungkin kamu terlalu kebanyakan nonton televisi, jadinya terbawa suasana saja."


"Emm, mungkin saja."

__ADS_1


"Ya sudah, kita tidur sekarang, bukankah besok harus bangun pagi-pagi untuk menyiapkan segala keperluan kami," suruh Alex.


"Iya, sayang."


Alex sudah meraih selimut untuk menutupi tubuh kami berdua. Satu selimut untuk berdua, sangat membuat kami nyaman untuk tidur saling berpelukan. Kepala sudah berdekatan dengan dada bidangnya. Aroma khas suami terus membuat candu untukku, hingga rasanya tidak bisa untuk berjauhan dengannya.


Kayla karena sering diasuh Ibu, maka tidurpun sampai harus bersama beliau. Pernah satu malam tidur sama kami, namun yang terjadi malahan dia merengek minta diantar ke kamar Ibu akibat tidak bisa tidur.


Bintang begitu terang berkelipan jauh nan diatas langit. Cahayanya begitu menenangkan hati, sampai akupun terhanyut untuk terus melihatnya.


"Oh Tuhan, Kenapa perasaan tidak enak begini, apa yang terjadi padaku sekarang. Kenapa sempat berfikir dalam keraguan cinta Alex, apakah akan ada musibah besar dalam hidup kami? Huuff, semoga saja tidak terjadi apa-apa dalam rumah tangga kami, amin!" rancau hati sambil memandang bintang dibalik kegelapan malam.


"Lindungi keluarga kami, ya Allah. Jangan sampai ada halangan yang memisahkan kami. Rasanya aku tidak sanggup jika berjauhan dengan Alex. Rasa sayang ini begitu kuat, sampai untuk terpisah darinya pasti akan membuatku gila," Perasaan hati yang terus saja khawatir akibat rasa was-was yang tiba-tiba melanda.


Mata masih enggan untuk tidur. Kerjaan terus saja melamun dan memeluk erat tubuh sendiri, akibat hawa dingin malam hari sudah tembus dibalik tebalnya baju tidur.


*****


Aku hanya membantu Ibu memotong-motong sayuran ataupun mengoreng sesuatu. Semua bumbu tetap Ibu yang mengerjakan. Bukan tidak mau memasak, namun rasanya jauh lebih mantap dan selalu enak dibandingkan dari tangan Ibu.


"Apa Alex belum bangun?" tanya Ibu sambil tangan memegang spatulla untuk mengoseng tempe dan tahu dibumbui kecap.


"Tadi sudah saya bangunkan, Buk. Tapi entahlah, kenapa dia belum turun juga untuk minum kopi." Tangan yang sibuk mencuci semua wadah bekas memasak.


Suami selalu terbiasa minum kopi sebelum sarapan. Kebiasaannya itu harus terjalani. Jika tidak, pasti Alex ketika bekerja nanti akan terasa ngantuk.


"Kamu tinggal pekerjaan dapur dulu. Coba kamu bangunkan sekarang, sebab nanti dia bisa telambat berangkat bekerja," suruh Ibu.


"Baik, Bu."

__ADS_1


Perintah beliau langsung kuturuti. Langkah sudah berjalan ke anak tangga menuju kamar.


Ceklek, pintu sudah kubuka.


"Mas ... mas, bangun. Ini sudah siang, masak masih molor juga. Nanti telambat kerja lho!" cerewetku dipagi hari.


Srek, gorden dikaca jendela sudah kubuka.


Ternyata ocehanku tak digubris, sehingga dengan terpaksa membangunkannya ingin memberikan tepukkan dibahunya.


"Mas, ayolah bangun. Ini sudah siang beneran," Kekesalanku.


Tangan yang ingin menyentuh bahu suami, tiba-tiba dengan segaja dicekal lalu dengan kuat ditariknya, sehingga membuatku seketika terduduk terpental ditempat tidur.


"Izinkan aku melakukan ini sebentar!" Manja suami yang sudah menaruh kepala diatas pahaku.


"Hidih, mimpi apaan nih? Kenapa tiba-tiba manja begini?" tanyaku aneh sambil tangan mengelus pelan-pelan rambut Alex.


"Entahlah."


"Kok entah?" Kebingunganku.


"Tapi yang jelas aku tahu kalau tadi malam kamu tidak tidur sama sekali. Hmm, pasti terpikir oleh kata-kata yang kamu ucapkan itu, 'kan?" tebak suami yang sudah mencium mesra tangan.


"Tidak ada 'lah. Aku beneran tidak bisa tidur saja. Mungkin siang terlalu banyak tidur, sehingga malam tidak bisa memejamkan mata." Kebohonganku agar Alex tidak khawatir.


"Benarkah itu? Kamu tidak bohong 'kan?" cakapnya tidak percaya.


"Iya, sayang. Ya sudah, cepetan mandi lalu nanti turun ke bawah untuk sarapan. Jika terlambat, nanti Kayla akan ngambek sebab Papanya terlambat mengantar sekolah."

__ADS_1


"Emm, iya ... iya."


Alex kini sudah bangun dari tegolek habis bermanja ria. Langkah sudah terlihat menuju kamar mandi. Akupun tidak langsung turun untuk membantu ibu menyiapkan sarapan, tapi harus menyiapkan beberapa keperluan suami dulu ke tempat kerja, yaitu termasuk baju, sepatu, dan yang lainnya.


__ADS_2