
Kebahagiaan terus tejadi, saat anak yang menjadi pembawa berkah kini sudah beranjak dewasa dengan baik. Usianya sekarang sudah empat tahun setengah, sehingga kami sudah memasukkannya ke sekolah taman kanak-kanak (play gruop).
Wajahnya yang imut dan cantik banyak disukai orang. Sampai-sampai sering kali mencubit pipi chubby akibat gemes padanya. Nama adalah Kayla Ayu Pratiwi, terlihat panjang dan banyak nama, tapi Amel 'lah yang memberikan nama itu, jadi aku sebagai suami hanya menuruti saja.
"Mama, Kayla berangkat dulu, ya!" pamit Anakku pada istri, sambil tangan sudah disalami.
"Iya, sayang. Jangan nakal-nakal disekolah, semoga kamu hari ini bisa mendapatkan nilai bagus." Istri sudah memberikan senyumannya yang khas, sambil mengelus-elus pelan rambut Kayla.
"Iya, Ma."
Bocah imut itu beralih melangkah mendekati Ibu alias neneknya. Ibu yang siap menerima pamitan Kayla sudah memberikan tangan, untuk segera disalami juga. Pipi yang tembem sudah dicium kiri kanan oleh beliau.
"Belajar yang rajin-rajin ya, Nak!" ucap Ibu.
"Iya, Nek. Bye ... bye."
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam. Bye ... bye juga."
"Kamu pamit dulu, Bu, sayang!" ucapku pada kedua wanita yang berarti dalam hidup selama ini.
"Iya, hati-hati. Jangan ngebut-ngebut bawa kendaraannya."
"Emm ... baik, Bu.
Akhirnya kami berdua sudah pergi menuju mobil, yang sudah terparkir didepan halaman rumah. Setiap hari sebelum berangkat kerja,
__ADS_1
inilah aktifitasku untuk mengantar anak dulu ke sekolahnya. Kalau waktu jam pulang lagi-lagi harus menjemput, yang untung saja aku adalah bos diperusahaan sendiri, jadi mudah untuk keluar masuk ditempat kerja sesuka hati yang kumau.
Hanya butuh lima belas menit untuk sampai ke tempat sekolahan Kayla. Sekarang sudah nampak ramai anak-anak, yang diantar langsung oleh orang tuanya juga.
"Jangan nakal-nakal disekolahan nanti. Sebelum Papa menjemput kamu jangan pulang dulu, sama ibu guru dulu menunggu nanti," pesanku sebelum Kayla kuantar masuk kelas.
"Iya, Pa. Kayla paham," jawab kepolosannya.
Tangan sudah melambai pelan-pelan, saat Kayla seakarang terlihat memasuki tempat untuk mencari ilmu. Aku yang balik membalas lambaian, setelah dirasa aman segera masuk kembali ke mobil.
Usaha demi usaha telah sukses kami jalankan. Tidak ada satupun halangan yang membuat kami menderira seperti hari-hari kemarin. Semua terjalankan dengan mudah.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Semua sudah sempurna sekali untuk keluargaku sekarang."
"Banyaknya nikmat yang Engkau berikan, setelah banyak kejadian yang memilukan tu. Istri yang cantik, anak yang lucu dan pintar adalah anugerah yang tak terkira Engkau berikan padaku. Alhamdulillah ... alhamdulliah, terima kasih," guman hati yang terus mengucapkan syukur, saat sedang sibuk menyetir mobil.
Ibu kandungpun tidak luput untuk membantu mengasuh Kayla, sebab Amel belum terlalu lihai mengurus semuanya sedirian. Mamanya yang sudah meninggal mungkin terlalu memanjakan kemarin, sehingga sekarang kesulitan untuk berdiri sendiri mengurus rumah tangga kami. Untung saja ibu orangnya sabar dan selalu ingin memberikan yang terbaik untuk kami semua.
"Wah, Pak. Kamu kelihatan bahagia terus, apa sih resepnya?" tanya salah satu pegawaiku.
Kami berdua sedang istrihat makan siang, sambil menikmati beberapa cangkir kopi.
"Masak, sih?" Balik tanyaku.
"Iya, Pak. Beneran itu. Jadi ngiri melihat rumah tangga orang lain baik-baik saja, apalagi mereka selalu bahagia dan nampak ceria terus. Bukan seperti rumah tangga saya, yang ada tiap hari hanya pertengkaran terus." Pegawai sedang mengeluarkan uneg-uneg dalam rumah tangganya.
"Wah, kok bisa?" Keherananku bertanya.
__ADS_1
"Huuff, ya begitulah, Pak."
"Emm, kalau ribut pasti ada sebab musababnya. Tidak mungkin kalian bertengkar begitu saja," tebakku.
"Katanya sih, saya sudah beda sama waktu pacaran dulu. Saya tidak tahu letak kesalahannya, yang padahal masih sama memberikan perhatian lebih pada istri, tapi dia selalu menaganggapnya menjadi suatu masalah," terang teman.
"Mungkin kamu memang berubah kali ini, sebab terlalu sibuk memikirkan pekerjaan dibandingkan istrimu sendiri." Keseriusanku menebak, sambil terus menyeruput kopi habis selesai makan.
Biar tidak ngantuk ketika bekerja, maka secangkir kopi adalah andalan agar aku tetap dalam keadaan tidak ngantuk.
"Oh, benar itu, Pak."
"Lha, saya kerja untuk dia juga, ngapain harus marah-marah dan ngajak ribut melulu. 'kan kesel jadinya."
"Iya, saya paham atas sikap itu, tapi bagi istri kamu itu sudah beda. Rasa sayang yang selama ini kamu berikan terasa sudah hilang, akibat tidak memperhatikan dia lagi. Coba kamu perhatiin dia, manjakan, dan lebih penting lagi berikan waktu luangmu untuk berkasih sayang seperti waktu kalian pacaran dulu. Akupun juga gitu, walau kami sudah menikah tapi tidak pernah malu untuk menunjukkan rasa sayang itu didepannya. Istri akan selalu nyaman, jika kita memberikan perhatian lebih pada mereka, terutama selalu memanjakan atas semua keinginan-keinginan yang perlu dari kita."
"Semoga kamu memahami apa yang aku katakan. Kamu coba dulu atas apa yang barusan kunasehati. Semoga hubungan kalian akan baik-baik lagi," ucapku memberikan solusi.
"Baiklah, Pak. Saya akan merubah sikap, untuk memberikan perhatian lebih padanya. Semoga apa yang saya lakukan kali ini tidak akan salah terus dimata istri." Akhirnya teman mengerti juga atas nasehat itu.
"Emm, amin. Semoga kalian tetap bahagia dan tidak ada pertengkaran lagi."
"Iya, Pak. Terima kasih."
"Iya, sama-sama."
Obrolan kami terus berlanjut, walau dengan topik yang berbeda. Walau dia adalah pegawai biasa, aku tetap menjalin keakraban pada semua orang, baik itu pegawai sudah menjabat tertinggi maupun bawahan yang biasa-biasa saja. Semua harus berjalan baik, agar mempunyai teman banyak-banyak.
__ADS_1