
Karena undangan ibu yang menyuruhku makan ditempat tinggal kos beliau, aku hanya bisa pasrah menurut saja, sebab jika menolak pastinya ibu akan berbalik marah padaku. Mungkin ini salah satu cara beliau untuk berusaha mendamaikan kami.
"Kalian harus berbaikkan, ngak enak kalau berdiam-diaman terus begini," ujar ibu memecah keheningan kami, saat aku mampir ke rumah beliau untuk sarapan pagi.
"Gak kok, bu. Siapa juga yang marah, Alex saja yang mencari gara-gara, sehingga membuatku marah," sindir kata Amel ditujukan padaku.
"Apa? Aku? Bukankah kamu yang kemarin main nyelonong ke rumah, untuk menemuiku. Kamu sendiri yang membuat masalah, dengan memecahkan barang-barang di rumah," ucapku ngegas tak suka atas tuduhannya.
"Ciih, masih salah tapi merasa tak mau mengakui. Dasar laki-laki yang tak punya perasaan, dan selalu saja mau menang sendiri," imbuhnya berbicara pelan, masih saja seperti tak suka.
"Apa yang kamu bilang? Saat ngomong jangan pelan-pelan ngedumel begitu, jadinya aku tak mendengarnya," Marahnya kata-kata diri ini.
"Hemm, kalau gak mau disalahkan, jangan cari gara-gara mau putus, jadinya kuputusin beneran dech," jawabnya santai, dengan duduk menyantap makanan duluan.
"Ka-ka-mu?" ucapku marah.
"Sudah ... sudah, jangan dilanjutkan lagi. Akhir-akhirnya kalian akan ribut kembali! Rendam emosi kalian, jika kalian terus begini akhir-akhirnya bukan hanya sakit hati saja, tapi berujung dendam juga" ujar cegah ibu menghentikan pertengkaran adu mulut kami, sebab tak ada yang mau mengalah.
"Baik, bu!" jawabku nurut sambil menundukkan kepala sebab tatapan netra ibu terlihat ada emosi.
Untuk beberapa saat tatapan kami saling mengunci, dan berhasil memunculkan desiran aneh dalam diamnya kami. Lalu wajahku ini langsung berpaling melihat ke arah lain, mencoba menghindari tatapan Amel dan tangan langsung menyendok makanan untuk dimasukkan ke dalam mulut.
Sungguh sorot matanya tak bisa terbahasakan lagi untuk memaknainya, apakah itu petanda baik atau buruk? Terjebak dalam satu rumah membuatku merasa canggung terhadapnya.
"Kenapa tatapan Amel begitu aneh sekali? Apakah dia kasar berbicara tapi dalam hatinya merasa menyesal karena mengacuhkanku, heeh dasar. Bilang saja kamu saat ini berusaha jual mahal, tapi juga ingin menarik perhatianku," rancau hati yang merasa aneh atas sikap Amel.
Hanya ada detingan sendok yang mengiringi makan kami bertiga, dengan mulut sudah sama-sama terdiam tak ada percakapan sama sekali.
Tok ... tok, pintu diketuk seseorang.
"Assalamualaikum," Suara laki-laki bertamu.
"Walaikumsalam," jawab kami serempak.
"Hei semua. Gimana kabarnya?" sapa Iwan pada kami dengan berjalan segera mencium tangan punggung ibu.
"Alhamdulillah kabar kami baik semua, Iwan!" jawab ibu ramah.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kalau begitu bu."
"Hai sayang, cuup!" ucap Iwan sambil mengecup mesra kening Amel didepan mataku.
"Ya salam, kenapa Iwan melakukan itu? Apa jangan-jangan dia memang sengaja untuk menunjukkan atas kemesraan mereka. Amel juga begitu, diam saja atas perlakuan tunangannya itu, memang sengaja kali?" bathin hati yang merasa heran atas sikap Iwan.
Iwan tiba-tiba datang, yang langsung aneh mencium kening Amel, saat kami sedang satu meja untuk sarapan. Keterkejutan atas kedatangan Iwan, langsung kututup wajah lagi memakai masker. Diri ini hanya bisa melirik diam, saat menatap mesra mereka. Rasanya hati kok panas sekali melihat kemesraan mereka, apakah ini yang dinamakan terbakarnya api cemburu buta.
"Sarapan Iwan!" tawar ibu.
"Eeh, terima kasih, buk. Tadi sudah sarapan dirumah, dan sekarang aku merasa masih kenyang," jelas Iwan.
"Ooh, ya sudah. Silahkan duduk bersama kami," suruh ibu.
"Ini? Ini siapa, bu? Kok ngak pernah lihat dirumah ini?" Tunjuk Iwan mengarah padaku, dengan wajahnya yang binggung.
"Dia adalah Alex!" jawab Amel cepat.
"Apa? Alex? Ah sayang, kamu jangan kelewatan bercandanya, Alexkan sudah lama meninggal, ngak mungkin dia kembali hidup. Emm, tapi ... tapi, beneran 'kah dia ini Alex?" ujar Iwan tak percaya melihatku, yang tengah santai duduk dimeja makan bersama kami.
"Beneran 'kah itu, bu? Betulkah kamu Alex temanku itu?" tanyanya mengarah padaku yang masih ada keraguan.
Iwan langsung berlari menghampiriku, dengan memberi sebuah pelukan kehangatan kerinduan.
"Alhamdulillah, ternyata kamu masih hidup kawan," ucap kegembiraan Iwan saat melepas pelukan.
"Aku juga turut ikut gembira juga, akhirnya bisa ketemu kalian lagi walau takdir sempat memisahkan kita semua," balik jawabku sengau yang memakai masker.
"Iya, kawan."
Rasa yang sempat penasaran tadi kini sudah tergantikan oleh rasa gembira, tapi wajah Iwan tak berselang lama mengekspresikan tatapan cemberut seperti tak suka.
"Kanapa Iwan?" tanyaku heran.
Iwan hanya diam membisu dengan netranya yang masih menatap penuh ketidaksenangan.
"Oh, aku paham. Tenang saja, aku tidak akan menganggu hubungan kalian, lagian buat apa mau menghancurkan percintaan kalian, yang sebentar lagi akan menikah menuju pelaminan!" ujarku serius menerangkan.
__ADS_1
Klotek, suara sendok dibanting Amel dengan sorot netranya yang melotot seperti kesal kepadaku, yang kemungkinan tak suka atas ucapan barusan.
Iwan hanya melihat ke arah Amel dengan mencemberutkan mulutnya sedikit monyong maju. Mungkin amarah sedang merasuki Amel, hingga tak berselang lama kini disusul Iwan menatapku sinis juga seperti marah tak suka.
"Dasar kalian ini. Kenapa juga melihat kearahku, seakan-akan akulah yang selalu salah disini," guman hati tak suka atas tatapan Iwan dan Amel.
"Kenapa kalian jadi berdiaman begini semua?" tanya ibu heran mungkin sudah terasa ada ketegangan diantara kami.
"Ayo makanlah, habiskan semuanya!" suruh ibu.
Kami bertiga masih juga saling berdiaman, dengan sorot mata saling menatap tajam hingga menjadi alat pembicaraan kami.
Urusan mengisi perut sudah selesai kami lakukan, hingga akhirnya akulah yang kini membantu ibu membereskan semua sisa makanan kami barusan. Amel dan Iwan sudah menjauh dariku yang kelihatannya kini sedang duduk bercengkrama diluar teras rumah.
"Ada apa, Alex?" tanya ibu.
Beliau yang memanggil, seketika membuyarkan lamunanku yang berusaha mengintip kearah pintu keluar, dengan maksud kepo terhadap mereka berdua.
"Hehehe, ngak pa-pa kok bu," jawabku yang sibuk mengelap piring tapi pandangan ke arah lain.
"Jangan bohong dech, nak. Ibu tahu kamu berusaha ingin tahu apa yang mereka lakukan berdua 'kan?" tebak ibu yang sibuk menaruh piring kedalam rak.
"Entahlah, bu. Aku ingin putus dengan Amel tapi rasanya masih ada yang menganjal, seperti tak rela jika dia bersama orang lain," jawabku jujur.
"Itu tandanya kamu belum sepenuhnya melupakan dan dalam hatimu masih ada cinta," terang ibu.
"Mungkin saja, bu."
"Jika ingin menjauhinya adalah keputusan kamu, maka kamu harus bisa melupakannya juga. Jangan kamu jadikan keinginan tahu atas hubungan mereka, membuat kamu jadi kembali setelah keputusan yang hakiki kamu buat," cakap ibu menasehati lagi.
"Insyaallah, bu. Alex tak akan menarik kata-kata yang sudah tetucap, lagian Amel sudah menjadi milik orang lain, yang tak akan mungkin diri ini merusak hubungan mereka," sautku menjawab.
"Bagus, Alex. Kamu memang pria sejati yang tak akan mengingkari janji yang sudah dibuat," imbuh ucap ibu.
"Iya, bu."
Kata-kata ibu tercinta memang benar adanya, bahwa diri ini tak mungkin menarik kata-kata yang terucap. Nak ditaruh dimana muka ini, jika ucapan sudah terlontar tiba-tiba terbatalkan akibat rasa sayang ini masih ada.
__ADS_1