Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Sepuluh Tahun Kemudian. SEOSAN 2


__ADS_3

Sudah bertahun-tahun lamanya ...


Wajah orang yang kurindukan telah hilang.


Kesepian ini terus saja membayangi


Sunyi ini begitu menghantui.


Tiada lagi suaranya


Tiada lagi sentuhannya.


Kenangan itu begitu manis


Sampai jatuh tetap mencoba berdiri kuat.


Ketegaran selalu mengajarkan


Akan kepercayaan tentang dia.


Bukti kasih sayang ini selalu ada


Tanpa sedetikpun akan hilang.


Hanyalah bisa memeluk bayang-bayang saja


Ingin menyetuh tapi tidak bisa.


Wajahnya yang selalu tergiang.


Terus saja mempertahankan keutuhan cinta ini.


Sudah sekian tahun lamanya aku masih mencari keberadaan suami. Dia pergi entah kemana tanpa ada kabar lagi. Sepuluh tahun lalu bagaikan langit telah runtuh menimpa badan, saat tidak percaya semua musibah ini terjadi pada keluarga.


Alex tidak bisa kutemukan lagi. Walau sudah berkeliling ke negeri orang, namun namanya masih saja tidak bisa kutemukan. Kerinduan ini terus saja hadir tanpa bisa menahan, disaat-saat airmata yang terus saja keluar ketika mengenangnya.


Akibat tidak ada kabar dari suami Ibu menjadi sakit-sakitan, mungkin akibat anaknya tidak bisa kembali kepelukan. Walau kecewa menjalani semua ini, aku berusaha tegar demi anak cantikku Kayla dan Ibu. Jika aku terpuruk, siapakah yang bakal mengurus mereka.


Rasa pahit ini selalu kutahan dan kupendam dalam-dalam. Perjuangan hidup harus terus berjalan. Harta habis untuk mencari keberadaan suami, namun yang didapat terus saja kekecewaan.

__ADS_1


Kayla untung saja mengerti akan hati yang sedih ini. Sekarang dia sudah besar dan sudah beranjak usia lima belas tahun, yaitu masih bersekolah kelas 1 SMA. Wajahnya yang manis dan cantik selalu menjadikan pelipur lara. Sungguh anugerah Tuhan memberikan kebahagiaan, yang tiada tara lagi melalui putriku.


Kerjaan sekarang hanya sebagai pembantu saja. Harta tidak tersisa lagi sedikitpun. Untung saja tuan majikan ramah dan selalu baik. Gaji yang kadang belum waktunya keluar, tapi mereka selalu memberikan jika aku ingin memintanya duluan. Disaat jatuh ternyata masih saja ada orang baik, yang mengerti akan keadaan kami sekarang.


Pendidikan sangat penting, maka anak telah aku sekolahkan di kualitas terbaik, agar kelak bisa merubah nasib kami yang sekarang sudah jatuh berada dibawah.


Walau berada dititik terendah, tetap semangat menjalani hidup ini sebab masih banyak orang yang lebih menderita daripada kami. Tetap mensyukuri semua nikmat apa adanya adalah kekuatanku satu-satunya sekarang.


"Alhamdulillah, kamu sudah berada dirumah ini, Nak."


"Syukurlah perjalanan kamu baik-baik saja tadi dijalan," sambut Ibu sudah kucium tangan punggungnya dengan takzim.


Seminggu sekali aku baru bisa mengujungi rumah, sebab jarak ke tempat kerja sangatlah jauh. Daripada habis diongkos, lebih baik uang kukumpulkan untuk pendidikan anak saja.


"Iya, Bu. Alhamdulillah."


"Bagaimana kabar, Ibu?" tanyaku balik.


"Ibu juga baik."


"Oh ya, mana Kayla?" imbuhku.


"Kata tadi masih mengerjakan tugas kelompok bersama teman-temannya," terang Ibu.


"Sudah, Nak."


Beliau yang sedang duduk santai diruang tamu, langsung kupeluk erat tubuh beliau. Rasa yang nyaman saat berada didekat beliau membuat hati seakan-akan merasa nyaman sekali.


Tangan beliau yang terasa kasar dan mulai ada rasa keriput, sudah mengelus pelan pipi dan menyibakkan rambut yang menghalangi mata.


"Kayla tidak nakal 'kan, Bu. Saat ditinggal Amel kerja?" Sikap manja terus terjadi ingin terus memeluk beliau.


"Alhamdulilah, baik-baik saja, Nak. Dia anak baik, cerdas dan selalu nurut sama seperti ayahnya!" Suara sendu beliau.


Tes, tanpa diduga ada sebuah titikan airmata kini sudah menjatuhi pipi. Seketika sikapku yang bermanja ria memeluk, langsung membenahi posisi untuk duduk dengan benar.


"Ibu jangan terus-menerus menangis begini!" cakapku sudah menghapus lelehan airmata yang jatuh dari pipi beliu.


"Ibu tahu, Amel. Airmata seorang Ibu tidak akan pernah berhenti, saat anaknya kini tidak tahu kabarnya dimana lagi. Ibu sangat ... sangat merindukan dia."

__ADS_1


"Iya, Bu. Amel sangat tahu ini, tapi jangan terlalu larut dalam kesedihan ini." Wajah sudah menatap seksama ada ekpresi kesedihan yang mendalam.


"Entahlah, Nak. Apakah sebelum menutup usia Ibu bisa melihat wajahnya lagi?" Pertanyaan yang membuatku menjadi sedih juga.


"Ibu jangan katakan itu. Percaya dan teruslah berdoa agar kita semua bisa dipertemukan dengan mas Alex lagi. Doamu sangat berarti supaya kami bersatu, jadi jangan putus asa agar kita semua dapat dipertemukan segera." ucapan begitu tegar, namun hati begitu berteriak ingin meluapkan semua kesedihan.


"Amin, Nak." Ibu kian menjadi-jadi dalam kesenduan tangisan.


.


Airmata beliau seakan-akan tidak akan ada habis untuk dipersembahkan pada anaknya. Itulah caraku agar kelihatan tegar dan tidak kenal lelah. Hati seorang Ibu pasti akan lebih tersiksa dan terluka jika anak kesayangan telah hilang.


Keheningan hari-hari sangat berat dalam kepedihan jiwa. Tidak pernah terpikirkan sama sekali jika semua ini akan terjadi. Tidak ada tempat yang bersandar lebih nyaman saat ini kecuali ibu mertua.


Karena keadaan beliau yang tidak membaik, sekarang kupapah untuk segera istrirahat didalam kamar beliau. Rasa lelah raga dan jiwa, kini membuatku juga ikut berbaring istirahat dikamar.


"Ooh, hujan. Apa yang harus kulakukan sekarang? Semua begitu mendadak tanpa diduga. Apakah aku bisa memeluknya lagi? Apakah aku bisa mengenggam erat lagi tangannya, seperti aku bisa menyentuh tetesan airmu?" Tangan terus saja menengadahkan air hujan yang ingin jatuh menyentuh bumi.


Rasa rindu ini terus saja bertanya-tanya, dari balik jendela yang sedikit terbuka. Dengan posisi duduk dikursi, kepala sudah tergolek tidak berdaya dikayu pembatas jendela.


"Duniaku telah hancur tiada kau disisiku lagi, mas Alex. Dimanakah kamu sekarang?


Apakah kau tidak merindukan kami?."


"Sudah sepuluh tahun kita tidak bertemu, apakah kamu sudah benar-benar melupakan kami? Mengapa kau tega tidak melirik sama sekali untuk mengetahui kabar kami, apakah kami telah berbuat salah padamu, sehingga meninggalkan kami begitu saja tanpa jejak," Pilunya hati terus saja bertanya-tanya.


Belum sempat kami mendaki kebahagiaan bersama lebih lama, tapi senyuman kami itu telah musnah sekarang. Apakah selamanya aku harus kehilangan terus? Hanya bisa terus menerus berdoa pada Tuhan agar bisa mengakhiri semua ini.


Harapan begitu hilang, saat keadaan hati yang rapuh. Duka yang kualami, selalu saja mencoba menguatkan hati untuk menerima keadaan. Sebab kusayangi dia terlalu dalam, sehingga tak rela untuk menerima cobaan ini.


Detik-detik waktu terus saja bergulir.


Suka dan duka kini telah hilang seketika.


Hati begitu terasa lelah, saat dalam gelisah selalu saja ada airmata yang mengiringi.


Semua kupersembahkan hanya untuknya, namun kenapa tidak bisa melihatnya lagi?.


Cinta dalam jiwa ini hanya khusus hanya padanya saja.

__ADS_1


Maafkan bila hati ini selalu tidak sempurna mencintaimu


Namun dalam dada kuharap hanya dirimu yang selalu ada.


__ADS_2