
"Aaah, sungguh malangnya nasibku sebab tak bisa mendapatkanmu segera, Amel. Segitu besar 'kah cintamu pada Alex, hingga kamu tak mau bersamaku sekarang?" tanya hati pada diri sendiri saat termenung.
Aku sudah menelan pahitnya kekecewaan yang sangat besar. Siapa yang menduga bahwa lamaran yang sudah tersiapkan dengan matang telah ditolak mentah-mentah begitu saja.
Amel tak seperti gadis kebanyakan, walaupun berasal dari keturunan orang kaya, tapi dia tak pernah sedikitpun untuk sombong apalagi memamerkan hartanya. Diri ini begitu terpesona atas kelembutan dan kebaikan hatinya. Sudah sejak lama aku menaruh hati padanya dalam pertemanan kami, walau kami sering kali dekat dan menghabiskan waktu bersama tak pernah sedikitpun dia tahu bahwa aku telah jatuh cinta padanya. Dengan segala keberanianku tadi malam, diri ini mencoba melamarnya untuk dijadikan istri, tapi betapa malang sekali nasibku ternyata cintanya Alex masih saja terukir indah di hati Amel.
Aku duduk termenung diatap balkon rumah melihat kerlipan bintang-bintang yang sedang memancarkan cahayanya, yaitu di sebalik awan putih yang sedang menutupi sebagian pesona keindahannya. Kepala sekarang penuh dengan pemikiran bagaimana nasib cintaku yang bertepuk sebelah tangan ini, apakah mungkin cintaku padanya itu bisa bersatu atau tidak? Atau malah akan hancur berakhir tiada lagi kisah cinta itu.
"Apakah aku harus menculiknya, dan membawa kabur untuk kunikahi dengan paksa? Ah ... ah ... tidak ... itu tidak mungkin!" Kepala kugeleng-gelengkan dengan kuat.
"Haiiist, kenapa pikiranku sampai sebegitunya memikirkan untuk melakukan itu? Berarti itu sama saja memaksakan kehendak Amel untuk mencintaiku. Tidak mungkin diri ini akan setega itu untuk melakukan padanya. Dan jika semua itu sampai terjadi orang tua pasti akan menanggung malu, akibat pemikiran yang bodoh dan berlatarkan nafsu belaka. Heeeh, apa yang harus kulakukan?" keluh hati yang terus saja bertanya-tanya.
Bayangan masih teringat jelas ketika meminta persetujuan cintanya untuk kujadikan istri, namun apa yang terjadi? Amel terlihat begitu terkejut dan syok, seakan-akan wajahnya tadi malam sudah bisa ketebak bahwa dia pasti akan menolaknya. Atas kemarahan yang tak terkontrol lagi, siapa yang menduga hampir kuluapkan emosi yang sudah memuncak tadi malam dengan memecahkan semua gelas dan piring. Namun kembali aku teringat, bukan salahku maupun salah siapa-siapa bahwa dihati Amel masih ada nama Alex. Aku sungguh memahami semua itu, tapi Alex sudah tiada lagi didunia ini, apakah salahnya diri ini jika mengisi kekosongan hatinya?.
Aku adalah lelaki yang buruk, tak begitu sabarnya untuk menunggu, yaitu untuk terbukanya hati Amel untukku.
"Heeh, sebaiknya apakah aku harus meminta maaf padanya atas kesalahanku tadi malam? Aku bisa menerima semuanya dengan sabar, tapi ada kalanya kesabaran itu ada batasnya dan sampai kapan harus bertahan terus menunggu semuanya. Sabar ... sabar Iwan," ucapku dalam hati mencoba menguatkan diri sendiri.
Sabar dari menahan diri yang kita inginkan, apakah diri ini akan mampu untuk menjalaninya, yaitu untuk tetap terus bertahan? Aku tidak ingin meratapi kegagalan dalam mendapatkan cintanya, tugasku hanya memperbaiki kesalahan yang telah kasar terhadapnya tadi malam, biar sudah gagal seratus kali mendapatkan Amel, maka aku akan mencari cara lebih dari seribu kali untuk dapatkan cinta itu.
__ADS_1
Sekarang hanya bisa berlapang dada dan harus tegar saat dapat penolakan darinya, mungkin aku terlalu percaya diri atas lamanya Amel ditinggal Alex, sehingga dengan kebodohan yang kupunya sudah berani melamar dengan paksa kepada teman sendiri.
Seburat sebuah kekecewaan masih terasa sekali rasanya begitu sakit.
Seakan-akan aku adalah laki-laki yang tak pantas untuk memilikinya.
Mungkin pantasnya aku hanyalah menjadi pengagum rahasia cintanya.
Dulu aku hanya bisa tersenyum-senyum saat dia berada didekatku.
Rasanya ingin sekali mengungkapkan cintaku padanya, sejak awal-awal lagi.
Tapi pada kenyataannya, diri ini sudah kalah cepat dengan Alex yang sudah jadian duluan dengan Amel.
"Pelet apa yang kamu pakai untukku, Amel? Hingga aku tak bisa jauh darimu?" runtukku dalam hati sedang merasa ada kegusaran.
"Ada apa Iwan? Kelihatannya mama perhatiin kamu melamun terus dari tadi?" tanya mama yang sudah menghampiriku.
"Eh, mama. Gak ada apa-apa kok!" jawabku santai.
__ADS_1
"Beneran nih? Mama tahu kamu lagi ada masalah," tebak ucap beliau.
"Heeeeh, iya ma. Iwan ada sedikit masalah!" jawabku menghembuskan nafas panjang.
"Gimana lamarannya? Apakah berhasil?" imbuh tanya beliau.
"Itulah yang menjadi masalahku sekarang, ma. Sebab Amel menolaknya begitu saja!" sahutku lesu.
"Kamu harus banyak-banyak bersabar dan tetap berjuang untuk bisa mendapatkannya!" ucapan mama memberikan semangat.
"Tapi rasanya semua itu begitu terasa sulit sekali dan mustahil. Dihati dan pikiran Amel terus saja hanya ada kekasih lamanya yaitu Alex," ujarku berkeluh kesah.
"Mama tahu, Iwan. Mungkin diapun akan kesulitan juga dan tidak mudah akan melupakan semua kenangan-kenangan bersama kekasih lamanya. Tapi dia itu sudah meninggal 'kan? Pelan-pelan saja. Amel sepertinya harus butuh waktu untuk semua itu, jadi kamu harus terus sabar. Perlahan tapi pasti tetaplah untuk dekati dia. jika dia mulai melupakan, ketuklah pintu hatinya yang sempat membeku hanya satu cinta masa lalu, maka kamu nanti akan mudah bisa menguasainya. Mama akan mendukungmu, jadi jangan pantang menyerah. Wanita memanglah sulit untuk melupakan orang yang sudah terpatri dihatinya, tapi jika luka itu sudah sembuh maka semua itu akan mudah sesuai jalannya," panjang lebar nasehat mamadengan menepuk-nepuk perlahan pundakku.
"Benar juga. Terima kasih, ma. Iwan akan terus berjuang mendapatkan Amel sampai hatinya benar-benar luluh agar mau menerimaku," ucap semangatku sudah kembali pulih.
"Bagus, nak. Inilah anak mama yang tak pernah menyerah untuk mendapatkan pujaan hati," imbuh tutur lembut beliau.
Hanya senyuman manis yang diberikan mamaku, atas semangatku yang sudah mulai kembali pulih berapi-api lagi yaitu akibat nasehat beliau.
__ADS_1
"Betul kata mama, aku tak boleh pantang menyerah, hatinya masih terkunci atas nama Alex, mungkin jika aku masih bersikap baik dan selalu disisinya, pasti lama-kelamaan dia akan luluh juga atas perjuanganku. Ya benar, kamu harus banyak bersabar lagi untuk bisa mendapatkanmu Amel!" guman hati yang masih tetap ingin berjuang mendapatkan pujaan hati.
"Tunggu saja Amel, pasti kamu akan takluk dan tunduk kepadaku, atas rasa cintamu yang masih tertutup sekarang ini. Pasti kamu akan merasakan bahagia bila bersamaku nanti, seperti kebahagiaan yang pernah kau jalani bersama Alex dulu!" Semoga saja kamu bisa kudapatkan dengan mudah setelah ini," janjiku meyakini diri sendiri.