
Kota yang tak pernah kupijakki, sekarang telah kudatangi untuk mencari sesuap nasi dikota baru ini. Lelah memang rasanya atas pekerjaan yang tak pernah terlakoni, tapi diri harus tetap bersyukur terus akibat diberi kekuatan untuk menjalani ini semua.
Aku dan Niko kini mengerjakan proyek pembangunan sekolah SMP di kota Semarang. Bulan berganti bulanpun sudah berlalu hingga tak terasa sudah dua tahun lamanya aku tengah bergelut dengan dunia pekerjaan bangunan. Walau gaji tak seberapa besarnya, tapi cukup untuk menyambung hidupku yang sendirian sekarang. Di saat bekerja wajahku terus saja kututup memakai masker, biar teman-teman kerja dan orang lain tidak takut dan jijik saat melihat wajahku.
"Alex, kita hari ini naik bis saja berangkat kerjanya, soalnya motorku lagi ngambek sedang mogok!" ujar Niko memberitahu.
Niko tiap hari harus menjemputku di rumah penampungan, khusus untuk anak buah yang bekerja padanya. Karena aku anak buah dan dia mandor jadi kami terpisah tidur. Niko telah tidur bersama bos dan mandor-mandor lainnya, sedangkan aku bersama teman sesama pekerja.
"Ok! Yang penting kita ngak terlambat saja nanti sampai ke sana," balasan ucapku.
Niko seorang mandor tak kenal lelah dan baik hati di tempatku bekerja, yang selalu saja tak pernah sungkan dan bersantai seperti mandor lainnya. Dia tetap tekun ikut dalam bekerja bersama-sama anak buahnya.
Setelah sarapan dari rumah, kami sudah menaiki bis dengan jurusan menuju tempat proyek yang sedang kami kerjakan. Bis terasa sesak saling berdesakan penuh sekali, mungkin para penumpang banyak pelajar yang ingin berangkat sekolah dan para pekerja yang ingin berangkat kerja.
"Apa yang dia lakukan? Apa dia seorang pencopet?" guman hati yang menerka-nerka.
Tatapanku sekarang tertuju pada orang yang berbaju serba warna hitam, nampak dari gerak-geriknya begitu mencurigakan. Terlihat tangannya begitu menempel-nempel pada tas gadis yang sedang memakai masker juga sepertiku. Tak berselang lama pria itu telah merogoh tas wanita itu, yang sepertinya sudah mengambil sesuatu. Aku yang melihatnya tak bisa hanya diam membiarkan itu begitu saja.
"Hey kamu, pencuri tunggu ... tunggu!" teriakku memergokki.
Wajah pria itu terkejut, karena aku telah memergokkinya dan sekarang dia mencoba berlari turun, saat bis berhenti ingin menaikkan penumpang.
"Berhenti ... berhenti," teriakku pada sang sopir bus.
Bhuk ... bhuk, tanganku mengebrak badan bis supaya menghentikan lajunya, agar diri ini bisa secepatnya mengejar pencuri itu.
"Alex, jangan!" teriak Niko memanggil.
Aku yang tengah ingin menangkap pencuri, tidak serta merta mendengarkan panggilan Niko. Kutinggalkan Niko begitu saja dan aku tetap terus turun dari bis.
"Hei kamu, tunggu ... tunggu!" teriakku memanggil dengan terus berlari mengejarnya.
Kini banyak sekali orang-orang yang tengah melakukan aktifitas lari dan berjalan di
pagi hari. Aku yang sibuk mengejar pencuri, tak sengaja harus bertubrukan terus dengan orang-orang yang melakukan aktifitas itu tengah berlainan arah denganku.
"Aaah, sial. Dia bisa berlari semakin jauh!" Kekesalanku.
"Hei kamu pencuri, berhenti ... berhenti!" panggilku supaya pencuri itu tak berlari kabur.
Tapi panggilanku tak diendahkannya sama sekali. Karena kesal akibatnya, langkah mencoba berlari untuk kuperbesar-besar, agar bisa cepat untuk mencegat dan mencekalnya. Tangan berusaha mengapai pundak pencuri. Setelah dengan usaha yang keras, akhirnya aku dapat menghentikannya. Tapi dengan cekatan pencuri itu berhasil membalikkan badannya, berusaha untuk memukulku secara tiba-tiba, yang untung saja aku dengan cekatan juga dapat menghindarinya, yaitu dengan cara menarik tubuh ke belakang seperti sedang olahraga khayang. Setelah badan bisa kutegakkan lagi, tangan sudah mengepal kuat dan berusaha menghantamkan diwajah pencuri. Sehingga tonjokkanku akhirnya tepat mengenai hidungnya, serta tak lupa kaki segera kuayun untuk menendangnya.
__ADS_1
"Aaah ... aaaaa," teriak pencuri kesakitan.
Badan pencuri terkapar di aspal jalan dan sekarang tangannya sudah memegang hidungnya, yang ternyata sudah mengeluarkan darah.
"Kamu? Dasar kurang ajar," geram suaranya.
Pencuri berusaha mengajak berkelahi lagi, tapi kakiku yang kuat lebih sigap dengan cepatnya kuayunkan untuk menendang. Lagi-lagi saat dia mulai berjalan maju ingin memukulku, dengan tangkas kulayangkan bogeman untuk kedua kalinya hingga dia tersungkur jatuh ke aspal lagi.
"Dasar kamu, awas!" ancamnya marah.
Karena kalah kini dia sudah lari terbirit-birit ketakutan. Ilmu bela diri yang kudapatkan dari pak Ahmad ternyata ada manfaatnya juga, bisa untuk membantu orang lain. Ternyata begitu mudahnya aku mengalahkan pencuri itu, tanpa banyak tenaga yang habis saat melawannya atas semua ilmu bela diri yang kukuasai.
"Hhhh ... heeeeh," suara nafas wanita yang dicuri ngos-ngosan akibat kehabisan nafas.
Ternyata wanita itu telah mengyusulku cepat. Sekarang terlihat sekali dia begitu kecapean, mungkin akibat ikut berlari kencang untuk mengejar.
"Terima kasih ... terima kasih. Untung kamu telah menolongku cepat, sebab didalam dompet itu ada barang-barang yang penting bagiku," ucapnya sambil membuka masker.
Betapa terkejutnya diri ini, wanita dihadapanku sekarang adalah wanita yang kukenal dan selama ini telah kucari kemana-mana yaitu Amel.
"Aah, apakah ini kamu beneran, Amel? Kamu sekarang begitu cantik sekali. Kulitmu yang putih masih saja memesonakan betapa aura kharismanya keelokan wajahmu terpancar indah," gumanku dalam hati.
Seketika tubuhku terasa lemas gemetaran.
Aku begitu tertegun dan terkesima, saat- saat tangannya perlahan-lahan menyibakkan rambut.
Lamat-lamat mataku tak berkedip sama sekali, yang sedang memperhatikan pemandangan yang aduhai betapa indahnya didepanku sekarang ini.
Ingin sekali aku memeluknya, tapi niat itu segera kuurungkan, teringat atas wajahku yang seperti monster hantu sehingga nanti bisa membuatnya takut.
"Mas ... mas, permisi?" panggilnya pelan sebab aku tengah melamun.
"Oh, iya ... iya," jawabku kaget.
"Terima kasih yang telah menolongku," imbuh ucapnya lagi.
"Hei, Lex? Hhh ... heeeh," panggil Niko tiba-tiba datang juga tengah merasa kelelahan.
Belum sempat kujawab atas perkataan Amel, Niko sudah memotong pembicaraan kami yang sedang ikut menyusulku juga.
"Niko? Ini beneran kamu, Niko 'kan?" Suara Amel kaget.
__ADS_1
"Amel, kamu?" balik kekagetan Niko pulak.
"Ya ... yah, ini aku Amel. Masih ingat 'kan?" tanya Amel.
"Yang pastinya iya dong!" jawab Niko.
"Kamu panggil siapa temanmu tadi? Lex?" Kecurigaan Amel pada Niko.
Tanganku mencoba mencubit perut Niko, yang berada tepat disampingku supaya dia tak menjawab kebenaran atas diriku yang harus tetap menajaga rahasia.
"Oh ... eh, dia temanku Lexi namanya," kebohongan jawaban Niko dengan mengaruk-garuk kepala yang tak gatal.
"Oh."
"Kamu kok ada di kota ini?" imbuh tanya Amel.
"Aku sedang mengerjakan proyek pembangunan disini!" jawab Niko jujur.
"Ooh, berarti akan lama disini," imbuh ucap Amel
"Yang pastinya begitu. Bagaimana kabar kamu dan ibu Alex sekarang? kudengar-dengar kalian kabur dari rumah? Memang ada apa, sih?" tanya Niko yang kini berusaha menginterogasi Amel.
"Alhamdulillah, aku baik-baik saja bersama ibu Alex. Ngak ada apa-apa kok! Cuma mau suasana baru saja, agar bisa melupakan semua kenangan indah maupun pahit di kota kelahiranku itu," Penjelasan Amel yang nampak masuk akal.
"Alhamdulillah kalau kalian sehat dan baik-baik saja. Oh, begitu ceritanya," ujar Niko.
"Minta nomor telephone kamu dong, Amel! Siapa tahu nanti ada kepentingan serta ada perlu sama kamu!" Permintaan Niko.
"Baiklah, catat ini!" ujarnya dengan menyebut nomor gawainya satu-persatu pada Niko.
Aku hanya diam terpaku sambil menatap percakapan mereka berdua. Diriku tak ingin Amel mendengar nada suaraku lebih dari tadi sebelum Niko datang, sebab takutnya nanti dia akan lebih curiga siapa diriku yang sebenarnya atas mengenali lewat suara.
"Ayo, Niko!" Sedikit suaraku mengajak.
"Iya sebentar ... sebentar," jawaban Niko padaku.
"Kami pergi dulu, Amel. Bye...bye, Amel. Nanti aku akan menghubungi kamu!" teriak suara Niko berjalan bersamaku yang mulai menjauh dari Amel.
"Bye ... bye juga. Hati-hati!" balik ucap Amel.
Tangan Amel sudah melambai-lambai pelan ke arah kami.
__ADS_1
Rasa tak tahan atas percakapan mereka yang labih dari itu, dengan terpaksa diri ini harus menarik tangan Niko dengan mendadak. Ketakutan atas ketahuannya siapakah diriku yang sebenarnya begitu membucah, dengan wajah masih bertahan memakai masker. Diri ini tak ingin Amel buru-buru mengetahui kebenarannya, sebab aku belum siap atas semuanya. Jadi rahasiaku yang masih hidup harus tertutup rapat-rapat dulu pada Amel, sebab tak ingin ada rasa takutnya dia padaku atas wajah yang rusak.