Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Khawatir Menunggu Jalannya Operasi. Season 2


__ADS_3

Paman dan bibi yang sempat diluar kota, kini sudah kembali dan langsung datang untuk melihat keadaan Alena. Ruang operasi masih menyala merah. Sekian menit berjalan, tetap tak ada tanda-tanda kalau jalannya pembedahan telah selesai.


Operasi biopsi untuk menentukan stadium kanker kelenjar getah bening terbagi menjadi berbagai jenis, namun yang paling sering dilakukan adalah biopsi eksisi dan insisi.


Pada biopsi eksisi, dokter akan mengambil seluruh bagian kelenjar getah bening yang terdampak sel kanker. Operasi dilakukan dengan membersihkan area yang akan dibedah terlebih dahulu, kemudian dokter bedah akan mengangkat kelenjar getah bening untuk diperiksa di laboratorium.


Kanker kelenjar getah bening atau limfoma adalah jenis kanker darah yang bermula di sistem limfatik. Adapun sistem limfatik tersebar di seluruh tubuh yang meliputi kelenjar getah bening, limpa, timus, sumsum tulang, dan lainnya, yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh.


Dari satu jaringan sistem limfatik, sel kanker limfoma bisa menyebar ke area lain atau bahkan organ lain dari tubuh. Seberapa parah penyebaran tersebut digambarkan melalui stadium.


Bangku memanjang selalu ada isi. Suami istri itu saling berpelukan. Dari tadi aku hanya duduk khawatir dengan *******-***** jari saja. Bik Amel duduk berjauhan dari posisi kami, dengan kepala mendongak dan bersandar ditembok. Matanya terpejam seperti sedang tidur. Kelihatannya dia cukup lelah hari ini.


"Maafkan aku, Bik. Sudah membuat kamu repot dan terlibat dengan masalah ini," guman hati menatap ke arahnya penuh penyesalan.


Ingin rasanya mendekati pembantu itu, namun ada paman dan bibi yang sedang ada disini dan terus mengawasi, takut-takut masalah akan semakin runyam jika bertindak gegabah lagi.


Perut telah keroncongan. Ingin menelan nasi sebutir saja, rasanya kok malas banget. Pikiran begitu kalut. Sekedar minum saja enggan, apalagi sampai santai ingin makan.


"Ya Allah, selamatkanlah kekasihku itu. Maafkan aku, Alena. Semua ini gara-gara diriku. Ego ini terlalu kuat, sampai lupa bahwa ada dirimu yang harus kuperhatikan dan jaga."


"Ayo bangunlah. Aku disini menunggu kamu dengan penuh kecemasan. Kalau kau melihatku sekarang, pasti tidak akan tega 'kan? Jadi sekarang bangkitlah dan buka matamu. Aku janji mulai sekarang akan selalu membahagiakan kamu," Kesedihan dalam hati terus berlanjut.

__ADS_1


Kepala yang sebenarnya bobot tidak terlalu berat, kini telah kusangga dengan satu tangan, akibat tak tahan lagi sama isinya yang terlalu kusut ketika sedang berpikiran akut.


"Kenapa bisa lama sekali jalannya operasi ya, Arnald?" Paman Alena bertanya dengan mendekati dan langsung duduk disampingku.


"Aku juga tidak tahu, Om."


"Ya sudah, kita doakan saja semoga tetap berjalan lancar dan Alena akan baik-baik saja."


Tangan lebar beliau menepuk pelan bahu. Posisi yang sedikit menunduk, kini kembali tegak dengan rasa sopan menghormati beliau yang sepertinya ingin mengajak ngobrol.


"Iya, Om. Pasti itu."


"Kamu baik-baik saja, 'kan."


"Aku disini sebagai penganti orangtua dia yang menjaga. Mengucapkan terima aksih kepadamu, sebab selama ini sudah menjaga Alena dengan baik."


"Iya, Om. Sama-sama."


"Anak itu terlalu dimanja ketika kecil sama orangtuanya, maka dari itu apa yang menjadi milik atau keinginan harus selalu terpenuhi. Kalau sampai tidak, selalu saja uring-uringan tidak jelas. Kadang suka sebal juga sama sifatnya yang terus emosi, tapi kami cukup memahami itu. Kami hanya ingin kamu banyak-banyak bersabar menghadapi sifatnya itu," pinta beliau.


"Iya, Om. Maafkan aku jika selama ini tidak bisa menjaga dan memperlakukan Alena dengan baik."

__ADS_1


"Jangan berkata begitu. Malah kami mengucapkan banyak-banyak terima kasih, sebab sudah menjaganya dengan baik. Dari pihak keluarga, kami hanya bisa mengatakan maaf sudah merepotkan kamu terus." Wajah kesedihan tidak bisa disembunyikan. Senyuman yang beliau lontarkan kelihatan dipaksa.


"Iya, Om. Aku baik-baik saja dengan itu."


"Ok, tetap terima kasih. Kemungkinan pihak keluarga Alena akan datang secepatnya kesini. Ada beberapa urusan yang mengharuskan mereka terlambat datang."


"Iya, Om. Semoga mereka segera datang, sebab Alena butuh mereka."


"Iya, Arnald. Kamu yang tenang. Yakinlah kalau Alena anak kuat dan akan baik-baik saja keadaannya. Jangan memasang muka sedih begitu, ok."


"Baik, Om."


"Sekarang makanlah. Pasti dari tadi perut kamu kosong, belum terisi sama sekali 'kan?" suruh beliau sudah menepuk pelan pundakku.


"Nanti saja, Om. Perut masih kenyang. Lagian aku ingin menunggu dokter keluar dulu, baru aku bisa tenang nantii makan."


"Ya sudah, tidak apa-apa. Om, sangat memahami itu. Tapi nanti jangan biarkan perut itu kosong, sebab Alena juga akan khawatir jika kamu nanti sampai jatuh sakit."


"Iya, Om. Pasti akan aku lakukan, tapi nanti saja kalau keadaan sudah baik."


"I'ts Ok."

__ADS_1


Walau tidak ada silsilah garis keturunan. Sikap keluarga Alena sangat baik, bahkan aku seperti sudah dianggap sebagai anak sendiri. Memang pada kenyataan aku ini adalah tunagannya, tapi tidak serta merta memanfaatkan keadaan untuk bermanja ataupun mencari simpati pada mereka.


Kekhawatiran terus berjalan. Cukup lama juga jalannya operasi. Sampai duduk menunggupun terasa panas diarea bawah pingggang. Bosan yang menghampiri, saat tak kujung juga mendapatkan kabar yang memuaskan hati yang gelisah.


__ADS_2