Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Kesal pada teman sendiri


__ADS_3

Rasa tak suka sering betul menyelimuti diri ini, akibat Amel yang sikapnya selalu dekat-dekat dan selalu saja mengedepankan teman baikku Alex. Tapi aku tidak pernah secara gamblang, menunjukkan ketidaksukaanku pada mereka. Hanya dalam diamlah aku bisa menyimpannya, yaitu sebuah kecemburuan yang sudah bertumpuknya oleh amarah yang tertahan.


"Iwan, gimana kabar kamu dan orang tua sekarang, apa mereka baik-baik saja?" tanya kedua orang tua Amel.


"Mereka alhamdulillah baik-baik dan sehat-sehat saja om, tante!" jawabku pada mereka.


"Gimana Amel di sekolah? Bilang saja sama tante kalau Amel ada nakal dan ngerepotin kamu, sebab tahu sendiriklah anak tante Amel orangnya sangat manja," cakap mama Amel.


"Eeh ... ngak kok tante, Amel ngak pernah ngrepotin Iwan, malahan si Alex 'tuh yang sudah kewalahan karena sering direpotin Amel," jawaku jujur.


"Masak sih Wan. Oh ... ya Iwan, kalau bisa kamu itu lebih agresif lagi untuk deketin Amel, dong! Dan kalau bisa jauhkan Alex dari Amel. Tante benar-benar gak suka jika Alex yang dekat-dekat. Tahu sendirilah dia itukan anak babu, tak sepatutnya bergaul sama anak tante." ujar mama Amel memberitahu mencoba mencuci otakku.


"Mama!" pekik papa Amel seperti sedang tersulut marah.


"Papa apaan sich, mama cuma minta tolong sama Iwan saja," jawab ketus mama Amel.


"Maafkan istri om ya ... Iwan. Mulut mama Amel ini memang dari dulu sukanya selalu ceplas-ceplos. Kamu ngak usah mendengarkan ucapan tante, ya!" tegur papa Amel padaku.


"Oh ... ngak pa-pa kok, om."


"Papa selalu saja belain Alex. Apa ngak sadar kalau dia itu cuma anak pembantu," perkataan mama Amel yang masih mencoba menghina status Alex.


"MAMA, bisa diam gak sih! Malu terdengar sama teman-teman Amel, mereka datang ke acara ulang tahun Amel untuk merayakannya, bukannya mau mendegarkan ceramah ocehan kamu," suara nada papa Amel yang terasa sudah kesal.


"Iya ... iya, pa! Maaf," jawab ketus mama Amel.


"Maafkan tante ya Iwan, atas ucapan yang barusan tadi."


"Gak pa-pa kok tante," jawabku melemparkan senyuman.


Hati terasa panas dan dada mulai merasa sakit yang luar biasa, dimana sekarang dapat terlihat olehku Amel sedang tertawa riang secara lepas bersama Alex sekarang.


Lagi dan lagi aku merasa cemburu, yang seakan-akan rasa hati sudah tersulut api tak suka. Padahal selama ini sebelum-belumnya aku tidak pernah terlalu cemburu seperti ini terhadap Alex. Malahan aku selalu mempersilahkan dan berusaha mendamaikan mereka, jika ada kesalahpahaman yang membuat Amel marah kepada Alex, tapi sekarang sungguh aku merasakan sesuatu yang berbeda, merasa tidak senang dan nyaman atas kedekatan mereka, mungkin karena Amel sudah terlalu begitu jauh melupakan dan menyisihkanku, yang mana dipikirannya selalu saja cuma ada Alex seorang.


Cemburu tanda cinta dan sayang, begitulah orang sering berkata. Sudah beberapa kali mencoba menghindari dan melupakan cintaku pada Amel, tapi lama-kelamaan itu adalah sesuatu yang sulit kulakukan. Sekeras apapun kumencoba menghindari, tetaplah diri ini selalu saja tak bisa. Walau dia lebih mementingkan Alex, disebalik sikap Amel yang cuek dia asih saja selalu mencemaskan keadaanku, jika aku tak berada di sampingnya, sehingga membuat diri terlalu susah untuk segera menjauhinya.


Aku tahu perasaan ini salah yaitu mencintai Amel, tetapi orang yang kita cintai ternyata terlebih dahulu mencintai orang lain.

__ADS_1


Ternyata jatuh cinta itu begitu sulit dan rumit, dan tak semudah yang dibayangkan, yang mana seharusnya ada kenyamanan hati di antara dua orang yang sama-sama saling mencintai.


"Aah ... Amel, engkau adalah wanita satu-satunya yang ternyaman bagiku," gumanku dalam hati berbicara, dengan memengangi cangkir tetap menatap tawa mesra mereka.


Cemburu salah satu rasa yang merupakan sering beriringan dengan munculnya rasa cinta.


Tetapi cemburu dan cinta itu adakalanya sesuatu yang sangat sederhana, tapi tak jarang sama-sama terbentang rumitnya, jika bersama-sama saling datang melanda.


Jika seseorang tak bijak menyikapinya, cemburu bisa menjelma menjadi api, yang bisa menghanguskan diri sendiri.


Tapi terkadang cemburu juga bisa menjadi belati, yang justru bisa menikam dan melukai diri sendiri serta banyak orang.


Kata-kata dalam kecemburuan, apabila tak bisa menahannya, mungkin bisa saja menjadikan sebuah pertengkaran, yang biasanya dapat menghancurkan sebuah hubungan seseorang.


Maka dari itu aku tak mau terbakar api cemburu yang terlalu dalam, karena bisa merusak keabadian pertemanan kami bertiga.


Bagiku pertemanan adalah yang utama dan segalanya, kerena mereka berdua adalah teman terbaik, special dan yang terpenting teman seperjuangan ketika kami masih kecil dulu.


Bahagiaku cukup sederhana sekali, melihat orang yang kucinta bahagia, akupun akan ikut merasa bahagia. Walaupun ada cemburu kebahagiaannya, yang hanya dapat tercurah kepada orang lain, melihat senyumnya yang sumringah bahagia, sudah cukup bagiku ikut merasakan kebahagiaannya.


"Hey bro, lagi ngapain disini? Ngelamun saja kuperhatikan dari tadi?" panggil Alex mengejutkanku, dimana aku tengah meneguk minuman kaleng di balkon atap sekolah, sedang memandang jalanan yang ramai belalu lalangnya kendaraan.


"Eh ... ternyata kamu Alex! Lagi ngak ngapa-ngapain sih, cuma lihat pemandangan saja," penjelasanku.


"Tumben kamu lagi gak sama Amel. Dimana dia?" tanyaku basa-basi pada Alex.


Mulut berbicara dengan tangan sedang sibuk melempar minuman kaleng padanya.


"Dia lagi sibuk main sama teman-teman yang lain," jawab Alex.


"Ternyata asyik juga jadi kamu, Amel bisa setiap hari nempel seperti perangko kepadamu, lengket terus seperti ngak mau terpisahkan," ucapku yang berusaha menyinggung Alex.


"Maksud kamu?."


"Alah ... gak usah pura-pura Alex. Kamu sebenarnya suka sama Amel 'kan?" tanyaku secara gamblang.


"Entahlan Iwan. Status kami yang terpaut sangat jauh berbeda akan menjadi penghalang besar untukku mendapatkannya," ujar Alex.

__ADS_1


"Wah ... wah, ternyata kamu sadar diri juga Alex. Berarti peluangku untuk mendapatkan Amel akan terbuka lebar." gumanku dalam hati, tanpa Alex mendengarnya.


"Status bukan penghalang, jangan patah semangat gitu dong, bro!" ucapku serius berpura-pura memberi dukungan.


Sebenarnya dalam hatiku bertolak belakang berbicara, yaitu menginginkan supaya Alex tak bisa mendapatkan cinta Amel selamanya.


"Aku tahu itu Iwan. Tapi untukku itu cukup mustahil sekali untuk mendapatkan cinta Amel," ucap patah semangat Alex.


"Oh ya, aku juga merasakan kamu ada benih-benih cinta pada Amira, betulkan?" tanya Alex yang membuatku cukup terbelalak tak percaya atas pertanyaannya.


"Uhuuk ... uhuuuk," Suaraku tersedak minuman.


"He ... he ... he," tawaku cengegesan saja, sebab tak tahu harus menjawab apa.


"Iya sih, sebenarnya aku mencintai Amel, tapi 'kan seoertinya cinta Amel hanya untukmu, Alex!."


"Entahlah Iwan, pusing rasanya memikirkan itu. Tapi untuk sementara ini aku sadar diri atas semua batasanku. Dan aku ada pesan untukmu juga. Jika suatu saat Amel tak bisa bersamaku, kamu adalah orang yang pertama kali kumintai tolong untuk menjaga Amel dengan baik segenap jiwa dan ragamu. Dan jangan pernah sekali-kali mencoba menyakitinya, cintailah dia dan perlakukan dengan baik," ucap pesan Alex dengan matanya melihat kosong ke arah jalanan.


"Kok omongan kamu aneh betul? Seperti mau pergi jauh saja!" keanehanku bertanya.


Perasaanku merasa gelisah, dan aneh atas ucapan Alex yang rasa-rasanya ada sebuah pesan tersirat hanya untukku.


"Gak ada apa-apa Iwan, cuma itu sendainya saja," uiar imbuh perkataan Alex.


"Ohhh ... ooh," jawabku singkat dimana hati mulai gelisah, sebab tak percaya dan masih binggung atas semua pesan Alex.


"Baiklah Alex. Aku akan tetap menjaga Amel dengan baik," perkataanku sekali lagi, dengan mulut masih berusaha meneguk minuman kaleng.


Kami sama-sama terdiam sejenak, melihat pemandangan jalan raya yang ternyata semakin ramai. Kami sama-sama menatap pemandangan di bawah dengan sibuknya jalan pikiran kami masing-masing.


Begitulah Alex. Sikapnya yang baik hati dan dewasa, selalu saja banyak orang yang mengandrungi untuk tak menyayanginya termasuk dengan diriku ini. Walau dia hanya anak dari seorang pembantu, atas segala keramahannya dan kebaikannya membuatku rasanya tak ingin dan tak begitu tega menghancurkan sebuah pertemanan, hanya gara-gara sebuah wanita saja.


Aku terkadang heran dengan sikap Alex. Dia itu penyayang dan lemah lembut, baik, serta tak pernah mengeluarkan amarah pada siapapun.


Jika ada sesuatu kesalahan padaku, sebab mengerjakan tugas sekolah, dengan suaranya yang lembut penuh kesabaran, dia selalu memberi cara mengerjakan dan dengan halusnya mencoba menerangkan. Dan kadang sedikit pula Alex tak menghakimi untuk memarahiku, atas segala kesalahan-kesalahan tugas sekolah yang bodoh tak bisa mengerjakan sendiri.


"Kamu memang adalah teman terbaikku Alex Prasojo," guman hati.

__ADS_1


__ADS_2